<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275</id><updated>2011-08-08T06:14:24.205-07:00</updated><category term='SMK Islam Terpadu'/><category term='islam'/><category term='persis'/><category term='Komputer'/><category term='khutbah'/><category term='artikel'/><category term='siksa kubur'/><category term='fiqih'/><category term='palestina'/><category term='cinta'/><category term='fiqh ibadah shalat shaum zakat haji'/><category term='youtube'/><category term='artikel fiqih ibadah shaum shalat haji'/><category term='KADO PERNIKAHAN'/><category term='qultummedia mujahidpress gramedia buku gratis'/><category term='fiqih ibadah shalat zakat shaum haji'/><category term='ijtihad'/><category term='masjid al-Aqsha'/><category term='Pesantren'/><category term='gratis liputan6'/><category term='Jerussalem'/><category term='shalat gerhana matahari'/><category term='mahabbah'/><category term='muhammadiyah'/><category term='ASHIFCOM'/><category term='fiqih ibadah shalat zakat shaum haji mui depag'/><title type='text'>artikel subhan nurdin</title><subtitle type='html'>TANYA JAWAB MASALAH ISLAM e-mail: subhannurdin@yahoo.com
kontra-fatwa;ied-pada-hari-jumat;shalat-jumat-bagi-musafir;nifas-lebih-dari-40-hari;shalat-dalam-hadits-shahih;laisal-iman-bittamanni-qaul-tabiin.jin-kerasukan.shalat-gerhana-bulan-adakah.shalat-qoshor.shaum-arofah.shalat-rawatib-di-masjid. SELENGKAPNYA LIHAT ARSIP ARTIKEL - update sepekan LIHAT DI FACEBOOK; CATATAN SUBHAN NURDIN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-1114076122985954808</id><published>2011-01-26T22:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-26T22:43:50.401-08:00</updated><title type='text'>LA ILAHA ILLALLOH Kunci Surga yang Bergerigi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/TUET7oWG9AI/AAAAAAAAAHM/q9Dd5Ql9VAs/s1600/500X361.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/TUET7oWG9AI/AAAAAAAAAHM/q9Dd5Ql9VAs/s320/500X361.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566752529570001922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LA ILAHA ILLALLOH Kunci Surga yang Bergerigi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada ketakutan terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Ahqaf:13-14)&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaaha illalloh, kalimat pendek yang mudah diucapkan walau dengan satu nafas. &lt;br /&gt;Setiap orang bisa dengan mudah melafalkannya. Namun ternyata Kalimat tauhid ini menjadi sebab bahagia dan tidaknya seorang hamba. Ia gampang diucapkan tapi bernilai sangat besar. &lt;br /&gt;Rasulullah SAW menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang di akhir ucapannya Laa ilaaha illalloh, maka pasti ia masuk surga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa ilaaha illalloh adalah kunci surga. Setiap orang mungkin memiliki kunci. Tapi tidak setiap kunci bisa membuka sembarang tempat. Kunci pintu rumah kita beraneka ragam, dan hanya kunci pintu yang tepatlah yang dapat membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, setiap kunci itu memiliki gerigi. Hanya susunan gerigi yang benarlah yang akan mampu membuka kunci pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari membuat satu bab dengan judul : "Barangsiapa yang di akhir ucapannya Laa ilaaha illalloh..., Kemudian ditanyakan kepada Wahab Bin Munabbih, "Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga." Ia menjawab : "Benar, tetapi setiap kunci memiliki gerigi, jika engkau menggunakan kunci yang bergerigi itu maka akan terbukalah bagimu, namun jika tidak, ia tidak akan terbuka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerigi kunci surga yang tepat akan menentukan terbukanya pintu surga.&lt;br /&gt;Gerigi kunci surga itu menjadi syarat diterimanya Kalimat tauhid seseorang. Maka tidak setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh itu mampu membuka pintu surga dan memasukinya. Hal ini ditentukan oleh tepat tidaknya gerigi kunci yang ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Surga itu memiliki delapan Gerigi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Meyakini isi dan kandungan Laa ilaaha illaloh, baik yang menafikan (menolak sesuatu yang tidak layak di hadapan Allah) maupun menetapkan (itsbat) yaitu menerima sesuatu yang wajib bagi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Yakin dengan seyakin-yakinnya sehingga tiada sedikitpun keraguan, bahwa memang benar Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan : "Kalimat Asyhadu allaa ilaaha illalloh Wa inni Rasulullah, yang diucapkan seorang hamba dengan yakin tanpa keraguan, pastilah ia masuk surga." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Menerima sepenuh hati konsekuensi dari kalimat tersebut dengan hati dan lisannya, sebagaimana pelajaran dari hamba-hamba Allah dahulu ketika mereka memperjuangkan kalimah tauhid tersebut, tidak sedikit yang menerima siksaan dari orang yang menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Tunduk dan patuh kepada tuntutan kalimat tersebut dan menentang keras segala yang menyimpang darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Membenarkan dan tidak mendustakannya sedikitpun bahwa kalimat tauhid menjadi landasan berpikir dan bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, Mencintai kalimat Laa ilaaha illalloh dengan segala tuntutannya serta mencintai orang-orang yang berjuang mengamalkan dan membelanya. Membenci apapun yang merusaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, Hendaknya menolak thaghut yaitu segala macam yang disembah dan diagungkan selain Allah. Mengimani bahwa hanya Allah-lah Tuhan Pemelihara seluruh alam.&lt;br /&gt;Pantas saja krisis multidimensi terjadi di wilayah yang mayoritas muslim pengucap Laa ilaaha illalloh, karena ternyata Kunci surganya tidak bergerigi atau geriginya mulai berkarat.&lt;br /&gt;Allah memperingatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl:112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya kita mulai mempersiapkan kunci yang benar dari kalimat Laa ilaaha illalloh yang selama ini hanya menjadi penghias bibir belaka, sehingga dapat berfungsi kelak disaat tidak ada seorangpun yang menemani dan menolong kita. Hanya pemilik kunci yang tepat yang akan mampu membukanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;http://www.youtube.com/watch?v=2l4X95pJAZ0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-1114076122985954808?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/1114076122985954808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2011/01/la-ilaha-illalloh-kunci-surga-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/1114076122985954808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/1114076122985954808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2011/01/la-ilaha-illalloh-kunci-surga-yang.html' title='LA ILAHA ILLALLOH Kunci Surga yang Bergerigi'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/TUET7oWG9AI/AAAAAAAAAHM/q9Dd5Ql9VAs/s72-c/500X361.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-8030075939602290330</id><published>2011-01-24T20:51:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T23:04:29.982-08:00</updated><title type='text'>Tahiyat Isyarat Telunjuk, Kapan?</title><content type='html'>Hukum Tahiyat Gerak Telunjuk Bagian 2&lt;br /&gt;Bagian 1 : http://www.scribd.com/doc/19055714/TAHIYAT-GERAK-TELUNJUK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahiyat Isyarat Telunjuk, Kapan?&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah ketika membaca LA ILAHA ILLALLOH&lt;br /&gt;2. Ataukah ketika membaca ILLALLOH&lt;br /&gt;3. Atau dari mulai membaca Tahiyat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalil Isyarat telunjuk ketika membaca LA ILAHA ILLALLOH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. وَقَالَ صَاحِبُ سُبُلِ السَّلَامِ : مَوْضِعُ الْإِشَارَةِ عِنْدَ قَوْلِهِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، لِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun "Subulus Salam" (Syarah Bulughul Maram, Ibnu Hajar al-'Asqalany- Imam Ash-Shan'any) mengatakan : "tempat berisyarat (dengan telunjuk ketika tahiyat) ialah ketika mengucapkan: LA ILAAHA ILLALLOH sebegaimana riwayat al-Baihaqy dari perbuatan Nabi SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalil Isyarat telunjuk ketika membaca ILLALLOH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ النَّوَوِيُّ : فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ : قَالَ أَصْحَابُنَا : يُشِيرُ عِنْدَ قَوْلِهِ : إِلَّا اللَّهُ مِنْ الشَّهَادَةِ اِنْتَهَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim mengatakan : Para ulama kami berpendapat : Isyarat telunjuk (dalam tahiyat) itu ketika membaca ILLALLOH dari bacaan syahadat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ الطِّيبِيُّ فِي شَرْحِ قَوْلِهِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ فِي حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْ رَفَعَهَا عِنْدَ قَوْلِهِ إِلَّا اللَّهُ لِيُطَابِقَ الْقَوْلُ الْفِعْلَ عَلَى التَّوْحِيدِ اِنْتَهَى . وَقَالَ عَلِيٌّ الْقَارِي فِي الْمِرْقَاةِ بَعْدَ ذِكْرِ قَوْلِ الطِّيبِيِّ هَذَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thiby dalam syarahnya menyatakan : "Isyarat telunjuk dalam hadits Ibnu Umar yaitu diangkat ketika mengucapkan ILLALLOH untuk menyelaraskan ucapan dan perbuatan dalam tauhid. Ali al-Qari menjelaskan dalam al-Mirqat setelah mengutip pendapat Ath-Thiby ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dalil Isyarat telunjuk dari mulai duduk Tahiyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْت : ظَاهِرُ الْأَحَادِيثِ يَدُلُّ عَلَى الْإِشَارَةِ مِنْ اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ وَلَمْ أَرَ حَدِيثًا صَحِيحًا يَدُلُّ عَلَى مَا قَالَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ . وَأَمَّا مَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقِفْ عَلَيْهِ وَلَمْ يَذْكُرْ صَاحِبُ السُّبُلِ سَنَدَهُ وَلَا لَفْظَهُ فَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ كَيْفَ حَالُهُ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya (penyusun Tuhfatul Ahwadzi bis Syarh Jami at-Tirmidzi- Al-Mubarakfury) : "Hadits-hadits cukup jelas menunjukkan bahwa berisyarat (telunjuk pada tahiyat) itu sejak mulai duduk (tahiyat). Aku tidak menemukan hadits yang shahih yang menunjukan pendapat Syafi'iyah (isyarat ketika LA ILAHA ILLALLOH) dan Hanafiyah (isyarat ketika ILLALLOH). Adapun riwayat al-Baihaqy bahwa itu perbuatan Nabi SAW saya belum menemukannya dan penyusun Subulus Salam tidak menyebutkan sanad dan matan haditsnya. Fallahu Ta'ala A'lam bagaimana sebenarnya. (Tuhfatul Ahwadzi  I: 325) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تحفة الأحوذي - (1 / 325)&lt;br /&gt;271 - قَوْلُهُ : ( كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ وَرَفَعَ إِصْبَعَهُ )&lt;br /&gt;ظَاهِرُهُ أَنَّ رَفْعَ الْإِصْبَعِ كَانَ فِي اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ&lt;br /&gt;( الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ )&lt;br /&gt;وَهِيَ الْمُسَبِّحَةُ&lt;br /&gt;( يَدْعُو بِهَا )&lt;br /&gt;أَيْ يُشِيرُ بِهَا ( بَاسِطًا كَفَّيْهِ ) بِالنَّصْبِ أَيْ حَالَ كَوْنِهِ بَاسِطًا يَدَهُ عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى مِنْ غَيْرِ رَفْعِ إِصْبَعٍ ، وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ بَاسِطَهَا عَلَيْهَا وَهُوَ الظَّاهِرُ . وَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَ فِي وَضْعِ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْفَخِذِ حَالَ التَّشَهُّدِ هَيْئَاتٌ هَذِهِ إِحْدَاهَا وَلَيْسَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ ذِكْرُ قَبْضِ الْأَصَابِعِ وَكَذَلِكَ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ الزُّبَيْرِ وَكَذَلِكَ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي حُمَيْدٍ بِدُونِ ذِكْرِ الْقَبْضِ ، وَالظَّاهِرُ أَنْ تُحْمَلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ عَلَى الْأَحَادِيثِ الَّتِي فِيهَا ذِكْرُ الْقَبْضِ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالثَّانِيَةُ : أَنْ يَعْقِدَ الْخِنْصَرَ وَالْبِنْصِرَ وَالْوُسْطَى وَيُرْسِلَ الْمُسَبِّحَةَ وَيَضُمَّ الْإِبْهَامَ إِلَى أَصْلِ الْمُسَبِّحَةِ وَهُوَ عَقْدُ ثَلَاثَةٍ وَخَمْسِينَ كَمَا أَخْرُج مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَعَدَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلَاثًا وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ قَالَ الْحَافِظُ فِي التَّلْخِيصِ بَعْدَ ذِكْرِ هَذَا الْحَدِيثِ : وَصُورَتُهَا أَنْ يُجْعَلَ الْإِبْهَامُ مُعْتَرِضَةً تَحْتَ الْمُسَبِّحَةِ اِنْتَهَى .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالثَّالِثَةُ : أَنْ يَعْقِدَ الْخِنْصَرَ وَالْبِنْصِرَ وَيُرْسِلَ السَّبَّابَةَ وَيُحَلِّقَ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى كَمَا أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ فِي وَصْفِ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهِ : ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالرَّابِعَةُ : قَبْضُ الْأَصَابِعِ كُلِّهَا وَالْإِشَارَةِ بِالسَّبَّابَةِ كَمَا رَوَى مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ . قَالَ الزَّيْلَعِيُّ : الْأَخْبَارُ وَرَدَتْ بِهَا جَمِيعًا ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ مَرَّةً هَكَذَا وَمَرَّةً هَكَذَا . وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَمِيرُ فِي سُبُلِ السَّلَامِ : الظَّاهِرُ أَنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ هَذِهِ الْهَيْئَاتِ اِنْتَهَى . فَجَعَلَ الْحَافِظُ اِبْنَ الْقَيِّمِ فِي زَادَ الْمَعَادِ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ كُلَّهَا وَاحِدَةً وَتَكَلَّفَ فِي بَيَانِ تَوْحِيدِهَا . وَالْحَقُّ مَا قَالَ الرَّافِعِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَمِيرُ .&lt;br /&gt;قَوْلُهُ : ( حَدِيثُ اِبْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِلَخْ )&lt;br /&gt;وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَوْلُهُ : ( وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ يَخْتَارُونَ الْإِشَارَةَ فِي التَّشَهُّدِ وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِنَا )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ أَصْحَابُنَا أَهْلُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى كَمَا حَقَّقْنَاهُ فِي الْمُقَدِّمَةِ ، وَكَانَ لِلتِّرْمِذِيِّ أَنْ يَقُولَ : وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَوْ عِنْدَ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ ، فَإِنَّهُ لَا يُعْرَفُ فِي هَذَا خِلَافُ السَّلَفِ . قَالَ مُحَمَّدٌ فِي مُوَطَّئِهِ بَعْدَ ذِكْرِ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ فِي الْإِشَارَةِ : وَبِصُنْعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَأْخُذُ . وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ اِنْتَهَى . قَالَ عَلِيٌّ الْقَارِي : وَكَذَا قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَلَا يُعْرَفُ فِي الْمَسْأَلَةِ خِلَافُ السَّلَفِ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّمَا خَالَفَ فِيهَا بَعْضُ الْخَلَفِ فِي مَذْهَبِنَا مِنْ الْفُقَهَاءِ اِنْتَهَى . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْلِيقِ الْمُمَجَّدِ مِنْ الْعُلَمَاءِ الْحَنَفِيَّةِ ، أَصْحَابُنَا الثَّلَاثَةُ يَعْنِي أَبَا حَنِيفَةَ وَأَبَا يُوسُفَ وَمُحَمَّدًا اِتَّفَقُوا عَلَى تَجْوِيزِ الْإِشَارَةِ لِثُبُوتِهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ بِرِوَايَاتٍ مُتَعَدِّدَة وَقَدْ قَالَ بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْعُلَمَاءِ حَتَّى قَالَ اِبْنُ عَبْدِ الْبَرِّ إِنَّهُ لَا خِلَافَ فِي ذَلِكَ ، وَإِلَى اللَّهِ الْمُشْتَكَى مِنْ صَنِيعِ كَثِيرٍ مِنْ أَصْحَابِنَا مِنْ أَصْحَابِ الْفَتَاوَى كَصَاحِبِ الْخُلَاصَةِ وَغَيْرِهِ حَيْثُ ذَكَرُوا أَنَّ الْمُخْتَارَ عَدَمُ الْإِشَارَةِ بَلْ ذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّهَا مَكْرُوهَةٌ ، فَالْحَذَرُ الْحَذَرُ مِنْ الِاعْتِمَادِ عَلَى قَوْلِهِمْ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ اِنْتَهَى .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَنْبِيهٌ : قَالَ النَّوَوِيُّ : فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ : قَالَ أَصْحَابُنَا : يُشِيرُ عِنْدَ قَوْلِهِ : إِلَّا اللَّهُ مِنْ الشَّهَادَةِ اِنْتَهَى . وَقَالَ صَاحِبُ سُبُلِ السَّلَامِ : مَوْضِعُ الْإِشَارَةِ عِنْدَ قَوْلِهِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، لِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى . وَقَالَ الطِّيبِيُّ فِي شَرْحِ قَوْلِهِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ فِي حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْ رَفَعَهَا عِنْدَ قَوْلِهِ إِلَّا اللَّهُ لِيُطَابِقَ الْقَوْلُ الْفِعْلَ عَلَى التَّوْحِيدِ اِنْتَهَى . وَقَالَ عَلِيٌّ الْقَارِي فِي الْمِرْقَاةِ بَعْدَ ذِكْرِ قَوْلِ الطِّيبِيِّ هَذَا : وَعِنْدَنَا يَعْنِي الْحَنَفِيَّةِ يَرْفَعُهَا عِنْدَ لَا إِلَهَ وَيَضَعُهَا عِنْدَ إِلَّا اللَّهَ لِمُنَاسَبَةِ الرَّفْعِ لِلنَّفْيِ وَمُلَاءَمَةِ الْوَضْعِ لِلْإِثْبَاتِ وَمُطَابَقَةً بَيْنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ حَقِيقَةً اِنْتَهَى .&lt;br /&gt;قُلْت : ظَاهِرُ الْأَحَادِيثِ يَدُلُّ عَلَى الْإِشَارَةِ مِنْ اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ وَلَمْ أَرَ حَدِيثًا صَحِيحًا يَدُلُّ عَلَى مَا قَالَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ . وَأَمَّا مَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقِفْ عَلَيْهِ وَلَمْ يَذْكُرْ صَاحِبُ السُّبُلِ سَنَدَهُ وَلَا لَفْظَهُ فَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ كَيْفَ حَالُهُ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَنْبِيهٌ آخَرُ : قَدْ جَاءَ فِي تَحْرِيكِ السَّبَّابَةِ حِينَ الْإِشَارَةِ حَدِيثَانِ مُخْتَلِفَانِ ، فَرَوَى أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلَا يُحَرِّكُهَا . قَالَ النَّوَوِيُّ إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ فَهَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ صَرَاحَةً عَلَى عَدَمِ التَّحْرِيكِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ . وَحَدِيثُ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ يَدُلُّ عَلَى التَّحْرِيكِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ . قَالَ الْبَيْهَقِيُّ : يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِالتَّحْرِيكِ الْإِشَارَةُ بِهَا لَا تَكْرِيرُ تَحْرِيكِهَا حَتَّى لَا يُعَارَضَ حَدِيثُ اِبْنِ الزُّبَيْرِ عِنْدَ أَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِيِّ وَابْنِ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ بِلَفْظِ : كَانَ يُشِيرُ بِالسَّبَّابَةِ وَلَا يُحَرِّكُهَا وَلَا يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ . قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ : وَمِمَّا يُرْشِدُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْبَيْهَقِيُّ ، رِوَايَةُ أَبِي دَاوُدَ لِحَدِيثِ وَائِلٍ فَإِنَّهَا بِلَفْظِ : وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ اِنْتَهَى .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَائِدَةٌ : السُّنَّةُ أَنْ لَا يُجَاوِزَ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ كَمَا فِي حَدِيثِ اِبْنِ الزُّبَيْرِ الْمَذْكُورِ آنِفًا وَيُشِيرُ بِهَا مُوَجَّهَةً إِلَى الْقِبْلَةِ وَيَنْوِي بِالْإِشَارَةِ التَّوْحِيدَ وَالْإِخْلَاصَ . وَقَالَ اِبْنُ رَسْلَانَ : وَالْحِكْمَةُ فِي الْإِشَارَةِ بِهَا أَنَّ الْمَعْبُودَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاحِدٌ لِيَجْمَعَ فِي تَوْحِيدِهِ بَيْنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَالِاعْتِقَادِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-8030075939602290330?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.scribd.com/doc/19055714/TAHIYAT-GERAK-TELUNJUK' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/8030075939602290330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2011/01/tahiyat-isyarat-telunjuk-kapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/8030075939602290330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/8030075939602290330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2011/01/tahiyat-isyarat-telunjuk-kapan.html' title='Tahiyat Isyarat Telunjuk, Kapan?'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-76012498186192742</id><published>2010-06-07T16:50:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T14:07:04.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiqih ibadah shalat zakat shaum haji mui depag'/><title type='text'>Posisi Shaf Shalat Berjama'ah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/TA2Gq87EKKI/AAAAAAAAAG4/mcTdA34COUU/s1600/shaf+shalat+berjamaah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 194px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/TA2Gq87EKKI/AAAAAAAAAG4/mcTdA34COUU/s320/shaf+shalat+berjamaah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480184394046253218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rapatkan Barisan Berjama'ah...&lt;br /&gt;Posisi Shaf Shalat Berjama'ah&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 03 Juni 2010 jam 23:32 &lt;br /&gt;61. Surat As-Saff, Medinan, 14 verses&lt;br /&gt;٦١. سورة الصف, مدنية, 14 آية&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذينَ يُقٰتِلونَ فى سَبيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيٰنٌ مَرصوصٌ ﴿٤﴾ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ra-Sad-Sad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;to cement or join together, make compact, stack, overlay with lead. trassa - to close ranks. arassa - having the teeth close together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رصص&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''ر ص ص'' وتَدُور حَوْلَ:&lt;br /&gt;- الضَّمِّ: فَالبُنْيانُ المَرْصُوصُ هُوَ المُحْكَمُ قال تَعالَى (إنَّ اللهَ يُحِبُّ الذينَ يُقاتِلُونَ في سَبِيلِه صَفًّا كأنَّهُمْ بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ)، والرَّصَاصُ هُوَ عُنْصُرٌ فِلِزِّىٍّ لَيِّنٍ وزْنُهُ الذَرِّىُّ 21, 207 وعَدُدُهُ الذَرِّىُّ 82 وكَثافَتُهُ 11,34 ويَنْصِهِرُ عِندَ 327م&lt;br /&gt;رَصَّهُ يَرْصُّهُ رَصًّا اى ضَمَ بَعْضَهُ إلَى بَعْضٍ، وأيْضًا أحْكَمَهُ بالرَّصاصِ أو طَلَاهُ بِهِ، ورَصَّ الشَّىءُ كالأسْنانِ يَرَصُّ رَصًصًا أى انْتَظَمَّ واسْتَوَى مَعَ انْضِمَامٍ فهُوَ أَرَصُّ وهِىَ رَصَّاءُ، ورَصَّصَ الشَّىءَ أى عَمِلَهُ بالرَّصاصِ أوْ طلاهُ بِهِ، وتَرَصَّصَتِ الأشْياءُ وارْتَصَّتْ أى انْضَمَّ بَعْضُها إلَى بَعْضٍ (وكذلِكَ تَرَاصَّتْ)، والرَّصاصُ هُوَ الطَّلْقُ النَّارِىُّ، وقَلَمُ الرَّصاصِ هُوَ القَلْمُ الخَشَبِىُّ الذِي مُحْتُوَاهُ مَادَّةُ الجَرافِيتِ ويُكْتَبُ بِها مِنْ غَيرِ حِبْرٍ، والرَّصِيصُ هُوَ نِقابُ المَرأةِ ورَصَّصَتِ المَرأةُ أى تَنَقَّبَتْ فلا يُرَى إلَّا عَيْناهَا، ورَصَّصَت النِّقابَ أى أدْنَتْهُ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رقم الحديث: 1461&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) نا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرِ بْنِ رِبْعِيٍّ الْقَيْسِيُّ ، نا مُسْلِمٌ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ ، نا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ الْعَطَّارُ ، ثنا قَتَادَةُ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خِلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ " . قَالَ مُسْلِمٌ : يَعْنِي النَّقَدَ الصِّغَارَ ، النَّقَدُ الصِّغَارُ : أَوْلادُ الْغَنَمِ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناده متصل، رجاله ثقات.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMAAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara syari'at yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Barangsiapa yang melaksanakan syari'at, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba' nya [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan"&lt;br /&gt;[HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin Basyir, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".&lt;br /&gt;[HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas ra., Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku"&lt;br /&gt;[HR. Al Bukhari dan Muslim],&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pada riwayat Al Bukhari, Anas r.a. berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan pada riwayat Abu Ya'la, berkata Anas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar yaitu dia akan lari darimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam : '... atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian': "Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak dikatakan didalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi [pengertian seperti itu dikalangan ahli ilmu, pent-]". Akan tetapi sungguh amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman: "Apabila jamaah shalat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan An Nu'man maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf. Dan pada kenyataannya -kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf maka akan luaslah shaf [menampung banyak jamaah, pent-] khususnya shaf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar'i, yaitu tidak meluruskan dan merapatkan shaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Mereka meninggalkan celah untuk syaithan dan Allah akan memutuskan mereka, sebagaimana hadits dari Umar bin Al Khaththab bahwasanya Nabi bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya".&lt;br /&gt;[HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadits An Nu'man terdapat faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu: sesungguhnya rusaknya dhahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya. Disamping itu bahwa sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang menyambung shaf".&lt;br /&gt;[HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi yang shahih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya".&lt;br /&gt;[HR.Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk ditempeli bahu saudaranya -pent) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah pada shaf dan menutupinya".&lt;br /&gt;[HR. Ath Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Hiban].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan shaf pertama bagi laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara haditsnya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf laki-laki adalah yang laing belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jelek shaf perempuan adalah yang paling depan.&lt;br /&gt;(H.R. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merayap.&lt;br /&gt;(Bukhari dan Muslim.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan mendapat takbiratul ihram bersama imam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa talah melakukan shalat karena Allah selama 40 hari berjama’ah, ia mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram dengan imam –pent), maka dicatatlah baginya dua kebebasan ; kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari kemunafikan. (H.R. Tirmidzi dari Anas, dihasankan oleh Syeikh Al Albani di kitab shahih Al Jami’ II/1089).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Posisi shalat berjama'ah dua orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang berjama'ahnya dua orang, hendaklah ma'mum berdiri di sebelah kanan imam. Jika yang berjama'ahnya terdiri dari dua orang atau lebih, hendaklah ma'mum berdiri di belakang imam. Hal ini didasarkan pada hadits berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir ibn Abdillah RA berkata, Nabi SAW berdiri shalat Maghrib, lalu aku datang dan berdiri di sebelah kirinya. Beliau melarang saya dan menjadikan saya di sebelah kanannya. Lalu datang seorang kawanku. Maka kami berdiri di belakangnya. *) 275&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) 275 Shahih Ibnu Khuzaimah 3:18 no. 1535, Musnad Ahmad ibnu Hanbal 3:326 no. 14536&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Risalah Shalat, Dewan Hisbah PP Persis, hlm. 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=========&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang mengkhabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang shalat sendirian dibelakang shaf, maka beliau memerintahkan dia untuk mengulangi shalatnya. (H.R Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albany dalam shahih Abu Dawud no.633)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan hadits ini berlaku bagi mereka yang mendapatkan shaf dalam keadaan lowong dan masih ada kemungkinan untuk masuk padanya. Sementara bagi mereka yang tidak menjumpai celah yang kosong sama sekali pada shaf, maka dia boleh shalat sendirian dibelakang karena termasuk orang yang mendapatkan udzur (keringanan). Dan tidak diperbolehkan baginya untuk menarik seseorang yang ada di shaf depannya dalam rangka mengamalkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا انْتَهَى أَحُدُكُمْ إِلَى الصَّفِ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلاً يُقِيِمُه إِلَىجَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila seseorang diantara kalian mendapati shaf yang telah sempurna, maka hendaklah dia menarik seseorang hingga berdiri disebelahnya.” Karena Hadits ini adalah dha’if (lemah) sehingga tidak boleh dijadikan sandaran dalam beramal. (lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 921 karya Asy Syaikh Al Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(www.assalafy.org/mahad/?p=112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas memang keduanya dla'if karena ada rawi bernama Syurahbil ia dipandang dla'if oleh para ahli hadits. seperti dijelaskan dlm Tahdzibul Kamal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2714] بخ د ق شرحبيل بن سعد أَبُو سعد الخطمي المدني&lt;br /&gt;مولى الأنصار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;روى عن&lt;br /&gt;1- جابر بْن عَبْد اللَّهِ بخ د ق&lt;br /&gt;2- والحسن بْن علي بْن أبي طالب&lt;br /&gt;3- وزيد بْن ثابت&lt;br /&gt;4- وعَبْد اللَّهِ بْن عباس بخ ق&lt;br /&gt;5- وعَبْد اللَّهِ بْن عُمَر بْن الخطاب&lt;br /&gt;6- وعويم بْن ساعدة الأنصاري&lt;br /&gt;7- وأَبِي رافع مولى النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ ق&lt;br /&gt;8- وأَبِي سَعِيد الخدري د&lt;br /&gt;9- وأَبِي هريرة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;روى عنه&lt;br /&gt;1- إسماعيل بْن أمية&lt;br /&gt;2- والحكم بْن عَبْد الرحمن بْن أبي نعم البجلي&lt;br /&gt;3- وزياد بْن سعد&lt;br /&gt;4- وزيد بْن أبي أنيسة&lt;br /&gt;5- والضحاك بْن عُثْمَانَ الحزامي ق&lt;br /&gt;6- وعاصم الأحول&lt;br /&gt;7- وأَبُو الزناد عَبْد اللَّهِ بْن ذكوان&lt;br /&gt;8- وأَبُو أويس عَبْد اللَّهِ بْن عَبْد اللَّهِ المدني ق&lt;br /&gt;9- وعَبْد الرحمن بْن أبي الزناد&lt;br /&gt;10- وعَبْد الرحمن بْن سُلَيْمَان بْن الغسيل&lt;br /&gt;11- وعكرمة مولى ابْن عباس ومات قبله بدهر طويل&lt;br /&gt;12- وعمارة بْن غزية بخ د&lt;br /&gt;13- وفطر بْن خليفة بخ د&lt;br /&gt;14- ومالك بْن أنس وكنى عنه ولم يسمه&lt;br /&gt;15- ومحمد بْن إسحاق بْن يسار&lt;br /&gt;16- ومحمد بْن عَبْد الرحمن بْن أبي ذئب د&lt;br /&gt;17- ومخول بْن راشد ق وكناه ولم يسمه&lt;br /&gt;18- ومصعب بْن مُحَمَّد بْن شرحبيل العبدري&lt;br /&gt;19- وموسى بْن عقبة&lt;br /&gt;20- ونجيح أَبُو معشر المدني&lt;br /&gt;21- ويحيى بْن سَعِيد الأنصاري&lt;br /&gt;22- ويزيد بْن الهاد بخ د&lt;br /&gt;23- ويونس بْن عَبْد اللَّهِ بْن أبي فروة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;علماء الجرح والتعديل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال 1 يزيد بْن هارون , عَن ابن أبي ذئب 1: 2 أَخْبَرَنَا شرحبيل وهو شرحبيل وقد بينا لكم 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 حجاج بْن مُحَمَّد، عَنِ ابن أبي ذئب 1: 2 حَدَّثَنَا شرحبيل بْن سعد، وكَانَ متهما 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 بشر بْن عُمَر 1: 2 سألت مَالِك بْن أنس، عَنْ شرحبيل بْن سعد فقال: ليس بثقة 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 عَمْرو بْن علي 1: 2 سألت يحيى القطان، قال: قال رجل لابن إسحاق: كيف حديث شرحبيل بْن سعد ؟ فقال: واحد يحدث عَنْ شرحبيل بْن سعد، قال يحيى: العجب من رجل يحدث عَنِ اهل الكتاب، ويرغب عَنْ شرحبيل، وها هنا من يحدث عنه 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 علي بْن المديني 1: 2 قلت لسفيان بْن عيينة: كَانَ شرحبيل بْن سعد يفتي ؟ قال: نعم، ولم يكن أحد أعلم بالمغازي والبدريين منه، فاحتاج فكأنهم اتهموه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال فِي موضع آخر: سمعت سُفْيَان، وسئل عَنْ شرحبيل بْن سعد، قال: لم يكن أحد بالمدينة أعلم بالبدريين منه، واصابته حاجة، فكانوا يخافون إذا جاء إلى الرجل يطلب منه الشيء فلم يعطه، إن يقول: لم يشهد أبوك بدرا 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 عباس الدوري، عَنْ يحيى بْن معين 1: 2 ليس بشيء ضعيف&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال فِي موضع آخر: كَانَ أَبُو جابر البياضي كذابا، وشرحبيل بْن سعد خير من ملء الأرض مثله 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 أَحْمَد بْن سعد بْن أبي مريم، عَنْ يحيى بْن معين 1: 2 ضعيف يكتب حديثه 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال مُحَمَّد بْن سعد 1: 2 كَانَ شيخا قديما روى عن زيد بْن ثابت، وأَبِي هريرة، وأَبِي سَعِيد، وعامة أصحاب رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ، وبقي إلى آخر الزمان حتى اختلط، واحتاج حاجة شديدة، وله أحاديث وليس يحتج به 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 أَبُو زرعة 1: 2 فيه لين 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 النسائي 1: 2 ضعيف 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 الدارقطني 1: 2 ضعيف يعتبر به 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال 1 أَبُو أَحْمَد بْن عدي 1: 2 له أحاديث وليست بالكثيرة، وفي عامة ما يرويه إنكار , على أنه قد حدث عنه جماعة من أهل المدينة من ائمتهم وغيرهم إلا مَالِك بْن أنس، فإنه كره الرواية عنه، وكنى عَنِ اسمه فِي الحديثين اللذين ذكرتهما، وهو إلى الضعف أقرب يعني حديث مَالِك أَنَّهُ بلغه عَنْ جابر بْن عَبْد اللَّهِ، أن رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ، قال: “ من لم يجد ثوبين فليصل فِي ثوب واحد ملتحفا به، فإن كَانَ الثوب صغيرا فليأتزر به “ . وحديث: “ إذا عاد الرجل المريض خاض الرحمة حتى إذا قعد عنده قرب منه أو نحو هذا “ 2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 ذكره ابن حبان فِي كتاب الثقات , وقال مات سنة ثلاث وعشرين ومائة 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;روى له البخاري فِي الأدب، وأَبُو داود، وابن مَاجَهْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رقم الحديث: 7975&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، نَا حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو الرَّبَالِيُّ ، نَا بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ حَسَّانَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ ، فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلا يُقِيمُهُ إِلَى جَنْبِهِ " . لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ : بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناد فيه بشر بن إبراهيم الأنصاري وهو يضع الحديث.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# العالم القول&lt;br /&gt;1 أبو أحمد بن عدي الجرجاني منكر الحديث عن الثقات والأئمة، لا أدري كيف عقل من تكلم في الرجال عنه فإني لم أجد له كلاما وهو بين الضعف جدا ورواياته التي يرويها عمن يروي غير محفوظة وهو عندي ممن يضع الحديث على الثقات، وما ذكرته عنه عن الأوزاعي وثور بن يزيد ومبارك بن فضالة وأبو حرة وغيرهم&lt;br /&gt;2 أبو جعفر العقيلي روى أحاديث موضوعة عن الأوزاعي لا يتابع عليها&lt;br /&gt;3 أبو حاتم الرازي شيخ ضعيف الحديث&lt;br /&gt;4 أبو حاتم بن حبان البستي يضع الحديث على الثقات لا يحل ذكره في الكتب إلا على سبيل القدح فيه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رقم الحديث: 1452&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) نا بُنْدَارٌ ، نا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي الْحَنَفِيَّ ، نا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ ، حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ سَعْدٍ أَبُو سَعْدٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ، يَقُولُ : " قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ ، فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَنْ يَسَارِهِ ، فَنَهَانِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، ثُمَّ جَاءَ صَاحِبٌ لِي ، فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ ، فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُخَالِفًا بَيْنَ طَرَفَيْهِ " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناد ضعيف فيه شرحبيل بن سعد الخطمي وهو ضعيف الحديث.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadits ini tidak bisa dijadikan dalil. Adapun dalil hadits yg shahih untuk posisi ma'mum dua orang (imam &amp; 1 ma'mum) adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadits Ibnu Abbas رضالله عنه beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” بتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَصَلَّى رَسولُ الله العِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلّى أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ ثُمَّ ناَمَ ثُمَّ قاَمَ فَجِئْتُ (وَفِي رِوَايَة : فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ) عَنْ يسَارِهِ فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِيْنِهِ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bermalam dirumah bibiku (yaitu) Maimunah, ketika itu Rasulullah shalat isya’ kemudian beliau pulang ke rumah dan shalat empat rakaat, kemudian tidur. Setelah itu beliau bangun untuk shalat maka aku pun berdiri disamping kirinya kemudian beliau memindahkan aku ke samping kanannya”. (H.R Al Bukhari no.697)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Al Bukhari menjadikan hadits diatas sebagai dalil bahwa posisi dua orang yang shalat berjama’ah adalah sejajar. Al Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa makna sejajar yaitu tidak maju dan tidak mundur, berdasarkan konteks dhohir hadits Ibnu Abbas: فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ)). (Lihat Fathul Bari hadits no. 697)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan dalil ma'mum yg masbuk membuat shaf baru dan dilarang menyendiri adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadits yang mengkhabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang shalat sendirian dibelakang shaf, maka beliau memerintahkan dia untuk mengulangi shalatnya. (H.R Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albany dalam shahih Abu Dawud no.633)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Larangan ma'mum yg masbuk menarik ma'mum pada shaf di depannya, bertentangan dengan makna "shaf" itu sendiri yg artinya berbaris dan keharusan merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ma'mum masbuk menarik ma'mum yg paling kanan atau menepuknya untuk berdiri di sebelah kanannya itu sejalan dengan hadits shahih yg menjelaskan Rasulullah SAW memindahkan posisi Ibnu Abbas ke sebelah kanan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memulai shaf baru bukan di tengah-tengah shaf, tetapi di sebelah kanan sebagaimana hadits2 shahih tentang perintah memulai segala sesuatu di sebelah kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam Bish Shawwab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=475&amp;hid=7975&amp;pid=674464&lt;br /&gt;http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=121&amp;hid=14204&amp;pid=672359&lt;br /&gt;http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=345&amp;hid=1452&amp;pid=453771&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: ada hadis sebagai berikut&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ وَسِّطُوا اْلإِمَامَ وَسُدُّوا الْخَلَلَ. رواه أبو داود&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’Jadikanlah imam itu berada di tengah kalian dan tutuplah kerenggangan-kerenggangan dalam shaf”. H.r. Abu Daud&lt;br /&gt;Bukankah hadis ini menunjukkan bahwa makmum mesti menjadikan imam ada di tengah?! dan hadis ini umum tidak untuk yang bershaf di depan saja tapi bagi makmum yang berada di shaf kedua dan seterusnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: hadits tsb dla'if sekali&lt;br /&gt;رقم الحديث: 582&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ بَشِيرِ بْنِ خَلَّادٍ ، عَنْ أُمِّهِ ، أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ فَسَمِعَتْهُ ، يَقُولُ : حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " وَسِّطُوا الْإِمَامَ وَسُدُّوا الْخَلَلَ " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناد شديد الضعف فيه راو مجهول هي أمة الواحد بنت يامين النصرية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan jika memulai shaf kedua bagi makmum yg masbuk tentu akan memutuskan shaf pertama dan trjadi kekosongan dlm shaf berjama'ah yg dilarang oleh Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada hadits hasan رقم الحديث: 357&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ هَارُونَ ، قَالَ : ثنا ابْنُ مَنِيعٍ ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ ، ثنا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ ، عَنْ عَجْلانَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " إِنِّي لأَنْظُرُ إِلَى مَا وَرَائِي كَمَا أَنْظُرُ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيَّ ، فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناده حسن رجاله ثقات عدا عجلان مولى المشمعل وهو صدوق حسن الحديث ، وعلي بن هارون الحربي وهو صدوق تغير بآخره.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya aku melihat (ma'mum) yg dibelakangku seperti aku melihat di antara dua tanganku (di hadapanku), maka rapihkanlah shaf kalian."&lt;br /&gt;hadits ini bukan menunjukan mulai shaf di tengah imam, tp anjuran untuk memperhatikan kerapihan/kerapatan shaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadits abu dawud juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani &amp; al-Baihaqy, tp semuanya dla'if...&lt;br /&gt;رقم الحديث: 4788&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيُّ ، أنبأ أَبُو بَكْرِ بْنُ دَاسَةَ ، ثنا أَبُو دَاوُدَ ، ثنا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ ، ثنا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ بَشِيرِ بْنِ خَلادٍ ، عَنْ أُمِّهِ أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ ، فَسَمِعَتْهُ يَقُولُ : حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " تَوَسَّطُوا الإِمَامَ ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناد شديد الضعف فيه راو مجهول هي أمة الواحد بنت يامين النصرية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ تخريج ] [ شواهد ] [ أطراف ] [ الأسانيد ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رقم الحديث: 4596&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصَّقْرِ السُّكَّرِيُّ ، قَالَ : نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ ، قَالَ : نا يَحْيَى بْنُ بَشِيرِ بْنِ خَلادٍ ، قَالَ : حَدَّثَتْنِي أَمَةُ الْوَاحِدِ بِنْتُ يَامِينَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ النَّصْرِيِّ ، قَالَتْ : دَخَلْتُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : " وَسِّطُوا الإِمَامَ ، وَسُدُّوا الثُّلَمَ لا يَتَخَلَّلْهَا الشَّيْطَانُ ، وَضَعُوا نِعَالِكُمْ بَيْنَ أَقْدَامِكُمْ " . لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ يَحْيَى بْنُ بَشِيرٍ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناد شديد الضعف فيه راو مجهول هي أمة الواحد بنت يامين النصرية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسطوا الإمام وسدوا الثلم لا يتخللها الشيطان وضعوا نعالكم بين أقدامكم عبد الرحمن بن صخر المعجم الأوسط للطبراني 4596 4457 سليمان بن أحمد الطبراني 360&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;توسطوا الإمام وسدوا الخلل عبد الرحمن بن صخر السنن الكبرى للبيهقي 4788 3:104 البيهقي 458&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللهِ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللهِ فَأَخَذَ بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ. رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata,”Rasulullah saw. berdiri salat maghrib, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memegang tanganku, memutarku hingga menempatkan aku di sebelah kanan beliau. Kemudian datang Jabbar bin Shakher, ia berwudhu terus datang (menuju salat), lalu ia berdiri di sebelah kiri Rasululalh saw. Lalu beliau memegang dua tangan kami terus mendorong hingga menempatkan kami di belakang”. H.r. Muslim&lt;br /&gt;Bukankah Nabi saw. menempatkan kedua makmum itu persis di belakangnya?! klo yg jadi kendalanya ada kekosongan shaf, bukankah antar makmum bisa bergeser?! dan itu tdk melanggar... karena boleh bergerak dalam shalat jika jelas keperluannya?!&lt;br /&gt;Sedangakn makmum (masbuk) menempatkan diri di sebelah kanan karena NAbi saw. suka yg kanan..hal itu terlalu umum? jika bisa...mengapa shaf pertama pun tdk di sebelah kanan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam hadits di atas siapakah yg prtama kali memulai shaf? Jabir atau Jabbar...&lt;br /&gt;Rasulullah SAW memindahkan Jabir ke sebelah kanan beliau dan tidak ke belakang/tengah beliau. Maka hadits ini sesungguhnya sbgi dalil memulai shaf d sebelah kanan baik shaf pertama dan seterusnya... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-Barra’ bin ’Azib radliyallaahu ’anhu ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أًحْبَبْنَا أَنْ نَكُوْنَ عَنْ يَمِيْنِهِ يُقْبَلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ رَبِّ قِنِيْ عَذَابكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami apabila shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam senang menempati shaff di sebelah kanan. Beliau kemudian menghadap ke arah kami dan bersabda : “Rabbi (Tuhanku), peliharalah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan (mengumpulkan) ham-hamba-Mu” [HR. Muslim no. 709, Ibnu Majah no. 1006, dan Ibnu Khuzaimah no. 1563-1565. Ini adalah lafadh Muslim].[6] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini fatwa Syekh Bin Baz&lt;br /&gt;فتاوى ابن باز&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تصفح برقم المجلد &gt; المجلد السادس والعشرون &gt; كتاب الحديث القسم الثاني &gt; كتـاب الأحـاديـث الضـعيفـة &gt; حديث من عمر مياسر الصفوف فله أجران&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;142 ـ حديث : من عمر مياسر الصفوف فله أجران&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;س: أقيمت صلاة العشاء واكتمل الجانب الأيمن من الصف الأول والجانب الأيسر فيه قليل في الناس ، فقلنا : اعدلوا الصف من اليسار ، فقال أحد المصلين : اليمين أفضل ، لكن أحد الناس عقب عليه وجاء بحديث : من عمر مياسر الصفوف&lt;br /&gt;فله أجران أفتونا ما هو الصواب في هذه المسألة ؟ نشر في كتاب الدعوة ج1 ص60 ، ونشر في المجموع ج12 ص 207.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(الجزء رقم : 26، الصفحة رقم: 291)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ج : قد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على أن يمين كل صف أفضل من يساره ، ولا يشرع أن يقال للناس : اعدلوا الصف ، ولا حرج أن يكون يمين الصف أكثر ، حرصا على تحصيل الفضل .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما ما ذكره بعض الحاضرين من حديث : أخرجه ابن ماجه في كتاب إقامة الصلاة ، باب فضل ميمنة الصف برقم 1007. من عمر مياسر الصفوف فله أجران فهو حديث ضعيف خرجه ابن ماجه بإسناد ضعيف .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal : Pada waktu Shalat isya bagian kanan shaaf pertama sudah penuh dan sebelah kiri masih sedikit, maka diperintahkan pada kami "rapihkanlah sampai pertengahan sehingga yg kiri terisi" maka salah seorang jama'ah shalat berkata : "sebelah kanan adalah lebih utama". namun ada jama'ah lainnya membantah dengan mengemukakan hadits : "barangsiapa yg mengisi shaf sebelah kiri akan mendapat dua pahala." Manakah yang paling benar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab : Nabi SAW telah menetapkan bahwa bagian kanan seluruh shaf adalah yang paling utama daripada bagian kiri. maka tidak disyari'atkan untuk menyuruh "ke bagian tengahkanlah shaf !" Tidak masalah jika bagian kanan shaf lebih banyak sebagai anjuran mendapat keutamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yg dikemukakan oleh seorang jama'ah "yg kiri mendapat dua pahala" dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatus shalat bab keutamaan shaf yg sebelah kanan No. 1007 adalah hadits dla'if dengan sanad dla'if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=4&amp;View=Page&amp;PageNo=1&amp;PageID=5182&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMAAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara syari'at yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Barangsiapa yang melaksanakan syari'at, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba' nya [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan"&lt;br /&gt;[HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin Basyir, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".&lt;br /&gt;[HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas ra., Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku"&lt;br /&gt;[HR. Al Bukhari dan Muslim],&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pada riwayat Al Bukhari, Anas r.a. berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan pada riwayat Abu Ya'la, berkata Anas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar yaitu dia akan lari darimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam : '... atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian': "Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak dikatakan didalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi [pengertian seperti itu dikalangan ahli ilmu, pent-]". Akan tetapi sungguh amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman: "Apabila jamaah shalat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan An Nu'man maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf. Dan pada kenyataannya -kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf maka akan luaslah shaf [menampung banyak jamaah, pent-] khususnya shaf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar'i, yaitu tidak meluruskan dan merapatkan shaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Mereka meninggalkan celah untuk syaithan dan Allah akan memutuskan mereka, sebagaimana hadits dari Umar bin Al Khaththab bahwasanya Nabi bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya".&lt;br /&gt;[HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadits An Nu'man terdapat faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu: sesungguhnya rusaknya dhahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya. Disamping itu bahwa sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang menyambung shaf".&lt;br /&gt;[HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi yang shahih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya".&lt;br /&gt;[HR.Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk ditempeli bahu saudaranya -pent) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah pada shaf dan menutupinya".&lt;br /&gt;[HR. Ath Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Hiban].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan shaf pertama bagi laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara haditsnya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf laki-laki adalah yang laing belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jelek shaf perempuan adlaah yang paling depan.&lt;br /&gt;(H.R. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merayab.&lt;br /&gt;(Bukhari dan Muslim.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan mendapat takbiratul ihram bersama imam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa talah melakukan shalat karena Allah selama 40 hari berjama’ah, ia mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram dengan imam –pent), maka dicatatlah baginya dua kebebasan ; kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari kemunafikan. (H.R. Tirmidzi dari Anas, dihasankan oleh Syeikh Al Albani di kitab shahih Al Jami’ II/1089).&lt;Photo 2&gt;&lt;Photo 4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegakan Tauhid, Pelurusan Aqidah, Pemberantasan Syirik dan Bid'ah&lt;br /&gt;Posisi Shof Saat Berjama’ah Dua Orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggalkan komentar »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Lurus dan rapatkan shof” sambil memerintah makmum untuk sejajar dengannya (imam), namun si makmum berceloteh “masa ada dualisme kepemimpinan??” dengan memundurkan posisinya sehasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Lurus dan rapatkan shof” sambil memerintah makmum untuk sejajar dengannya (imam), namun si makmum ragu untuk maju dan tetap dengan posisi kira-kira satu hasta dari ujung kaki makmum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Lurus dan rapatkan shof” sambil memerintah makmum untuk sejajar dengannya (imam), namun si makmum sedikit mundur satu hasta saat di rakaat berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas merupakan kisah yang nyata, sungguh meluruskan shof dan merapatkannya kian ditinggalkan oleh umat Islam karena kurangnya ilmu yang justru menjadikan pelakunya membuat suatu opini yang sekali lagi justru menjadi salah kaprah karena melihatnya dari sisi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka coba perhatikan dan kaitkan sabda-sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam urusan meluruskan shof dan merapatkan shof:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَوُّوا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk bagian dari mendirikan shalat.” (H.R Al Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفُوْا قُلُوْبَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan hati kalian akan berselisih.” (H.R Muslim: 432)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَوُّوا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ من تَمَامِ الصَّلاةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk dari menyempurnakan shalat.” (H.R Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَقِيْمُوْا الصُّفُوْفَ وَ حَاذُوْا بَيْنَ المَنَاكِبِ وَ سُدُّوْا الخَلَلَ ولِيْنُوْا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلاَتَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ, وَ مَنْ وَصَّلَ صَفًّا وَصَّلَهُ الله وَ مَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luruskanlah shaf-shaf kalian, jadikanlah sejajar diantara bahu-bahu kalian, tutuplah celah yang kosong, bersikap lunaklah terhadap tangan saudara-saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan sedikitpun celah-celah bagi syaithan. Barang siapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskannya.” (H.R Abu Dawud no.666 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta dalam cara mengisi shof dua orang berjamaah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dua orang shalat berjama’ah dan salah seorang mengimami yang lainnya, maka posisi shaf adalah sejajar dengan menempelkan bahu dengan bahu mata kaki dengan mata kaki di antara keduanya. Sebagaimana hadits Ibnu Abbas رضالله عنه beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” بتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَصَلَّى رَسولُ الله العِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلّى أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ ثُمَّ ناَمَ ثُمَّ قاَمَ فَجِئْتُ (وَفِي رِوَايَة : فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ) عَنْ يسَارِهِ فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِيْنِهِ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bermalam dirumah bibiku (yaitu) Maimunah, ketika itu Rasulullah shalat isya’ kemudian beliau pulang ke rumah dan shalat empat rakaat, kemudian tidur. Setelah itu beliau bangun untuk shalat maka aku pun berdiri disamping kirinya kemudian beliau memindahkan aku ke samping kanannya”. (H.R Al Bukhari no.697)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Al Bukhari menjadikan hadits diatas sebagai dalil bahwa posisi dua orang yang shalat berjama’ah adalah sejajar. Al Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa makna sejajar yaitu tidak maju dan tidak mundur, berdasarkan konteks dhohir hadits Ibnu Abbas: فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ)). (Lihat Fathul Bari hadits no. 697)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang mengkhabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang shalat sendirian dibelakang shaf, maka beliau memerintahkan dia untuk mengulangi shalatnya. (H.R Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albany dalam shahih Abu Dawud no.633)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan hadits ini berlaku bagi mereka yang mendapatkan shaf dalam keadaan lowong dan masih ada kemungkinan untuk masuk padanya. Sementara bagi mereka yang tidak menjumpai celah yang kosong sama sekali pada shaf, maka dia boleh shalat sendirian dibelakang karena termasuk orang yang mendapatkan udzur (keringanan). Dan tidak diperbolehkan baginya untuk menarik seseorang yang ada di shaf depannya dalam rangka mengamalkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا انْتَهَى أَحُدُكُمْ إِلَى الصَّفِ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلاً يُقِيِمُه إِلَىجَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila seseorang diantara kalian mendapati shaf yang telah sempurna, maka hendaklah dia menarik seseorang hingga berdiri disebelahnya.” Karena Hadits ini adalah dha’if (lemah) sehingga tidak boleh dijadikan sandaran dalam beramal. (lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 921 karya Asy Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir dari tulisan ini, penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga shof-shof sholat berjamaah di masjid-masjid bisa lebih rapi yaitu lurus dan rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disalin dari beberapa sumber salah satunya di http://www.assalafy.org/mahad/?p=112&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رقم الحديث: 7975&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، نَا حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو الرَّبَالِيُّ ، نَا بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ حَسَّانَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ ، فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلا يُقِيمُهُ إِلَى جَنْبِهِ " . لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ : بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناد فيه بشر بن إبراهيم الأنصاري وهو يضع الحديث.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#   العالم   القول&lt;br /&gt;1  أبو أحمد بن عدي الجرجاني  منكر الحديث عن الثقات والأئمة، لا أدري كيف عقل من تكلم في الرجال عنه فإني لم أجد له كلاما وهو بين الضعف جدا ورواياته التي يرويها عمن يروي غير محفوظة وهو عندي ممن يضع الحديث على الثقات، وما ذكرته عنه عن الأوزاعي وثور بن يزيد ومبارك بن فضالة وأبو حرة وغيرهم&lt;br /&gt;2  أبو جعفر العقيلي  روى أحاديث موضوعة عن الأوزاعي لا يتابع عليها&lt;br /&gt;3  أبو حاتم الرازي  شيخ ضعيف الحديث&lt;br /&gt;4  أبو حاتم بن حبان البستي  يضع الحديث على الثقات لا يحل ذكره في الكتب إلا على سبيل القدح فيه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رقم الحديث: 1452&lt;br /&gt;(حديث مرفوع) نا بُنْدَارٌ ، نا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي الْحَنَفِيَّ ، نا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ ، حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ سَعْدٍ أَبُو سَعْدٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ، يَقُولُ : " قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ ، فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَنْ يَسَارِهِ ، فَنَهَانِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، ثُمَّ جَاءَ صَاحِبٌ لِي ، فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ ، فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُخَالِفًا بَيْنَ طَرَفَيْهِ " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم المبدئي: إسناد ضعيف فيه شرحبيل بن سعد الخطمي وهو ضعيف الحديث.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البحــث عن: جاء صاحب لي فصففنا&lt;br /&gt;يوجد 2 حديث&lt;br /&gt;السابق &lt;br /&gt;صفحة |&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;| من 1&lt;br /&gt;التالي &lt;br /&gt; م  طرف الحديث الصحابي اسم الكتاب أفق العزو المصنف سنة الوفاة&lt;br /&gt;1 يصلي المغرب فجئت فقمت إلى جنبه عن يساره فنهاني فجعلني عن يمينه ثم جاء صاحب لي فصففنا خلفه فصلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في ثوب واحد مخالفا بين طرفيه&lt;br /&gt;جابر بن عبد الله  مسند أحمد بن حنبل 14204 14087 أحمد بن حنبل 241&lt;br /&gt;2 يصلي المغرب فجئته فقمت إلى جنبه عن يساره فنهاني فجعلني عن يمينه ثم جاء صاحب لي فصففنا خلفه فصلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في ثوب واحد مخالفا بين طرفيه&lt;br /&gt;جابر بن عبد الله  صحيح ابن خزيمة 1452 1448 ابن خزيمة 311&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Seputar Shaff dalam Shalat Berjama'ah &lt;br /&gt;Abu Al-Jauzaa' :, 01 Juli 2008 &lt;br /&gt;Oleh : Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogory &lt;br /&gt;Menyusun shaff &lt;br /&gt;Hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;br /&gt;لِيَلِنِيْ مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ &lt;br /&gt;“Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah belakang imam) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” [HR. Muslim no. 432]. &lt;br /&gt;Hadits ini mengandung faedah bahwa menyusun shaf sesuai dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan/bacaannya dalam Al-Qur’an dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian[1]. Hal tersebut mengandung hikmah bahwa bila sewaktu-waktu imam lupa/salah dalam bacaan Al-Qur’an, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur syar’i (misal batal, sakit, dan lain-lain) sehingga imam tidak bisa meneruskan shalatnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjama’ah.[2] &lt;br /&gt;Meluruskan dan merapatkan shaff &lt;br /&gt;1. Hadist An-Nu’man bin Basyir radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : &lt;br /&gt;كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُسَوِّيْ صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّيْ بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْماً فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِياً صَدْرَهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ &lt;br /&gt;Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seolah-olah beliau meluruskan ‘qadah’ [3] sehingga beliau yakin bahwa kami telah menyadari kewajiban kami (untuk meluruskan shaf). Suatu hari, ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah hendak takbir, tiba-tiba beliau melihat salah seorang diantara kami membusungkan dadanya ke depan melebihi shaf. Maka beliau bersabda : “Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih” [HR. Muslim no. 436]. &lt;br /&gt;2. Hadits Anas bin Malik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam : &lt;br /&gt;سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاةِ. (وَفِيْ لَفْظٍ : فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ) &lt;br /&gt;“Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf-shaf termasuk menegakkan shalat (berjama’ah)”. Dan dalam lafadh lain : “…karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjama’ah)” [HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 433]. &lt;br /&gt;3. Hadits An-Nu’man bin Basyir radliyallaahu ‘anhu ia berkata : &lt;br /&gt;أَقْبَلَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ ثَلاثاً وَاللهِ لَتُقِيْمُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ &lt;br /&gt;Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah menghadap ke arah jama’ah shalat dan bersabda : “Tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian. Demi Allah, bila kalian tidak menegakkan shaf kalian, maka Allah akan mencerai-beraikan hati kalian”. An-Nu’man berkata : “Aku saksikan sendiri, masing-masing diantara kami saling menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya” [HR. Abu Dawud no. 662 dengan sanad shahih]. &lt;br /&gt;4. Atsar dari Nafi’ Maula Ibni ‘Umar bahwasannya ia menceritakan : &lt;br /&gt;كان عمر يبعث رجلا يقوم الصفوف ثم لا يكبر حتى يأتيه فيخبره أن الصفوف قد اعتدلت &lt;br /&gt;”Adalah ’Umar (bin Al-Khaththab) radliyallaahu ’anhu menugaskan seseorang untuk mengatur shaff-shaff. Tidaklah ’Umar mulai bertakbir hingga ia (orang yang ditugaskan tersebut) kembali dan mengkhabarkan bahwasannya shaff-shaff telah lurus” [Diriwayatkan oleh ’Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 2437 dan 2439]. &lt;br /&gt;Hadits di atas mengandung faedah diantaranya : &lt;br /&gt;• Disunnahkannya meluruskan shaff dalam shalat berjama’ah, bahkan banyak di antara ulama yang mengatakannya wajib. Hendaknya para jama’ah benar-benar memperhatikannya dengan memperhatikan kanan kirinya, mengatur diri, dan saling mengingatkan jama’ah lain, sehingga shaf dapat menjadi benar-benar lurus dari awal sampai akhir shalat. &lt;br /&gt;• Termasuk kesempurnaan shaff shalat berjama’ah adalah dengan merapatkannya dengan tidak membiarkan ruang-ruang yang longgar/sela antar jama’ah. Caranya adalah dengan menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki antar jama’ah/makmum sebagaimana hadits Nu’man bin Basyir di atas. Jangan ada perasaan risih karena tertempelnya badan saudara kita dengan badan kita. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;br /&gt;خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلاةِ &lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang mempunyai bahu paling lembut di dalam shalat” [HR. Abu Dawud no. 623; shahih lighairihi]. &lt;br /&gt;Maksud hadits ini adalah bahwa salah satu katagori orang yang paling baik adalah orang yang ketika berada di dalam shaff, kemudian ada orang lain yang memegang bahunya untuk menyempurnakan (merapatkan dan meluruskan) shaff, ia akan tunduk dengan hati yang ikhlash lagi lapang tanpa ada pembangkangan [lihat selengkapnya dalam Badzlul-Majhuud 4/338 dan Ma’alimus-Sunan 1/184]. &lt;br /&gt;• Hendaknya imam memperhatikan keadaan para jama’ahnya dengan selalu mengingatkan agar shaff selalu lurus dan rapat. Menjadi satu “keharusan” bagi seorang imam sebelum memulai shalat untuk mengatur shaff jama’ah. Tidak cukup bagi imam hanya mengatakan [sawwuu shufuufakum dst. “سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ......]. Tapi harus diikuti dengan mengingatkan dan memeriksa keadaan shaf jama’ahnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Imam bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya (yaitu jama’ah/makmum). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;br /&gt;كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ اَلْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ &lt;br /&gt;“Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan seorang imam adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya” [HR. Bukhari no. 853]. &lt;br /&gt;• Bolehnya seorang imam menugaskan seseorang atau lebih untuk mengatur shaff-shaff shalat agar lurus dan rapat. &lt;br /&gt;Sangat dianjurkan menyambung shaff dan mengisi shaff yang lowong. &lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaff yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allah satu tingkat” [HR. Ibnu Majah no. 995; shahih lighairihi]. &lt;br /&gt;Termasuk hal yang diperbolehkan dalam hal ini adalah seorang makmum maju mengisi shaff yang lowong/kosong yang ada di depannya (yang mungkin disebabkan makmum yang ada di shaff di depannya batal meninggalkan shaff) ketika shalat berjama’ah sedang berlangsung.[4] &lt;br /&gt;Shaff pertama adalah shaff yang paling baik &lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;br /&gt;لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا ... &lt;br /&gt;“Seandainya manusia mengetahui pahala dari adzan dan shalat jama’ah di shaff pertama, dan itu hanya bisa mereka dapatkan dengan berundi, maka pasti mereka berundi” [HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437]. &lt;br /&gt;خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا &lt;br /&gt;“Sebaik-baik shaff bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling jelek adalah yang paling belakang. Adapun sebaik-baik shaff bagi wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling jelek adalah yang paling depan” [HR. Muslim no. 440] [5] &lt;br /&gt;Shaff bagian kanan lebih afdlal daripada shaff sebelah kiri. &lt;br /&gt;Point ini khusus ditujukan bagi makmum secara umum yang bukan termasuk jajaran orang-orang yang lebih berhak menempati posisi di belakang imam (yaitu makmum dari kalangan ’alim dan faqih) sebagaimana dibahas di point 1. &lt;br /&gt;Dari Al-Barra’ bin ’Azib radliyallaahu ’anhu ia berkata : &lt;br /&gt;كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أًحْبَبْنَا أَنْ نَكُوْنَ عَنْ يَمِيْنِهِ يُقْبَلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ رَبِّ قِنِيْ عَذَابكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ &lt;br /&gt;”Kami apabila shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam senang menempati shaff di sebelah kanan. Beliau kemudian menghadap ke arah kami dan bersabda : “Rabbi (Tuhanku), peliharalah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan (mengumpulkan) ham-hamba-Mu” [HR. Muslim no. 709, Ibnu Majah no. 1006, dan Ibnu Khuzaimah no. 1563-1565. Ini adalah lafadh Muslim].[6] &lt;br /&gt;Berdirinya makmum sendirian di belakang shaff dapat menyebabkan shalatnya (si makmum tersebut) tidak sah. &lt;br /&gt;Dari Hadits Ali bin Syaiban radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki shalat bermakmum di belakang shaf, maka beliau berhenti sampai laki-laki itu selesai shalat. Selanjutnya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;br /&gt;اسْتَقْبِلْ صَلاتَكَ فَلا صَلاةَ لِرَجُلٍ فَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ &lt;br /&gt;“Ulangi kembali shalatmu. Tidak sah shalat seorang yang yang bermakmum sendirian di belakang shaf” [HR. Ahmad 4/23 no. 16340 dan Ibnu Majah no. 1003; dengan sanad shahih]. &lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang permasalahan ini. Namun yang rajih, insya allah, adalah pendapat yang mengatakan : “shalat tersebut tidak sah tanpa adanya udzur syar’i”. Maksudnya : Bila shaff di depannya masih longgar atau tidak rapat sehingga masih memungkinkan baginya masuk mengisi di shaff tersebut; namun dia malah memilih berdiri sendirian di belakang shaf tersebut, maka shalatnya tidak sah. Namun bila shaf di depannya telah penuh dan rapat sehingga tidak mungkin dia masuk mengisi di antara shaf-shaf tersebut, maka shalatnya tetap sah. Wallaahu a’lam. [7] &lt;br /&gt;Orang yang bermakmum sendirian berada sejajar satu shaff dengan imam. &lt;br /&gt;Dari ’Abdullah bin ’Abbas radliyallaahu ’anhuma ia berkata : &lt;br /&gt;بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ إلى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍِ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ ثُمَّ قَالَ نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةٌُ تُشْبِهُهَا ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِيْنِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيْطَهُ أَوْ خَطِيْطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلى الصَّلاةِ &lt;br /&gt;”Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah bin Al-Harits, istri Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam; dan ketika itu beliau berada di rumah bibi saya itu. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat ‘Isya’ (di masjid), kemudian beliau pulang, lalu beliau mengerjakan shalat sunnah empat raka’at. Setelah itu beliau tidur, lalu beliau bangun dan bertanya : “Apakah anak laki-laki itu (Ibnu ‘Abbas) sudah tidur ?” atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna dengan itu. Kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau untuk bermakmum. Akan tetapi kemudian beliau menjadikanku berposisi di sebelah kanan beliau. Beliau shalat lima raka’at, kemudian shalat lagi dua raka’at, kemudian beliau tidur. Aku mendengar suara dengkurannya yang samar-samar. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun, lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh” [HR. Bukhari no. 117, Muslim no. 763]. &lt;br /&gt;Muhammad bin Isma’il Ash-Shan’ani berkata : ”Kemudian perkataan Ibnu ‘Abbas : “Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikanku (berposisi) di sebelah kanan beliau” jelas menunjukkan bahwa ia (Ibnu ‘Abbas) berdiri sejajar dengan beliau. Dan dalam lafadh yang lain disebutkan (فقمت إلى جنبه) = “Aku berdiri di samping beliau”. Dari sebagian shahabat Asy-Syafi’i menyukai/menganjurkan agar makmum berdiri sedikit di belakang (dari imam). Akan tetapi (hal itu terbantah) bahwasannya Ibnu Juraij telah meriwayatkan/berkata : Kami bertanya kepada ‘Atha’ : Seorang laki-laki shalat (berjama’ah) bersama seorang laki-laki (imam). Dimanakah posisi ia berdiri dari imam tersebut ?”. ‘Atha’ menjawab : “Di sebelahnya”. Aku berkata : “Apakah ia berdiri sejajar dengan imam sehingga berbaris ( = sebaris dengan imam), sehingga tidak ada selisih antara imam dan makmum ?”. ‘Atha’ menjawab lagi : “Ya”. Aku berkata : “Apakah tempatnya tidak jauh sehingga tidak ada selang antara keduanya ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Riwayat serupa (juga terdapat) dalam Al-Muwaththa’ dari ‘Umar dari hadits Ibnu Mas’ud bahwasannya Ibnu Mas’ud satu shaff dengan ‘Umar dan ‘Umar menjadikan dia sejajar dengan ‘Umar di sebelah kanannya. [Subulus-Salaam 2/44]. [8] &lt;br /&gt;Menghindari tiang atau sesuatu lain dalam shaff (yang akan memutus kebersambungan shaff). &lt;br /&gt;Dari Mu’awiyyah bin Qurrah dari bapaknya radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : &lt;br /&gt;كُنَّا نُنْهَى أَنْ نَصُفَّ بَيْنَ السَّوَارِيْ عَلَى عَهْدِ رَسوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَنُطْرَدُ عَنْهَا طَرْداً &lt;br /&gt;“Kami dilarang untuk berbaris di antara tiang-tiang di jaman Rasulullah dan kami menyingkir darinya” (HR. Ibnu Majah no. 1002, Ibnu Khuzaimah no. 1567, dan Ibnu Hibban no. 2219; dengan sanad shahih). &lt;br /&gt;Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata : &lt;br /&gt;صَلَّيْتُ مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَدُفِعْنَا إِلَى السَّوَارِيْ فَتَقَدَّمْنَا وَتَأَخَّرْنَا فَقَالَ أَنَس كُنَّا نَتَّقِي هَذَا عَلَى عَهْدِ رَسوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم &lt;br /&gt;“Aku shalat bersama Anas bin Malik, dan kami terdesak (berbaris) pada tiang-tiang masjid. Sebagian di antara kami ada yang maju dan ada pula yang mundur. Maka Anas berkata : ‘Kami menghindari ini di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” (HR. Abu Dawud no. 673, Ibnu Khuzaimah no. 1568, Ibnu Hibban no. 2218, dan lain-lain; dengan sanad shahih). &lt;br /&gt;Hadits di atas menunjukkan bahwa shaff sebaiknya menghindari jalur yang ada tiangnya, karena hal itu dapat memutuskan shaff. Hal ini dilakukan apabila memungkinkan, yaitu masjidnya luas. Namun apabila sempit, maka tidak mengapa insya Allah. &lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Marilah kita membiasakan diri dan ‘memakmurkan’ sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sebagai penutup bahasan, apa yang menjadi maksud penulisan risalah singkat ini adalah sebagaimana dikatakan Nabi Hud dalam Al-Qur’an : &lt;br /&gt;إِنْ أُرِيدُ إِلاّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِيَ إِلاّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ &lt;br /&gt;“Aku tidak bermaksud (kecuali) mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” [QS. Huud : 88]. &lt;br /&gt;Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam. &lt;br /&gt;Catatan kaki :&lt;br /&gt;[1] Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah bersabda : &lt;br /&gt;”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواءً فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواءً فأقدمهم سلماً – وفي رواية - سنّاً ولا يؤمّنَّ الرَّجلُ الرَّجلَ في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكْرِمَتِه إلا بإذنه“. وفي لفظ: ”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله وأقدمهم قراءة، فإن كانت قراءتهم سواءً...“ &lt;br /&gt;”Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Kalau dalam Al-Qur’an kemampuannya sama, dipilih yang paling mengerti tentang Sunnah. Kalau dalam Sunnah juga sama, maka dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau dalam berhijrah sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam”. Dalam riwayat lain : ”.....yang paling tua usianya”. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasannya, dan janganlah ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa ijin darinya”. &lt;br /&gt;Dan dalam lafadh yang lain : ”Satu kaum diimami oleh orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka dan yang paling berpengalaman membacanya. Kalau bacaan mereka sama.... (sama seperti lafadh sebelumnya)". [HR. Muslim no. 673]. &lt;br /&gt;[2] Caranya adalah : Imam yang udzur atau batal shalatnya tersebut memegang tangan salah seorang makmum di belakangnya yang menurutnya pantas untuk maju menggantikannya sebagai imam shalat. Dasarnya adalah atsar ‘Amru bin Maimun yang menceritakan : &lt;br /&gt;إني لقائم ما بيني بينه (عمر بن الخطاب) إلا عبد الله بن عباس غداة أصيب ،...... فما هو إلا أن كبَّر فسمعته يقول: قتلني أو أكلني الكلب حين طعنه،.... وتناول عمر يد عبد الرحمن بن عوف فقدَّمه،..... فصلى بهم عبد الرحمن صلاة خفيفة &lt;br /&gt;”Aku ketika itu sedang berdiri, sementara antara aku dengannya (yaitu ’Umar bin Al-Khaththab) hanya ada ’Abdullah bin ’Abbas - pada hari ketika beliau tertikam. Saat itu ’Umar hanya bertakbir dan aku mendengarnya berkata : ”Aku dibunuh atau aku dimakan oleh anjing” ; yaitu ketika beliau tertikam. ’Umar segera memegang tangan ’Abdurrahman bin ’Auf dan mengajukannya sebagai imam. ’Abdurrahman langsung shalat mengimami jama’ah secara ringkas” [HR. Bukhari no. 3497 dengan peringkasan]. &lt;br /&gt;Asy-Syaukani menjelaskan : ”Dalam hal itu ada indikasi yang membolehkan seorang imam mengambil pengganti ketika ia berhalangan sehingga tindakan itu harus diambil. Karena para shahabat membenarkan tindakan ’Umar dan tidak ada yang menyalahkannya, sehingga menjadi ijma’. Demikian juga tindakan serupa dilakukan oleh ’Ali dan para shahabat juga membenarkannya” [Nailul-Authaar 2/416]. &lt;br /&gt;[3] Kayu untuk anak panah ketika dipahat dan diasah menjadi anak panah. &lt;br /&gt;[4] Dalilnya adalah hadits Sahl bin Sa’d As-Saa’idy radliyallaahu ‘anhu : &lt;br /&gt;أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذهب إلى بني عمرو بن عوف ليصلح بينهم فحانت الصلاة فجاء المؤذن إلى أبي بكر فقال أتصلي بالناس فأقيم قال نعم قال فصلى أبو بكر فجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم والناس في الصلاة فتخلص حتى وقف في الصف فصفق الناس وكان أبو بكر لا يلتفت في الصلاة فلما أكثر الناس التصفيق التفت فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأشار إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أن امكث مكانك فرفع أبو بكر يديه فحمد الله عز وجل على ما أمره به رسول الله صلى الله عليه وسلم من ذلك ثم استأخر أبو بكر حتى استوى في الصف وتقدم النبي صلى الله عليه وسلم فصلى ثم انصرف فقال يا أبا بكر ما منعك أن تثبت إذ أمرتك قال أبو بكر ما كان لابن أبي قحافة أن يصلي بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم مالي رأيتكم أكثرتم التصفيق من نابه شيء في صلاته فليسبح فإنه إذا سبح التفت إليه وإنما التصفيح للنساء &lt;br /&gt;Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah pergi ke Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka. Datanglah waktu shalat, lalu muadzin datang menemui Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu dan berkata : “Maukah engkau shalat bersama manusia (dan menjadi imam) ? Akan aku kumandangkan iqamat sekarang”. Abu Bakr menjawab : “Ya”. Maka Abu Bakr pun shalat (dan menjadi imam bagi mereka). Datanglah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ketika manusia sedang menunaikan shalatnya. Beliau mengendap ke depan hingga masuk ke shaff makmum. Para makmum pun bertepuk tangan memberi isyarat, namun Abu Bakr tidak menoleh sedikitpun dalam shalatnya. Ketika semakin banyak makmum yang bertepuk tangan, Abu Bakr pun akhirnya menoleh dan melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memberikan isyarat kepadanya agar tetap diam di tempatnya (menjadi imam shalat). Abu Bakr mengangkat kedua tangannya, bertahmid kepada Allah ’azza wa jalla atas perintah Rasulullah kepada dirinya tersebut. Namun ia tetap mundur dan masuk ke dalam shaff makmum (yang ada di belakangnya). Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pun maju menjadi imam. Ketika selesai, beliau bersabda : ”Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berada di tempatmu sebagaimana aku perintahkan ?”. Abu Bakr menjawab : ”Tidaklah pantas bagi seorang anak Abu Quhafah shalat di depan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam” [HR. Bukhari no. 652 dan Muslim no. 421]. &lt;br /&gt;Hadits di atas menunjukkan bolehnya seorang imam atau makmum untuk maju atau mundur dari shaff karena satu sebab/keperluan dalam shalat. &lt;br /&gt;[5] Shaff paling baik bagi wanita adalah yang paling belakang ini berlaku ketika jama’ah bercampur antara laki-laki dan perempuan. Namun jika jama’ah hanya terdiri dari kaum wanita saja, maka shaff yang paling baik adalah yang terdepan sebagaimana keumuman hadits sebelumnya. Wallaahu a’lam. &lt;br /&gt;[6] Tanbih !! Termasuk kesalahan imam adalah ketika ia memerintahkan makmum untuk menyeimbangkan antara shaff yang sebelah kanan dengan shaff sebelah kiri ketika ia melihat para jama’ah lebih memilih shaff sebelah kanan. Samahatusy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin Baaz mengatakan : &lt;br /&gt;قد ثبت عن النبي ما يدل على أن يمين كل صفّ ، أفضل من يساره ، ولا يشرع أن يقال للناس : [اعدلوا الصف] ولا حرج أن يكون يمين الصف أكثر ، حرصاً على تحصيل الفضل . أما ما ذكره بعضهم من حديث : ((مَنْ عمر مياسر الصفوف ، فله أجران)) فلا أعلم له أصلاً !! و الأظهر أنه موضوع ، وضعه بعض الكسالى الذين لا يحرصون على يمين الصف ، أو لا يسابقون إليه ، والله الهادي إلى سواء السبيل &lt;br /&gt;”Telah tetap dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam yang menunjukkan bahwasannya shaff di sebelah kanan itu lebih afdlal (utama) dibandingkan sebelah kiri. Tidaklah disyari’atkan (bagi imam) untuk mengatakan kepada makmum : ”Seimbangkanlah shaff”. Tidaklah mengapa jika makmum yang berada di sebelah kanan shaff itu lebih banyak (dibandingkan sebelah kiri) karena menginginkan keutamaannya. Adapun yang disebutkan oleh sebagian orang tentang hadits : ”Barangsiapa yang mengisi shaff sebelah kiri, maka baginya dua pahala” . Aku tidak mengetahui darimana hadits ini berasal. Bahkan hadits itu adalah hadits palsu, yang dipalsukan oleh sebagian orang-orang yang malas yang tidak bersemangat atau bergegas mengisi shaff sebelah kanan. Hanya Allah sajalah yang menunjukkan jalan yang benar” [Al-Fataawaa 1/61]. &lt;br /&gt;[7] Sebagai rujukan untuk muraja’ah, dapat dilihat kitab-kitab sebagai berikut : Al-Mughni (Ibnu Qudamah) 3/49, Nailul-Authar (Asy-Syaukani) 2/429, Asy-Syarhul-Mumti’ (Al-‘Utsaimin), dan yang lainnya. &lt;br /&gt;[8] Hal ini berlaku pada shalat wajib dan shalat sunnah secara umum yang antara makmum dan imam sejenis (laki-laki semua atau wanita semua). Adapun jika imamnya laki-laki dan makmumnya wanita, maka posisinya tetap sebagaimana biasa, yaitu imam di depan dan makmum di belakang. &lt;br /&gt;Kaifiyah ini dikecualikan untuk shalat jenazah berjama’ah. Imam tetap berada di depan makmum, berapapun jumlah makmum. Hal itu didasari oleh hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah disebutkan : &lt;br /&gt;أن أبا طلحة دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى عمير بن أبي طلحة حين توفي فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى عليه في منزلهم ، فتقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وكان أبو طلحة وراءه وأم سليم وراء أبي طلحة ، ولم يكن معهم غيرهم &lt;br /&gt;“Bahwasannya Abu Thalhah pernah mengundang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendatangi ‘Umair bin Abi Thalhah pada saat itu ia meninggal dunia. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam datang menshalatkannya di tempat tinggal mereka. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam maju sedang Abu Thalhah di belakang beliau serta Ummu Sulaim di belakang Abu Thalhah. Dan tidak ada orang lain lagi bersama mereka” [HR. Hakim 1/365, Baihaqi 4/30 dan 31. Al-Hakim berkata : “Hadits ini shahih sesuai syarat Asy-Syaikhaan”. Pernyataan ini disepakati oleh Adz-Dzahabi. Akan tetapi perkataan Al-Hakim itu dibantah oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkaamul-Janaaiz yang mengatakan : Hadits itu shahih hanya berdasarkan syarat Muslim saja].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;Bila makmum masbuq lebih dari 1 orang dan imam utama&lt;br /&gt;[rowatib] telah salam. Yang shahih apakah makmum tersebut menyempurnakan&lt;br /&gt;sendiri2 atau membuat jamaah lagi dengan mengangkat salah satu makmum&lt;br /&gt;menjadi imam? Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah&lt;br /&gt;Tidak ada keterangan kalau masbuq lebih dari satu, jika imam sudah salam,&lt;br /&gt;mangangkat salah satu dari mereka (makmum tersebut) untuk menjadi imam.&lt;br /&gt;***(Masbuk melanjutkan jama'ah kedua, ketiga dst..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada keterangannya dengan jelas, adalah apabila kita mendapatkan satu&lt;br /&gt;raka'at bersama imam berarti dia telah mendapatkan shalat jama'ah, maksudnya&lt;br /&gt;adalah : Apabila kita masbuq pada raka'at ke 2 atau ke 3, maka kita telah&lt;br /&gt;mendapatkan pahala shalat jama'ah, sedangkan kekurangannya, kita&lt;br /&gt;sempurnakan. Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti penjelasan dibawah ini, yang di copy dari http://www.almanhaj.or.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalilnya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa mendapati satu raka'at bersama imam berarti ia telah&lt;br /&gt;mendapati shalat jama'ah" [Muttafaqun 'Alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma dari Rasulullah&lt;br /&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa mendapati satu raka'at shalat Jum'at atau shalat&lt;br /&gt;jama'ah lainnya berarti ia telah mendapati shalat berjama'ah" [Sunan Ibnu&lt;br /&gt;Majah I/202 no. 1110]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua hadits diatas secara jelas menyatakan bahwa siapa saja yang mendapati&lt;br /&gt;satu rakaat shalat Jum'at maupun shalat lainnya bersama imam berarti ia&lt;br /&gt;telah mendapati shalat jama'ah. Shalat jama'ah termasuk dalam rangkaian&lt;br /&gt;shalat yang hanya dikatakan mendapatinya bila telah mendapati satu raka'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam bawha beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Jika shalat telah ditegakkan maka janganlah kamu mendatanginya&lt;br /&gt;dengan tergesa-gesa. Berjalanlah dengan tenang dan kerjakanlah apa yang kamu&lt;br /&gt;dapati bersama imam serta sempurnakanlah apa yang terluput darinya" [Shahih&lt;br /&gt;Muslim I/420 no. 602]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=1890&amp;bagian=0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUDUKAN SESEORANG YANG MENDAPATI AKHIR RAKAAT DALAM SHALAT JAMA'AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani&lt;br /&gt;http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=2070&amp;bagian=0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Seseorang mendapati jama'ah&lt;br /&gt;isya pada akhir raka'at. Kemudian ia menyempurnakan kekurangannya yang tiga&lt;br /&gt;rakaat. Apakah yang tiga rakaat ini disebut melengkapi kekurangan atau&lt;br /&gt;disebut qadha'? Dan apakah tiga rakaat itu dibaca secara jahar/keras ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Ulama dalam masalah ini, terdapat dua pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Pertama.&lt;br /&gt;Bahwa masbuq (orang yang ketinggalan shalat jamaah), ketika dia&lt;br /&gt;menyempurnakan kekurangan shalatnya berarti ia meng-qadha' (mengulangi)&lt;br /&gt;rakaat yang terluput, dan yang ia qadha itu, dianggap sebagai awal shalatnya&lt;br /&gt;(rakaat pertama, kedua dst), ini adalah madzhab Hanafiyyah (pengikut Abu&lt;br /&gt;Hanifah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Kedua&lt;br /&gt;Bahwa yang didapati oleh seoran masbuq bersama imam adalah awal shalatnya,&lt;br /&gt;sedangkan sisa raka'at yang ia kerjakan setalah imam salam, adalah merupakan&lt;br /&gt;rakaat berikutnya (bukan rakaat pertama, kedua dst).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab perselisihan ini adalah adanya dua riwayat yang telah cukup terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apa yang kalian dapatkan bersama imam, lakukanlah bersama imam.&lt;br /&gt;Sedangkan sisanya harus kalian sempurnakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedangkan sisanya harus kalian qadha"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselisihan itu terjadi karena setiap madzhab berdalil dengan salah satu&lt;br /&gt;dari kedua riwayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak ragu bahwa pendapat kedua yang merupakan madzhab Imam Asy-Syafi'i&lt;br /&gt;adalah pendapat yang benar. Karena tidak ada perbedaan antara dua riwayat&lt;br /&gt;tersebut dari segi makna kalimat " Sedangkan sisanya harus kalian qadha",&lt;br /&gt;secara bahasa artinya adalah : "Harus kalian sempurnakan (tunaikan) qadha".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Hanafiyyah menafsirkan kalimat : "Harus kalian qadha!", dengan&lt;br /&gt;pemahaman qadha secara istilah. Padahal dalam bahasa Arab : "Harus kalian&lt;br /&gt;qadha!" mempunyai makna : "Harus kalian sempurnakan (tunaikan)!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan makna ini semakin jelas jika kita meruju beberapa ayat Al-Qur'an&lt;br /&gt;mislanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan jika telah diqadha' (tunaikan) shalat, bertebaranlah di muka&lt;br /&gt;bumi" [Al-Jumu'ah : 10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorangpun yang memahami arti qadha dalam ayat ini dengan qadha&lt;br /&gt;secara istilah fiqih (menunaikan suatu kewajiban diluar waktu yang telah&lt;br /&gt;ditentukan). Jadi arti qadha di sini adalah menunaikan/menyempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Maka jika kalian telah mengqadha' mansik-manasik kalian"&lt;br /&gt;[Al-Baqarah : 200]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna meng-qadha' manasik-manasik kalian yaitu menyempurnakan&lt;br /&gt;manasik-manasik kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pertanyaan kedua dapat dipahami dari penjelasan di atas, maka kami&lt;br /&gt;jawab : Bahwa masbuq ketinggalan tiga rakaat, maka ia harus menambah satu&lt;br /&gt;raka'at kemudian bertasyahud awal, kemudian ia tambahkan dua raka'at lagi&lt;br /&gt;tanpa men-jahar-kan bacaan, dan tidak membaca apa-apa setelah membaca&lt;br /&gt;Al-Fatihah dalam dua rakaat terakhir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg16073.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;باب الإمام ينتقل مأموماً إذا استخلف فحضر مستخلفه&lt;br /&gt;عن سهل بن سعد: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْروِ بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتْ الصَّلاَةُ فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبي بَكْرٍ فَقَالَ: أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ فَأَقِيمُ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلاَةِ فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ فَصَفَّقُ النَّاسُ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِي الصَّلاَةِ، فَلَمَّا اكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ امْكُثْ مَكَانَكَ، فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ فَحَمَدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ وَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرتك؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لاِبْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ، مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتَفَتَ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ» متفق عليه. وفي رواية لأحمد وأبي داود والنسائي قال: «كَانَ قِتَالٌ بَيْنَ بَنِي عَمْروِ بْنِ عَوْفٍ فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُم بَعْدَ الظُّهْرِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ وَقَالَ: يَا بِلاَلُ إِنْ حَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَلَمْ آتِ فَمُرْ أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قَالَ: فَلَمَّا حَضَرَتِ الْعَصْرُ أَقَامَ بِلاَلُ الصَّلاَةَ ثُمَّ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ فَتَقَدَّمَ» وذكر الحديث.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قوله: «ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْروِ بْنِ عَوْفٍ» أي ابن مالك بن الأوس، والأوس أحد قبيلتي الأنصار وهما: الأوس والخزرج، وبنو عمرو بن عوف بطن كبير من الأوس. وسبب ذهابه إليهم كما في الرواية التي ذكرها المصنف وقد ذكر نحوها البخاري في الصلح من طريق محمد بن جعفر عن أبي حازم أن أهل قباء اقتتلوا حتى تراموا بالحجارة، فأخبر رسول الله صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم بذلك فقال: اذهبوا نصلح بينهم. وله فيه من رواية غسان عن أبي حازم، فخرج في ناس من أصحابه، وله أيضاً في الأحكام من صحيحه من طريق حماد بن زيد أن توجهه كان بعد أن صلّى الظهر. وللطبراني أن الخبر جاء بذلك وقد أذن بلال لصلاة الظهر.&lt;br /&gt;قوله: «فَحَانَتِ الصَّلاَةُ» أي صلاة العصر كما صرّح به البخاري في الأحكام من صحيحه.&lt;br /&gt;قوله: «فَقَالَ أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ» في الرواية الأخرى التي ذكرها المصنف أن النبي صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم هو الذي أمر بلالاً أن يأمر أبا بكر بذلك، وقد أخرج نحوها ابن حبان والطبراني، ولا مخالفة بين الروايتين لأنه يحمل على أنه استفهمه، هل تبادر أول الوقت أو ننتظر مجيء النبي صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم؟ فرجح أبو بكر المبادرة لأنها فضيلة محققة، فلا تترك لفضيلة متوهمة.&lt;br /&gt;قوله: «فَأُقِيمُ» بالنصب لأنها بعد الاستفهام، ويجوز الرفع على الاستئناف.&lt;br /&gt;قوله: «قَالَ نَعَمْ» في رواية للبخاري: «إِنْ شِئْتَ» وإنما فوّض ذلك إليه لاحتمال أن يكون عنده زيادة علم من النبي صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم في ذلك.&lt;br /&gt;قوله: «فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ» أَي دخل في الصلاة، وفي لفظ للبخاري: «فَتَقَدَّمَ أَبُو بَكْرٍ فَكَبَّرَ». وفي رواية: «فَاسْتَفْتَحَ أَبُو بَكْرٍ» وبهذا يجاب عن سبب استمراره في الصلاة في مرض موته صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم، وامتناعه من الاستمرار في هذا المقام، لأنه هناك قد مضى معظم الصلاة فحسن الاستمرار، وهنا لم يمض إلاَّ اليسير فلم يحسن.&lt;br /&gt;قوله: «فَنَخَلَّصَ» في رواية للبخاري: «فَجَاءَ يَمْشِي حَتَّى قَامَ عِنْدَ الصَّفِّ»، ولمسلم: «فَخَرَقَ الصُّفُوفَ».&lt;br /&gt;قوله: «فَصَفَّقُ النَّاسُ» في رواية للبخاري: «فَأَخَذَ النَّاسُ فِي التَّصْفِيحِ، قَالَ سَهْلٌ: أَتَدْرُونَ مَا التَّصْفِيحُ؟ هُوَ التَّصْفِيقُ». وفيه أنهما مترادفان، وقد تقدم التنبيه على ذلك.&lt;br /&gt;قوله: «وكان أبو بكر لا يلتفت» قيل: كان ذلك لعلمه بالنهي وقد تقدم الكلام عليه.&lt;br /&gt;قوله: «فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ فَحَمَدَ اللَّهَ» . الخ، ظاهره أنه تلفظ بالحمد، وادعى ابن الجوزي أنه أشار بالحمد والشكر بيده ولم يتكلم.&lt;br /&gt;قوله: «أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ » تقرير النبي له على ذلك يدل على ما قاله البعض من أن سلوك طريقة الأدب خير من الامتثال، ويؤيد ذلك عدم إنكاره على علي عليه السلام لما امتنع من محو اسمه في قصة الحديبية. وقد قدمنا الإشارة إلى هذا المعنى في أبواب صفة الصلاة.&lt;br /&gt;قوله: «أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ» ظاهره أن الإنكار إنما حصل لكثرته لا لمطلقه، ولكن قوله: «إِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ» يدل على منع الرجال منه مطلقاً.&lt;br /&gt;قوله: «الْتَفَتَ إِلَيْهِ» بضم المثناة على البناء للمجهول. وفي رواية للبخاري: «فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ حِينَ يَقُولُ سُبُحَانَ اللَّهَ إِلاَّ الْتَفَتَ». (والحديث) يدل على ما بوّب له المصنف من جواز انتقال الإمام مأموماً إذا استخلف فحضر مستخلفه، وادعى ابن عبد البر أن ذلك من خصائص النبي ، وادعى الإجماع على عدم جواز ذلك لغيره، ونوقض أن الخلاف ثابت، وأن الصحيح المشهور عند الشافعية الجواز، وروى عن ابن القاسم الجواز أيضاً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وللحديث فوائد ذكر المصنف رحمه الله تعالىٰ بعضها فقال فيه: من العلم أن المشي من صف إلى صف يليه لا يبطل، وأن حمد الله لأمر يحدث والتنبيه بالتسبيح جائزان، وأن الاستخلاف في الصلاة لعذر جائز من طريق الأولى، لأن قصاراه وقوعها بإمامين اه. ومن فوائد الحديث جواز كون المرء في بعض صلاته إماماً، وفي بعضها مأموماً. وجواز رفع اليدين في الصلاة عند الدعاء والثناء. وجواز الإلتفات للحاجة، وجواز مخاطبة المصلي بالإشارة، وجواز الحمد والشكر على الوجاهة في الدين. وجواز إمامة المفضول للفاضل. وجواز العمل القليل في الصلاة، وغير ذلك من الفوائد.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نيل الأوطار شرح منتقى الأخبار / الجزء الثالث *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;محمد بن علي بن محمد الشوكاني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hadits ini menunjukan bahwa :&lt;br /&gt;1. berjalan/bergerak dari shaf ke shaf berikutnya tidak membatalkan shalat&lt;br /&gt;2. bertahmid karena suatu hal dan bertasbih untuk mengingatkan imam dibolehkan&lt;br /&gt;3. meminta digantikan posisi imam karena uzur dibolehkan dengan cara pertama&lt;br /&gt;4. Seseorang boleh dalam satu shalat satu waktu sebagai imam atau menjadi makmum&lt;br /&gt;5. boleh mengangkat tangan dalam shalat ketika berdo'a atau memuji&lt;br /&gt;6. boleh mengajak orang dalam shalat dengan isyarat&lt;br /&gt;7. boleh bersyukur dan bertahmid dalam urusan agama&lt;br /&gt;8. boleh mengangkat imam yg diutamakan kedudukannya untuk yg utama&lt;br /&gt;9. boleh melakukan sedikit gerakan dalam shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam Bish-Shawwab&lt;br /&gt;Selasa pukul 20:19 · Hapus Kiriman&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;Subhan Nurdin Berjamaah bagi Makmum yang Masbuq*&lt;br /&gt;Ditulis Oleh. Administrator&lt;br /&gt;Tuesday, 12 December 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah yaitu shalat yang dilakukan bersama oleh dua orang atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaanya,&lt;br /&gt;berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad 1, hendaklah salah seorang (dalam shalat berjamaah) menjadi imam.Dan berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad 2 juga, bahwa shalat berjamaah yang terdiri dari dua orang, posisi makmum berada di samping kanan imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat berjamaah memiliki keutamaan daripada shalat yang dilakukan sendirian ( munfarid ). Beberapa riwayat yang menerangkan tentang keutamaan shalat berjamaah yaitu:&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata: “Rasulullah saw. Bersabda: ‘ Shalat berjamaah itu mengungguli keutamaan shalat munfarid dengan duapuluh tujuh derajat'” Muttafaq Alaih 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ubay bin Ka'ab, ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda:” Shalat seseorang dengan sesorang lainnya (berjamaah) lebih bersih dari shalat sendirian ( munfarid). Dan shalatnya dengan dua orang lainnya lebih bersih daripada shalatnya bersama seorang lainnya. Dan lebih banyak (jumlahnya) maka lebih dicintai oleh Allah Ta'alaa” 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena umumnya dalil di atas serta tidak adanya pengecualian/pengkhususan ( takhsis), Maka tidak ada halangan bagi makmum yang masbuq dari mendapatkan pahala atau keutamaan shalat secara berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika Nabi saw. Bermakmum kepada Abu Bakar. Kemudian karena Abu Bakar tidak sanggup (merasa tidak pantas) untuk mengimami Rasulullah saw. akhirnya Rasulullah saw. menjadi imam dan Abu Bakar menjadi makmum. Dengan kata lain Nabi saw. sebagai makmum yang masbuq menjadi imam dan Abu Bakar sebagai imam menjadi makmum. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim :&lt;br /&gt;Dari Aisyah , ia berkata :“ketika Nabi merasakan sakitnya semakin berat, Bilal datang memberi tahu beliau tentang shalat. Nabi bersabda:” Suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, dia itu seorang yang mudah menangis, kapan saja ia berdiri di tempat biasa engkau mengimami, suaranya tidak akan terdengar oleh makmum. Bagaimana jika engkau suruh saja Umar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Bersabda:” Suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah)”. Lalu ‘Aisyah berkata kepada Hafshah:”katakanlah olehmu (Hafshah) kepada beliau ‘Bahwasannya Abu Bakar itu seorang yang mudah menangis, kapan saja ia berdiri di tempat biasa engkau mengimami, suaranya tidak akan terdengar oleh makmum'.&lt;br /&gt;Lalu Hafshah pun mengatakannya kepada beliau. Lalu Nabi saw. bersabda :” kalian ini kawan-kawan Nabi Yusuf, suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka pun menyuruh Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah). Ketika Abu Bakar telah mulai mengimami, Rasulullah saw. merasakan rasa ringan pada sakit beliau, maka beliau dipapah oleh dua orang masuk masjid dan kakinya tergusur di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika beliau masuk masjid, Abu Bakar merasakannya, dan mencoba untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abu Bakar tetap ditempatnya.&lt;br /&gt;Datanglah Rasulullah saw. dan duduk disebelah kiri Abu Bakar”. Aisyah menerangkan lagi,” Maka Rasulullah saw. mengimami jamaah sambil duduk, sedangkan Abu Bakar berdiri bermakmum kepada Nabi dan orang-orang berimam kepada Abu Bakar”.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan Imam Muslim lainnya, Rasulullah saw. pernah masbuq bersama shabat, lalu mereka menyelesaikannya/menyempurnakan kekurangan rakaatnya dengan cara berjamaah. Adapaun haditsnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: “Rasulullah saw. ketinggalan rombongan demikian juga aku … kemudian beliau menaiki kendaraanya dan aku pun berkendaraan bersamanya. Maka kami sampai kepada kaum (rombongan itu),ternyata mereka sedang melaksanakan shalat dan Abdurrahman bin Auf yang mengimami mereka, mereka telah salat satu rakaat. Tatkala Abdurrahman bin Auf merasa bahwa Nabi dating, ia berusaha untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abdurrahman bin Auf tetap pada tempatnya mengimami mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Abdurrahman bin Auf (bersama jamaah) melakukan salam (selesai dari shalatnya), Nabi saw. berdiri dan aku pun berdiri, lalu kami berjamaah melaksanakan rakaat shalat yang ketinggalan” 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah bahwasannya makmum masbuq lebih dari satu orang itu pada saat menambah kekurangan rakaat yang ketinggalan hendaklah dilakukan secara berjamaah. ( Wallahu a'alam bishshwab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu ya'khudzu biadiinaa ilaa maafiihi khaerun lilislaami wal muslimiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Disalin dengan perubahan dari kumpulan Keputusan Dewan Hisbah Persatuan Islam. KH. Wawan Shofwan Shalehuddin."Mengangkat Imam di antara makmum yang Masbuk" .2004&lt;br /&gt;1. HR. Ahmad, al-Musnad Syarah Ahmad Muhammad Syakir. VI:136. no: 4272&lt;br /&gt;2. HR. Ahmad, al-Musnad Syarah Ahmad Muhammad Syakir. I:364 .&lt;br /&gt;3. Shahih al-Bukhori. I:158. dan Shahih Muslim. I:228.&lt;br /&gt;4. Al-Musnad. Imam Ahmad. V:140&lt;br /&gt;5. HR. Muslim. I:197. no: 418&lt;br /&gt;6. HR. Muslim. I:141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.scribd.com/doc/32677832/Posisi-Shaf-Shalat-Berjamaah"&gt;http://www.scribd.com/doc/32677832/Posisi-Shaf-Shalat-Berjamaah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-76012498186192742?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.scribd.com/doc/32677832/Posisi-Shaf-Shalat-Berjamaah' title='Posisi Shaf Shalat Berjama&apos;ah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/76012498186192742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/06/posisi-shaf-shalat-berjamaah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/76012498186192742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/76012498186192742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/06/posisi-shaf-shalat-berjamaah.html' title='Posisi Shaf Shalat Berjama&apos;ah'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/TA2Gq87EKKI/AAAAAAAAAG4/mcTdA34COUU/s72-c/shaf+shalat+berjamaah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-6716923780477748396</id><published>2010-05-03T19:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-03T19:47:37.417-07:00</updated><title type='text'>HUKUM DZIKIR TASMIYAH &amp; BASMALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-KhUkl36I/AAAAAAAAAGw/gMTZz46roKE/s1600/hadits+basmalah4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-KhUkl36I/AAAAAAAAAGw/gMTZz46roKE/s320/hadits+basmalah4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467240777713573794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-Kgs3qxGI/AAAAAAAAAGo/SNTlUb9kZ20/s1600/hadits+basmalah3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-Kgs3qxGI/AAAAAAAAAGo/SNTlUb9kZ20/s320/hadits+basmalah3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467240767056168034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-KgH3yG-I/AAAAAAAAAGg/KmVZjpS-N4s/s1600/hadits+basmalah2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-KgH3yG-I/AAAAAAAAAGg/KmVZjpS-N4s/s320/hadits+basmalah2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467240757124537314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-Kf3FnGaI/AAAAAAAAAGY/NrsUlF9yRww/s1600/hadits+basmalah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-Kf3FnGaI/AAAAAAAAAGY/NrsUlF9yRww/s320/hadits+basmalah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467240752619133346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUM DZIKIR TASMIYAH &amp; BASMALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Dzikir Tasmiyah&lt;br /&gt;- Mengucapkan nama Allah &lt;br /&gt;- Menuliskan asma Allah&lt;br /&gt;- Mengucapkan “bismillah”&lt;br /&gt;- Mengucapkan “bismillahirrahmanirrahim”&lt;br /&gt;- Meniatkan atas nama Allah&lt;br /&gt;- Melakukan sesuatu perbuatan karena Allah (Ikhlash)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalimat Tasmiyah dalam al-Qur’an &amp; Hadits&lt;br /&gt;- Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;- Bismika&lt;br /&gt;- Bismi Rabbi&lt;br /&gt;- Bismillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dalil-dalil tentang tasmiyah&lt;br /&gt;Dalil Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سنن الترمذي ج: 1 ص: 38&lt;br /&gt;عن رباح بن عبد الرحمن بن أبي سفيان بن حويطب عن جدته عن أبيها قالت سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم يقول لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه قال وفي الباب عن عائشة وأبي سعيد وأبي هريرة وسهل بن سعد وأنس قال أبو عيسى قال أحمد بن حنبل لا أعلم في هذا الباب حديثا له إسناد جيد وقال إسحاق إن ترك التسمية عامدا أعاد الوضوء وإن كان ناسيا أو متأولا أجزأه قال محمد بن إسماعيل أحسن شيء في هذا الباب حديث رباح بن عبد الرحمن قال أبو عيسى ورباح بن عبد الرحمن عن جدته عن أبيها وأبوها سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل وأبو ثفال المري اسمه ثمامة بن حصين ورباح بن عبد الرحمن هو أبو بكر بن حويطب منهم من روى هذا الحديث فقال عن أبي بكر بن حويطب فنسبه إلى جده&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سنن الدارمي ج: 1 ص: 187&lt;br /&gt; باب التسمية في الوضوء     691 أخبرنا عبيد الله بن سعيد ثنا أبو عامر العقدي ثنا كثير بن زيد حدثني ربيح بن عبد الرحمن بن أبي سعيد الخدري عن أبيه عن جده عن النبي  صلى الله عليه وسلم  قال   لا وضوء لمن  لم يذكر اسم الله عليه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السنن الصغرى ج: 1 ص: 81&lt;br /&gt; باب كيفية الوضوء      قال الله عز وجل يا ايها الذين ءامنوا اذا قمتم الى الصلوة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم الى المرافق وامسحوا برءوسكم وارجلكم الى الكعبين     92 أخبرنا ابو الحسين بن بشران نا ابو علي اسماعيل بن محمد الصفار نا احمد بن منصور الرمادي نا عبد الرزاق أنا معمر عن ثابت وقتادة عن أنس قال نظر اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وضوءا فلم يجدوه قال فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ههنا فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم وضع يده في الاناء الذي فيه الماء ثم قال توضؤوا بسم الله قال فرأيت الماء يفور بين أصابعه والقوم يتوضؤون حتى توضؤوا عن اخرهم&lt;br /&gt;السنن الصغرى ج: 1 ص: 82&lt;br /&gt;قال ثابت فقلت لأنس تراهم كم كانوا قال كانوا نحوا من سبعين رجلا وهذا الحديث اصح ما روى في التسمية     93 وروى عن النبي صلى الله عليه وسلم من اوجه غير قوية لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه&lt;br /&gt;سنن البيهقي الكبرى ج: 1 ص: 41&lt;br /&gt;  182 وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن محمد بن يحيى ثنا أبو الربيع الزهراني ثنا حماد ثنا يحيى بن سعيد فذكره بمثله إلا أنه قال أيها الناس إنما الأعمال بالنيات رواه البخاري في الصحيح عن محمد بن كثير عن الثوري عن مسدد عن حماد بن زيد ورواه مسلم عن أبي الربيع     183 أخبرنا أبو علي الحسين بن محمد الفقيه أنا أبو بكر بن داسة ثنا أبو داود ثنا قتيبة ثنا محمد بن موسى عن يعقوب بن سلمة عن أبيه عن أبي هريرة قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه     184 حدثنا أبو علي ثنا أبو بكر ثنا أبو داود ثنا أحمد بن عمرو بن السرح ثنا بن وهب عن الدراوردي قال وذكر ربيعة أن تفسير حديث رسول الله  صلى الله عليه وسلم   لا وضوء لمن  لا يذكر اسم الله عليه أنه الذي يتوضأ ويغتسل ولا ينوي وضوءا للصلاة ولا غسلا للجنابة&lt;br /&gt;سنن الدارقطني ج: 1 ص: 72&lt;br /&gt; 4 ثنا عثمان بن أحمد الدقاق نا محمد بن عبيد الله بن المنادي نا أبو بدر نا حارثة بن محمد ونا أحمد بن علي بن العلاء نا أبو عبيدة بن أبي السفر نا أبو غسان نا جعفر الأحمر عن حارثة بن أبي الرجال عن عمرة عن عائشة قالت كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم  إذا مس طهوره يسمي الله وقال أبو بدر كان يقوم إلى الوضوء فيسمي الله ثم يفرغ الماء على يديه     5 نا أبو بكر النيسابوري نا أبو الأزهر نا بن أبي فديك ويحيى بن صاعد نا سلمة بن شبيب نا بن أبي فديك نا عبد الرحمن بن حرملة عن أبي ثفال المري أنه قال سمعت رباح بن عبد الله بن أبي سفيان بن حويطب يقول أخبرتني جدتي عن أبيها أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم قال لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله تعالى عليه ولا يؤمن بالله من لم يؤمن بي ولا يؤمن بي من لم يحب الأنصار وقال بن صاعد يقال أن أباها سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل&lt;br /&gt;سنن الدارقطني ج: 1 ص: 73&lt;br /&gt;  11 ثنا الحسين بن أحمد بن أبي الشوك نا الحسن بن مكرم نا يحيى بن هاشم وثنا محمد بن عبد الله بن إبراهيم نا محمد بن غالب وثنا عثمان بن أحمد الدقاق نا إسحاق بن إبراهيم بن سنين قالا نا يحيى بن هاشم نا الأعمش عن شقيق عن عبد الله قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم يقول إذا تطهر أحدكم فليذكر أسم الله فإنه يطهر جسده كله وإن لم يذكر اسم الله في طهوره لم يطهر إلا ما مر عليه الماء فإذا فرغ من طهوره فليشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله فإذا قال ذلك فتحت له أبواب السماء يحيى بن هشام ضعيف&lt;br /&gt;سنن أبي داود ج: 1 ص: 25&lt;br /&gt; باب التسمية على الوضوء        101 حدثنا قتيبة بن سعيد ثنا محمد بن موسى عن يعقوب بن سلمة عن أبيه عن أبي هريرة قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله تعالى عليه     102 حدثنا أحمد بن عمرو بن السرح ثنا بن وهب عن الدراوردي قال وذكر ربيعة أن تفسير حديث النبي  صلى الله عليه وسلم    لا وضوء لمن  لم يذكر اسم الله عليه أنه الذي يتوضأ ويغتسل ولا ينوي وضوءا للصلاة ولا غسلا للجنابة&lt;br /&gt;سنن ابن ماجه ج: 1 ص: 139&lt;br /&gt; باب ما جاء في التسمية في الوضوء     397 حدثنا أبو كريب محمد بن العلاء ثنا زيد بن الحباب ح وحدثنا محمد بن بشار ثنا أبو عامر العقدي ح وحدثنا أحمد بن منيع ثنا أبو أحمد الزبيري قالوا ثنا كثير بن زيد عن ربيح بن عبد الرحمن بن أبي سعيد عن أبيه عن أبي سعيد أن النبي  صلى الله عليه وسلم قال لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه&lt;br /&gt;سنن ابن ماجه ج: 1 ص: 140&lt;br /&gt;  398 حدثنا الحسن بن علي الخلال ثنا يزيد بن هارون أنا يزيد بن عياض ثنا أبو ثفال عن رباح بن عبد الرحمن بن أبي سفيان أنه سمع جدته بنت سعيد بن زيد تذكر أنها سمعت أباها سعيد بن زيد يقول قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه     399 حدثنا أبو كريب وعبد الرحمن بن إبراهيم قالا ثنا بن أبي فديك ثنا محمد بن موسى بن أبي عبد الله عن يعقوب بن سلمة الليثي عن أبيه عن أبي هريرة قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه     400 حدثنا عبد الرحمن بن إبراهيم ثنا بن أبي فديك عن عبد المهيمن بن عباس بن سهل بن سعد الساعدي عن أبيه عن جده عن النبي  صلى الله عليه وسلم قال لا صلاة من لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه ولا صلاة لمن لا يصلي علي النبي ولا صلاة لمن لا يحب الأنصار قال أبو الحسن بن سلمة حدثنا أبو حاتم ثنا عيسى عبيس بن مرحوم العطار ثنا عبد المهيمن بن عباس فذكر نحوه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شرح معاني الآثار ج: 1 ص: 26&lt;br /&gt; باب تسمية على الوضوء        حدثنا محمد بن علي بن داود البغدادي قال ثنا عفان بن مسلم قال ثنا وهيب قال ثنا عبد الرحمن بن حرملة أنه سمع أبا ثقال المري يقول سمعت رباح بن عبد الرحمن بن أبي سفيان بن حويطب يقول حدثتني جدتي أنها سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم يقول لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه&lt;br /&gt;شرح معاني الآثار ج: 1 ص: 27&lt;br /&gt;    حدثنا عبد الرحمن بن الجارود البغدادي قال ثنا سعيد بن كثير بن عفير قال حدثني سليمان بن بلال عن أبي ثفال المري قال سمعت رباح بن عبد الرحمن بن أبي سفيان يقول حدثتني جدتي أنها سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم  يقول ذلك      حدثنا فهد قال ثنا محمد بن سعيد قال أنا الدراوردي عن بن حرملة عن أبي ثفال المري عن رباح بن عبد الرحمن العامري عن بن ثوبان عن أبي هريرة عن النبي  صلى الله عليه وسلم  مثله فذهب قوم إلى أن من لم يسم على وضوء الصلاة فلا يجزيه وضوؤه واحتجوا في ذلك بهذه الآثار وخالفهم في ذلك آخرون فقالوا من لم يسم على وضوئه فقد أساء وقد طهر بوضوئه ذلك واحتجوا في ذلك بما      حدثنا علي بن معبد قال ثنا عبد الوهاب بن عطاء عن سعيد عن قتادة عن الحسن عن حضين أبي ساسان عن المهاجر بن قنفذ أنه سلم على رسول الله  صلى الله عليه وسلم  وهو يتوضأ فلم يرد عليه فلما فرغ من وضوئه قال إنه لم يمنعني أن أرد عليك إلا أني كرهت أن أذكر الله إلا على طهارة ففي هذا الحديث أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  كره أن يذكر الله إلا على طهارة ورد السلام بعد الوضوء الذي صار به متطهرا ففي ذلك دليل أنه قد توضأ قبل أن يذكر اسم الله وكان قوله لا وضوء لمن لم يسم يحتمل أيضا ما قاله أهل المقالة الأولى ويحتمل لا وضوء له أي لا وضوء له متكاملا في الثواب كما قال ليس المسكين الذي ترده التمرة والتمرتان واللقمة واللقمتان فلم يرد بذلك أنه ليس بمسكين خارج من حد المسكنة كلها حتى تحرم عليه الصدقة وإنما أراد بذلك أنه ليس بالمسكين المتكامل في المسكنة الذي ليس بعد درجته في المسكنة درجة      حدثنا بن أبي داود قال ثنا أبو عمر الحوضي قال ثنا خالد بن عبد الله عن إبراهيم الهجري عن أبي الأحوص عن عبد الله عن النبي  صلى الله عليه وسلم  قال ليس المسكين بالطواف الذي ترده التمرة والتمرتان واللقمة واللقمتان قالوا فمن المسكين قال الذي يستحي أن يسأل ولا يجد ما يغنيه ولا يفطن له فيعطي      حدثنا علي بن شيبة قال ثنا قبيصة بن عقبة قال ثنا سفيان عن إبراهيم فذكر مثله بإسناده      حدثنا يونس قال لنا بن وهب قال أنا بن أبي ذؤيب عن أبي الوليد عن أبي هريرة عن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  نحوه      حدثنا أبو أمية محمد بن إبراهيم بن مسلم قال ثنا علي بن عياش الحمصي عن بن ثوبان عن عبد الله بن الفضل عن عبد الرحمن الأعرج عن أبي هريرة عن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  مثله     حدثنا يونس قال أنا بن وهب أن مالكا حدثه عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة عن رسول الله  صلى الله عليه وسلم مثله أو كما قال ليس المؤمن الذي يبيت شبعان وجاره جائع&lt;br /&gt;شرح معاني الآثار ج: 1 ص: 28&lt;br /&gt;   حدثنا بذلك أبو بكرة قال ثنا مؤمل قال ثنا سفيان عن عبد الملك بن أبي بشير عن عبد الله بن المساور أو بن أبي المساور قال سمعت بن عباس يعاتب بن الزبير في البخل ويقول قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم ليس المؤمن الذي يبيت شبعان وجاره إلى جنبه جائع فلم يرد بذلك أنه ليس بمؤمن إيمانا خرج بتركه إياه إلى الكفر ولكنه أراد به أنه ليس في أعلى مراتب الإيمان وأشباه هذا كثيرة يطول الكتاب بذكرها فكذلك قوله لا وضوء لمن لم يسم لم يرد بذلك أنه ليس بمتوضيء وضوءا لم يخرج به من الحدث ولكنه أراد أنه ليس بمتوضيء وضوءا كاملا في أسباب الوضوء الذي يوجب الثواب فلما احتمل هذا الحديث من المعاني ما وصفنا ولم يكن هناك دلالة يقطع بها لأحد التأويلين على الآخر وجب أن يجعل معناه موافقا لمعاني حديث المهاجر حتى لا يتضادا فثبت بذلك أن الوضوء بلا تسمية يخرج به المتوضىء من الحدث إلى الطهارة وأما وجه ذلك من طريق النظر فإنا رأينا أشياء لا يدخل فيها إلا بكلام منها العقود التي يعقدها بعض الناس لبعض من البياعات والإجارات والمناكحات والخلع وما أشبه ذلك فكانت تلك الأشياء لا تجب إلا بأقوال وكانت الأقوال منها إيجاب لأنه يقول قد بعتك قد زوجتك قد خلعتك فتلك أقوال فيها ذكر العقود وأشياء تدخل فيها بأقوال وهي الصلاة والحج فتدخل في الصلاة بالتكبير وفي الحج بالتلبية فكان التكبير في الصلاة والتلبية في الحج ركنا من أركانها ثم رجعنا إلى التسمية في الوضوء هل تشبه شيئا من ذلك فرأيناها غير مذكور فيها إيجاب شيء كما كان في النكاح والبيوع فخرجت التسمية لذلك من حكم ما وضعنا ولم تكن التسمية أيضا ركنا من أركان الوضوء كما كان التكبير ركنا من أركان الصلاة وكما كانت التلبية ركنا من أركان الحج فخرج أيضا بذلك حكمها من حكم التكبير والتلبية فبطل بذلك قول من قال إنه لا بد منها في الوضوء كما لا بد من تلك الأشياء فيما يعمل فيه فإن قال قائل فإنا قد رأينا الذبيحة لا بد من التسمية عندها ومن ترك ذلك متعمدا لم تؤكل ذبيحته فالتسمية أيضا على الوضوء كذلك قيل له ما ثبت في حكم النظر أن من ترك التسمية على الذبيحة متعمدا أنها لا تؤكل لقد تنازع الناس في ذلك فقال بعضهم تؤكل وقال بعضهم لا تؤكل فأما من قال تؤكل فقد كفينا البيان لقوله وأما من قال لا تؤكل فإنه يقول إن تركها ناسيا تؤكل سواء عنده كان الذابح مسلما أو كافرا بعد أن يكون كتابيا فجعلت التسمية هاهنا في قول من أوجبها إنما هي لبيان الملة&lt;br /&gt;شرح معاني الآثار ج: 1 ص: 29&lt;br /&gt;فإذا سمى الذابح صارت ذبيحته من ذبائح الملة المأكولة ذبيحتها وإذا لم يسم جعلت من ذبائح الملل التي لا تؤكل ذبائحها والتسمية على الوضوء ليس للملة إنما هي مجعولة لذكر على سبب من أسباب الصلاة فرأينا من أسباب الصلاة الوضوء وستر العورة فكان من ستر عورته لابتسمية لم يضره ذلك فالنظر على ذلك أن يكون من تطهر أيضا لابتسمية لم يضره ذلك وهذا قول أبي حنيفة وأبي يوسف ومحمد بن الحسن رحمهم الله تعالى&lt;br /&gt;اسم الكتاب :: شرح معاني الآثار&lt;br /&gt;اسم المؤلف :: أحمد بن محمد بن سلامة بن عبدالملك بن سلمة أبو جعفر الطحاوي&lt;br /&gt;ولادة المؤلف ::  229&lt;br /&gt;وفاة المؤلف ::  321&lt;br /&gt;دار النشر :: دار الكتب العلمية&lt;br /&gt;مدينة النشر :: بيروت&lt;br /&gt;سنة النشر :: 1399&lt;br /&gt;رقم الطبعة :: الأولى&lt;br /&gt;عدد الأجزاء ::  4&lt;br /&gt;اسم المحقق :: محمد زهري النجار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عون المعبود ج: 1 ص: 121&lt;br /&gt; باب في التسمية على الوضوء هل هو ضروري    أم لا      قال السيد العلامة عبدالرحمن بن سليمان الأهدل في شرح بلوغ المرام ناقلا عن شرح العباب البسملة عبارة عن قولك بسم الله الرحمن الرحيم بخلاف التسمية فإنها عبارة عن ذكر الله بأي لفظ كان      انتهى      يعقوب بن سلمة الليثي المدني قال الذهبي شيخ ليس بعمدة      قال البخاري لا يعرف له سماع من أبيه ولا لأبيه من أبي هريرة روى عنه محمد بن موسى الفطري وأبو عقيل يحيى      انتهى لا صلاة قال العلماء هذه الصيغة حقيقة في نفي الشيء وتطلق على نفي كماله والمراد ههنا الأول لمن لا وضوء له ولا وضوء بضم الواو أي لا يصح الوضوء      قال المحدث الأجل ولي الله الدهلوي في الحجة وهو نص على أن التسمية ركن أو شرط ويحتمل أن يكون المعنى لا يكمل الوضوء لكن لا أرتضي بمثل هذا التأويل فإنه من التأويل البعيد الذي يعود بالمخالفة على اللفظ لم يذكر اسم الله عليه أي لم يقل بسم الله الرحمن الرحيم على الوضوء أو بسم الله والحمد لله لما أخرج الطبراني في الأوسط من طريق علي بن ثابت عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا أبا هريرة إذا توضأت فقل بسم الله والحمد لله فإن حفظتك لا تزال تكتب لك الحسنات حتى تحدث من ذلك الوضوء قال تفرد به عمرو بن أبي سلمة عن إبراهيم بن محمد عنه      وأخرج الإمام البيهقي بإسناده إلى الشافعي قال أحب للرجل أن يسمي الله في ابتداء الوضوء      قال البيهقي وهذا لما روينا عن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه وسلم في قصة الإناء الذي وضع يده فيه والماء يفور من بين أصابعه توضأوا بسم الله      انتهى      وقال العلامة الشيخ محمد طاهر في تكملة مجمع البحار ويكفي بسم الله والأكمل بسم الله الرحمن الرحيم فإن ترك أولا قال في أثنائه بسم الله أولا وآخرا      انتهى      والحديث ظاهره نفي الصحة وإليه ذهب أحمد بن حنبل في رواية أن التسمية شرط لصحة الوضوء وهو قول أهل الظاهر     قال الشعراني في الميزان قال الأئمة الثلاثة وإحدى الروايتين عن أحمد إن التسمية في الوضوء مستحبة مع قول داود وأحمد أنها واجبه لا يصح الوضوء إلا بها سواء في ذلك العمد والسهو&lt;br /&gt;عون المعبود ج: 1 ص: 122&lt;br /&gt;ومع قول إسحاق إن نسيها أجزأته طهارته وإلا فلا      انتهى      قال المنذري وأخرجه ابن ماجه وليس فيه تفسير ربيعة وأخرجه الترمذي وابن ماجه من حديث سعيد بن زيد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي هذا الباب أحاديث ليست أسانيدها مستقيمة      وحكى الأثرم عن الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه أنه قال ليس في هذا الباب حديث يثبت وقال أرجو أن يجزئه الوضوء لأنه ليس في هذا حديث أحكم به      وقال أيضا لا أعلم في هذا الباب حديثا له إسناد جيد      وقد أخرج الإمام أحمد في مسنده هذا الحديث الذي خرجه أبو داود ورواه عن الشيخ الذي رواه عنه أبو داود بسنده وهو أمثل الأحاديث الواردة إسنادا وتأويل ربيعة بن أبي عبد الرحمن له ظاهر في قبوله غير أن البخاري قال في تاريخه لا يعرف لسلمة سماع من أبي هريرة ولا ليعقوب من أبيه      انتهى      وذكر ربيعة أي في جملة ما ذكره من الكلام أي ذكر أشياء وذكر تفسير هذا الحديث لا وضوء لمن لا يذكر اسم الله عليه بدل من قوله حديث النبي صلى الله عليه وسلم أنه الرجل وهذه الجملة بتمامها خبر أن في قوله أن تفسير           إلخ يتوضأ للصلاة أو لغيرها ولا ينوي الرجل المتوضيء والمغتسل ولا ينوي غسلا للجنابة فهما غير قاصدين للطهارة فلا وضوء ولا غسل لهما من أجل أنهما لم يقصدا بهما وإن غسلا ظاهر أعضائهما فالنية شرط للوضوء والغسل      قال الحافظ الإمام البيهقي في المعرفة وروينا عن ربيعة بن أبي عبدالرحمن أنه حمله على النية في الوضوء      قلت كلام ربيعة وإن كان صحيحا في الواقع وهو عدم صحة الطهارة بغير نية رفع الحدث لكن حمله الحديث على هذا المعنى محل تردد بل هو خلاف الظاهر      وفي الباب أحاديث أخر ضعاف ذكرها الحافظ في التلخيص ثم قال والظاهر أن مجموع الأحاديث يحدث منها قوة تدل على أن له أصلا      وقال أبو بكر بن أبي شيبة ثبت لنا أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله      إنتهى      قال ابن كثير في الإرشاد وقد روى من طرق أخر يشد بعضها بعضا فهو حديث حسن أو صحيح      وقال ابن الصلاح يثبت لمجموعها ما يثبت بالحديث الحسن      &lt;br /&gt;اسم الكتاب :: عون المعبود شرح سنن أبي داود&lt;br /&gt;اسم المؤلف :: محمد شمس الحق العظيم آبادي أبو الطيب&lt;br /&gt;دار النشر :: دار الكتب العلمية&lt;br /&gt;مدينة النشر :: بيروت&lt;br /&gt;سنة النشر :: 1415&lt;br /&gt;رقم الطبعة :: الثانية&lt;br /&gt;عدد الأجزاء ::  10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تحفة الأحوذي ج: 1 ص: 92&lt;br /&gt; باب في التسمية عند الوضوء    ورد في هذا الباب أحاديث كثيرة واختلف أئمة الحديث في صحتها وضعفها فقال بعضهم كل ما روي في هذا الباب فهو ليس بقوي وقال بعضهم لا يخلو هذا الباب من حسن صريح وصحيح غير صريح      وقال الحافظ ابن حجر والظاهر أن مجموع الأحاديث يحدث منها قوة تدل على أن له أصلا انتهى      قلت الأمر كما قال الحافظ ومقتضى أحاديث الباب هو الوجوب والله تعالى أعلم     قوله حدثنا نصر بن علي بن نصر بن علي الجهضمي ثقة ثبت طلب للقضاء فامتنع من العاشرة كذا في التقريب وقال في الخلاصة أحد أئمة البصرة روى عن المعتمر ويزيد بن زريع وابن عيينة وخلق وعنه ع يعني الأئمة الستة قال أبو حاتم هو عندي أوثق من&lt;br /&gt;تحفة الأحوذي ج: 1 ص: 93&lt;br /&gt;الفلاس وأحفظ قال البخاري مات سنة خمسين ومائتين      وبشر بن معاذ البصري الضرير يكنى أبا سهل صدوق من العاشرة والعقدي بفتح المهملة والقاف نا بشر بن المفضل بن لاحق الرقاشي أبو إسماعيل البصري ثقة ثبت عابد من الثامنة      عن عبد الرحمن بن حرملة بن عمرو بن سنة الأسلمي المدني صدوق ربما أخطأ عن أبي ثقال بكسر المثلثة بعدها فاء المري بضم الميم وتشديد الراء اسمه ثمامة بن وائل بن حصين وقد ينسب لجده وقيل اسمه وائل بن هاشم بن حصين وهو مشهور بكنيته مقبول من الخامسة كذا في التقريب وقال في الخلاصة قال البخاري في حديثه نظر انتهى      كذا في الخلاصة      عن رباح بن عبد الرحمن بن أبي سفيان بن حويطب بفتح الراء وبالموحدة المدني قاضيها قال في التقريب مقبول      عن جدته وفي رواية الحاكم حدثتني جدتي أسماء بنت سعيد بن زيد بن عمرو أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الحافظ في التقريب أسماء بنت سعيد بن زيد ابن عمرو بن نفيل لم تسم في الكتابين يعني جامع الترمذي وسنن ابن ماجه وسماها البيهقي ويقال إن لها صحبة انتهى      وذكرها الحافظ الذهبي في الميزان في النسوة المجهولات عن أبيها هو سعيد بن زيد بن عمرو بن نفيل العدوي أبو الأعور أحد العشرة      قوله لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه قال الشاه ولي الله الدهلوي في كتابه حجة الله البالغة هو نص على أن التسمية ركن أو شرط ويحتمل أن يكون المعنى لا يكمل الوضوء لكن لا أرتضي بمثل هذا التأويل فإنه من التأويل البعيد الذي يعود بالمخالفة على اللفظ انتهى      قلت لا شك في أن هذا الحديث نص على أن التسمية ركن للوضوء أو شرط له لأن ظاهر قوله لا وضوء أنه لا يصح ولا يوجد إذ الأصل في النفي الحقيقة قال القاري في المرقاة قال القاضي هذه الصيغة حقيقة في نفي الشيء ويطلق مجازا على الاعتداد به لعدم صحته كقوله عليه الصلاة والسلام     لا صلاة إلا بطهور وعلى نفي كماله كقوله عليه الصلاة والسلام لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد وههنا محمولة على نفي الكمال خلافا لأهل الظاهر لما روى ابن عمر&lt;br /&gt;تحفة الأحوذي ج: 1 ص: 94&lt;br /&gt;وابن مسعود أنه صلى الله عليه وسلم قال من توضأ وذكر اسم الله كان طهورا لجميع بدنه ومن توضأ ولم يذكر اسم الله عليه كان طهورا لأعضاء وضوئه والمراد بالطهارة من الذنوب لأن الحدث لا يتجزأ انتهى      قلت حديث ابن عمر وابن مسعود هذا ضعيف رواه الدارقطني والبيهقي من حديث ابن عمر وفيه أبو بكر الداهري عبد الله بن الحكم وهو متروك ومنسوب إلى الوضع ورواه الدارقطني والبيهقي أيضا من حديث أبي هريرة وفيه مرداس بن محمد ابن عبد الله بن أبان عن أبيه وهما ضعيفان ورواه الدارقطني والبيهقي أيضا من حديث ابن مسعود وفي إسناده يحيى بن هشام السمسار وهو متروك فالحديث لا يصلح للاحتجاج فلا يصح الاستدلال به على أن النفي في قوله صلى الله عليه وسلم لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه محمول على نفي الكمال      فإن قلت قد صرح ابن سيد الناس في شرح الترمذي بأنه قد روي في بعض الروايات لا وضوء كاملا وقد استدل به الرافعي فهذه الرواية صريحة في أن المراد في قوله لا وضوء في حديث الباب نفي الكمال      قلت قال الحافظ في التلخيص لم أره هكذا      انتهى      فلا يعلم حال هذه الرواية كيف هي صالحة للاحتجاج أم لا والله تعالى أعلم      قوله في الباب عن عائشة وأبي هريرة وأبي سعيد الخدري وسهل بن سعد وأنس أما حديث عائشة فأخرجه البزار وأبو بكر بن أبي شيبة في مسنديهما وابن عدي وفي إسناده حارثة بن محمد وهو ضعيف وأما حديث أبي هريرة فأخرجه أحمد وأبو داود وابن ماجه والترمذي في العلل والدارقطني وابن السكن والحاكم والبيهقي من طريق محمد ابن موسى المخزومي عن يعقوب بن سلمة عن أبيه عن أبي هريرة بهذا اللفظ ورواه الحاكم من هذا الوجه فقال يعقوب بن أبي سلمة وادعى أنه الماجشون وصححه لذلك فوهم      والصواب أنه الليثي قال الحافظ قال البخاري لا يعرف له سماع من أبيه ولا لأبيه من أبي هريرة وأبوه ذكره ابن حبان في الثقات وقال ربما أخطأ وهذه عبارة عن ضعفه فإنه قليل الحديث جدا ولم يرو عنه سوى ولده فإذا كان يخطىء مع قلة ما روى فكيف يوصف بكونه ثقة قال ابن الصلاح انقلب إسناده على الحاكم فلا يحتج لثبوته بتخريجه له وتبعه النووي وله طرق أخرى كلها ضعيفة     وأما حديث أبي سعيد الخدري فأخرجه أحمد والدارمي والترمذي في العلل وابن ماجه وابن السكن والبزار والدارقطني والحاكم&lt;br /&gt;تحفة الأحوذي ج: 1 ص: 95&lt;br /&gt;والبيهقي بلفظ حديث الباب وزعم ابن عدي أن زيد بن الحباب تفرد به عن كثير بن زيد قال الحافظ وليس كذلك فقد رواه الدارقطني من حديث أبي عامر العقدي وابن ماجه من حديث أبي أحمد الزهري وكثير بن زيد قال ابن معين ليس بالقوي وقال أبو زرعة صدوق فيه لين وقال أبو حاتم صالح الحديث ليس بالقوي يكتب حديثه وكثير بن زيد رواه عن ريح بن عبد الرحمن بن أبي سعيد وربيح قال أبو حاتم شيخ وقال البخاري منكر الحديث وقال أحمد ليس بالمعروف وقال المروزي لم يصححه أحمد وقال ليس فيه شيء يثبت وقال البزار كل ما روي في هذا الباب فليس بقوي وذكر أنه روى عن كثير بن زيد عن الوليد بن رباح عن أبي هريرة وقال العقيلي الأسانيد في هذا الباب فيها لين وقد قال أحمد بن حنبل إنه أحسن شيء في هذا الباب وقد قال أيضا لا أعلم في التسمية حديثا صحيحا وأقوى شيء فيه حديث كثير بن زيد عن ربيح وقال إسحاق هذا يعني حديث أبي سعيد أصح ما في الباب وأما حديث سهل ابن سعد فأخرجه ابن ماجه والطبراني وفيه عبد المهيمن بن عباس بن سهل بن سعد بن سعد وهو ضعيف وتابعه أخوه أبي بن عباس وهو مختلف فيه وأما حديث أنس فأخرجه عبد الملك بن حبيب الأندلسي وعبد الملك شديد الضعف      قوله قال أحمد لا أعلم في هذا الباب حديثا له إسناد جيد وقال البزار كل ما روي في هذا الباب فليس بقوي      قلت أحاديث هذا الباب كثيرة يشد بعضها بعضا فمجموعها يدل أن لها أصلا قال الحافظ ابن حجر والظاهر أن مجموع الأحاديث يحدث منها قوة تدل على أن له أصلا وقال أبو بكر بن أبي شيبة ثبت لنا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال وقال ابن سيد الناس في شرح الترمذي لا يخلوا هذا الباب من حسن صريح وصحيح غير صريح انتهى وقال الحافظ المنذري في الترغيب وفي الباب أحاديث كثيرة لا يسلم شيء منها عن مقال وقد ذهب الحسن وإسحاق بن راهويه وأهل الظاهر إلى وجوب التسمية في الوضوء حتى إنه إذا تعمد تركها أعاد الوضوء وهو راوية عن الإمام أحمد ولا شك أن الأحاديث التي وردت فيها إن كان لا يسلم شيء منها عن مقال فإنها تتعاضد بكثرة طرقها وتكتسب قوة     انتهى كلام المنذري وحديث الباب أعني حديث سعيد بن زيد أخرجه أيضا أحمد وابن ماجه والبزار والدارقطني والعقيلي والحاكم وأعل بالاختلاف والإرسال وفي إسناده أبو ثفال عن رباح مجهولان فالحديث ليس بصحيح قاله أبو حاتم وأبو زرعة وقد أطال الكلام على&lt;br /&gt;تحفة الأحوذي ج: 1 ص: 96&lt;br /&gt;حديث سعيد بن زيد هذا الحافظ ابن حجر في التلخيص      قوله وقال إسحاق إن ترك التسمية عامدا أعاد الوضوء وإن كان ناسيا أو متأولا أجزأه فعند إسحاق التسمية واجب في الوضوء وهو قول الظاهرية وإحدى الروايتين عن أحمد بن حنبل واختلفوا هل هي واجبة مطلقا أو على الذاكر فعند إسحاق على الذاكر وعند الظاهرية مطلقا وذهبت الشافعية والحنفية ومالك وربيعة إلى أنها سنة واحتج الأولون بأحاديث الباب واحتج الآخرون بحديث ابن عمر مرفوعا من توضأ وذكر اسم الله كان طهورا لجميع بدنه الحديث وقد تقدم وقد عرفت أنه ضعيف لا يصلح للاحتجاج      قوله قال محمد بن إسماعيل أحسن شيء في هذا الباب حديث رباح بن عبد الرحمن يعني حديث سعيد بن زيد المذكور في هذا الباب وقال أحمد أقوى شيء فيه حديث كثير ابن زيد عن ربيح يعني حديث أبي سعيد وسئل إسحاق بن راهويه أي حديث أصح في التسمية فذكر حديث أبي سعيد      قوله وأبو ثفال المرى أسمه ثمامة بضم المثلثة بن حصين بالتصغير وحصين جد أبي ثقال واسم أبيه وائل كما تقدم فنسبه إلى جده أي إلى جده الأعلى                   &lt;br /&gt;اسم الكتاب :: تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي&lt;br /&gt;اسم المؤلف :: محمد عبد الرحمن بن عبد الرحيم المباركفوري أبو العلا&lt;br /&gt;ولادة المؤلف ::  1283&lt;br /&gt;وفاة المؤلف ::  1353&lt;br /&gt;دار النشر :: دار الكتب العلمية&lt;br /&gt;مدينة النشر :: بيروت&lt;br /&gt;عدد الأجزاء ::  10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الدراية في تخريج أحاديث الهداية ج: 1 ص: 14&lt;br /&gt;4 حديث لا وضوء لمن لم يسم الله تعالى لم أجده بهذا اللفظ وروى أبو داود وابن ماجة والحاكم من طريق يعقوب بن سلمة عن أبيه عن أبي هريرة رفعه لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه ووقع في رواية الحاكم يعقوب ابن أبي سلمة فظنه الماجشون فصححه على شرط مسلم فوهم      ويعقوب بن سلمة هو الليثي مجهول الحال وأخرجه الدارقطني من رواية أيوب النجار عن يحيى بن أبي كثير عن أبي سلمة عن أبي هريرة بلفظ ما توضأ من لم يذكر اسم الله عليه ورجاله ثقات إلا أن أيوب لم يسمعه من يحيى فقد ثبت عنه أنه قال لم أسمع من يحيى إلا حديثا واحدا وفي الباب عن أبي سعيد أخرجه ابن ماجة والحاكم من طريق كثير بن زيد عن ربيح بن عبد الرحمن بن أبي سعيد عن أبيه عن أبي سعيد باللفظ الأول وأسنده الحاكم إلى الأثرم قال سألت أحمد عن التسمية في الوضوء فقال أحسن ما فيها حديث كثير ابن زيد وعن سعيد بن زيد أخرجه الترمذي وابن ماجة والحاكم من طريق رباح بن عبد الرحمن أنه سمع جدته بنت سعيد بن زيد تحدث أنها سمعت أباها ونقل الترمذي عن البخاري أنه قال أحسن شيء في هذا حديث رباح وعن أحمد قال لا أعلم في هذا الباب حديثا له إسناد جيد      وقال ابن أبي حاتم ليس عندنا بذاك الصحيح     وعن سهل بن سعد أخرجه ابن ماجة من رواية عبد المهيمن بن عباس بن سهل عن أبيه عن جده وعن أبي&lt;br /&gt;الدراية في تخريج أحاديث الهداية ج: 1 ص: 15&lt;br /&gt;سبرة أخرجه الطبراني من رواية عبد الله بن سبرة عن جده أبي سبرة به      وفي هذا الباب عن أنس قال طلب بعض أصحاب النبي  صلى الله عليه وسلم  وضوءا فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  هل مع أحد منكم ماء فوضع يده في الماء وقال توضئوا بسم الله الحديث أخرجه ابن خزيمة والنسائي ترجم عليه النسائي ثم البيهقي باب التسيمة عند الوضوء      وعن عبد الله بن مسعود سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم  يقول إذا تطهر أحدكم فليذكر اسم الله فإنه يطهر جسده كله الحديث أخرجه البيهقي من طريقه ومن طريق أبي هريرة وابن عمر وأسانيدها ضعيفة      وعن عائشة كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم  إذا مس طهورا سمى الله أخرجه الدراقطني وإسناده ضعيف      ويعارض ذلك كله حديث رفاعة بن رافع في قصة المسيء صلاته إذا قمت فتوضأ كما أمرك الله الحديث وليس للتسمية في ذكر أخرجه أصحاب السنن وأصله في الصحيح من حديث أبي هريرة بدون هذه الزيادة     وعن المهاجر بن قنفذ قال أتيت النبي  صلى الله عليه وسلم وهو يتوضأ فسلمت عليه فلم يرد علي&lt;br /&gt;الدراية في تخريج أحاديث الهداية ج: 1 ص: 16&lt;br /&gt;فلما فرغ قال إنه لم يمنعني أن أرد عليك إلا أني كنت على غير وضوء أخرجه أبو داود والنسائي وابن حبان وابن خزيمة والحاكم ووجه الدلالة منه أنه امتنع من ذكر الله قبل الوضوء فكيف يوجب التسمية حينئذ وهي من ذكر الله وفيها من التصريح بذلك ما ليس في السلام      وعن ابن عمر قال مر النبي  صلى الله عليه وسلم  فسلم عليه رجل فلم يرد عليه حتى ضرب بيده الحائط فتيمم ثم قال له إنه لم يمنعني أن أرد عليك إلا أني لم أكن على طهارة أخرجه أبو داود ورجح وقفه      وعن أبي الجهيم أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  أقبل من نحو بئر جمل فلقيه رجل فسلم عليه فلم يرد عليه حتى أقبل على الجدار فمسح وجهه ويديه ثم رد عليه السلام أخرجاه      وعن ابن عمر قال مر رجل ورسول الله  صلى الله عليه وسلم  يبول فسلم عليه فلم يرد عليه أخرجه مسلم ولم يذكر فيه التيمم أخرجه البزار من وجه آخر فقال فيه فرد عليه وقال إنما رددت عليك خشية أن تقول سلمت عليه فلم يرد علي فإذا رأيتني هكذا فلا تسلم علي فإني لا أرد عليك وفي إسناده أبو بكر رجل من آل عمر قال عبد الحق هو ابن عمر بن عبد الرحمن بن عبد الله بن عمر قال فيما أعلمه وتعقبه ابن القطان وقال من أين له أنه هو ورد عليه بأنه ورد مصرحا بنسبه في مسند أبي العباس السراج وله شاهد من حديث جابر أخرجه البزار أيضا وابن ماجة وفي الباب حديث ابن عباس في قصة مبيته عند خالته ميمونة ووصفه لصلاة النبي  صلى الله عليه وسلم  بالليل ووضوئه وليس فيه أنه سمى وفيه أيضا أنه قرأ أول ما انتبه من النوم خواتم سورة آل عمران  &lt;br /&gt;اسم الكتاب :: الدراية في تخريج أحاديث الهداية&lt;br /&gt;اسم المؤلف :: أحمد بن علي بن حجر العسقلاني أبو الفضل&lt;br /&gt;وفاة المؤلف ::  852&lt;br /&gt;دار النشر :: دار المعرفة&lt;br /&gt;مدينة النشر :: بيروت&lt;br /&gt;عدد الأجزاء ::  2&lt;br /&gt;اسم المحقق :: السيد عبد الله هاشم اليماني المدني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السنن الصغرى ج: 1 ص: 81&lt;br /&gt; باب كيفية الوضوء      قال الله عز وجل يا ايها الذين ءامنوا اذا قمتم الى الصلوة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم الى المرافق وامسحوا برءوسكم وارجلكم الى الكعبين     &lt;br /&gt;92 أخبرنا ابو الحسين بن بشران نا ابو علي اسماعيل بن محمد الصفار نا احمد بن منصور الرمادي نا عبد الرزاق أنا معمر عن ثابت وقتادة عن أنس قال نظر اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وضوءا فلم يجدوه قال فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ههنا فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم وضع يده في الاناء الذي فيه الماء ثم قال توضؤوا بسم الله قال فرأيت الماء يفور بين أصابعه والقوم يتوضؤون حتى توضؤوا عن اخرهم &lt;br /&gt;السنن الصغرى ج: 1 ص: 82&lt;br /&gt;قال ثابت فقلت لأنس تراهم كم كانوا قال كانوا نحوا من سبعين رجلا وهذا الحديث اصح ما روى في التسمية     93 وروى عن النبي صلى الله عليه وسلم من قوية لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه&lt;br /&gt;السنن الصغرى ج: 1 ص: 83&lt;br /&gt;وقد حمله ربيعة بن ابي عبد الرحمن على النية وقد مضى في النية حديث عمر رضي الله عنه  &lt;br /&gt;سنن البيهقي الكبرى ج: 1 ص: 41&lt;br /&gt;  باب النية في الطهارة الحكمية     181 أخبرنا أبو طاهر محمد بن محمد بن محمش الفقيه أنا أبو طاهر محمد بن الحسين المجد آبادي أنا عثمان بن سعيد أنا محمد بن كثير ثنا سفيان هو الثوري ثنا يحيى بن سعيد بن محمد بن إبراهيم التيمي عن علقمة بن وقاس الليثي قال سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم  يقول ثم إنما الأعمال بالنيات وإنما لامرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو لامرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه     182 وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن محمد بن يحيى ثنا أبو الربيع الزهراني ثنا حماد ثنا يحيى بن سعيد فذكره بمثله إلا أنه قال ثم أيها الناس إنما الأعمال بالنيات رواه البخاري في الصحيح عن محمد بن كثير عن الثوري عن مسدد عن حماد بن زيد ورواه مسلم عن أبي الربيع     183 أخبرنا أبو علي الحسين بن محمد الفقيه أنا أبو بكر بن داسة ثنا أبو داود ثنا قتيبة ثنا محمد بن موسى عن يعقوب بن سلمة عن أبيه عن أبي هريرة قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ثم لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه     184 حدثنا أبو علي ثنا أبو بكر ثنا أبو داود ثنا أحمد بن عمرو بن السرح ثنا بن وهب عن الدراوردي قال وذكر ربيعة ثم أن تفسير حديث رسول الله  صلى الله عليه وسلم لا وضوء لمن لا يذكر اسم الله عليه أنه الذي يتوضأ ويغتسل ولا ينوي وضوءا للصلاة ولا غسلا للجنابة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Secara umum, membaca basmalah sangat dianjurkan (sunnah mu-akkadah) dalam setiap memulai aktifitas apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika ada dalil (al-Qur'an atau as-Sunnah Shahihah) yang menyebutkan teks basmalah dalam amaliyah tertentu, maka harus sesuai dengan ketentuan tersebut. Misalnya Nabi SAW menyebutkan do'a sebelum makan BISMILLAH (tanpa Ar-rahman ar-rahim) atau do'a bepergian BISMILLAHI TAWAKKALTU…. Atau ketika menulis surat Nabi SAW membubuhkan BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pada prinsipnya membaca Basmalah (dibaca pelan atau dijaharkan) dalam ibadah adalah dilarang kecuali ada dalil yg memerintahkannya. Misalnya dalam shalat, bacaan basmalah al-fatihah itu dilarang, tetapi karena ada hadits yg menyuruhnya maka termasuk yg disyari'atkan. Atau misalnya ketika menghadap kiblat untuk shalat, membaca basmalah itu dilarang karena ada keterangan perintah Nabi SAW ketika menghadap kiblat FA KABBIR (langsung bertakbir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Basmalah juga bisa dimaksudkan dengan niat dalam hati (tidak diucapkan) jika menggunakan kalimat YADZKURISMALLOH seperti pada hadits LA WUDLU-A LIMAN LAM YADZKURISMALLOH (tidak sah wudlu bagi orang yg tidak menyebut nama Allah). Penulis belum menemukan hadits yg memuat teks Basmalah dalam do'a sebelum wudlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam Bis- Shawwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-6716923780477748396?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/6716923780477748396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/05/hukum-dzikir-tasmiyah-basmalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/6716923780477748396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/6716923780477748396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/05/hukum-dzikir-tasmiyah-basmalah.html' title='HUKUM DZIKIR TASMIYAH &amp; BASMALAH'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S9-KhUkl36I/AAAAAAAAAGw/gMTZz46roKE/s72-c/hadits+basmalah4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-3817197996715408971</id><published>2010-05-03T19:11:00.000-07:00</published><updated>2010-05-03T19:12:10.822-07:00</updated><title type='text'>Ma’mum Shalat Fardlu, Imam Shalat Sunat</title><content type='html'>قوله ( حدثنا إسحاق ) هو ابن منصور لقوله حدثنا عفان ; وإسحاق بن راهويه إنما يقول " أنا " ولأن أبا نعيم أخرجه من طريق أبي خيثمة عن عفان , ولو كان في مسند إسحاق لما عدل عنه . قوله ( اتخذ حجرة ) بالراء للأكثر وللمستملي بالزاي وهما بمعنى . قوله ( من صنيعكم ) في رواية السرخسي " صنعكم " بضم أوله وسكون النون وهما بمعنى , وقد تقدم بعض من شرح هذا الحديث في الباب الذي قبل باب إيجاب التكبير , فذكر " أبواب صفة الصلاة " وساقه هناك عن عبد الأعلى عن وهيب , وتقدمت سائر فوائده في شرح حديث عائشة في معناه في " باب ترك قيام الليل " من أبواب التهجد ولله الحمد , والذي يتعلق بهذه الترجمة من هذا الحديث ما يفهم من إنكاره صلى الله عليه وسلم ما صنعوا من تكلف ما لم يأذن لهم فيه من التجميع في المسجد في صلاة الليل&lt;br /&gt;حديث زيد بن ثابت " احتجر رسول الله صلى الله عليه وسلم حجيرة " وقد تقدم شرحه في أبواب الإمامة , وحجيرة تصغير حجرة بالراء , وقد تقدم فيه رواية بالزاي , ويقال بفتح أوله وكسر ثانيه , والخصفة بفتح الخاء المعجمة والصاد المهملة ثم فاء : ما يتخذ من خوص المقل أو النخل , وقوله فيه : " وقال المكي " هو ابن إبراهيم البلخي أحد مشايخه , وقد وصله أحمد والدارمي في مسنديهما عن المكي بن إبراهيم بتمامه , ومحمد بن زياد شيخه في الطريق الثانية هو الزيادي ماله في البخاري سوى هذا الحديث , قال الكلابذي : أخرج له شبه المقرون ! وكذا قال ابن عدي : روى له استشهادا , وكانت وفاته قبل البخاري بقليل , مات في حدود الخمسين ويقال سنة اثنتين وخمسين وذكر ذلك الدمياطي في حواشيه , ومحمد بن جعفر هو غندر وعبد الله بن سعيد هو ابن أبي هند , وسياق الحديث في هذا الباب على لفظ محمد بن جعفر . والغرض منه قوله : " فخرج عليهم مغضبا " والظاهر أن غضبه لكونهم اجتمعوا بغير أمره فلم يكتفوا بالإشارة منه لكونه لم يخرج عليهم بل بالغوا فحصبوا بابه وتتبعوه , أو غضب لكونه تأخر إشفاقا عليهم لئلا تفرض عليه وهم يظنون غير ذلك , وأبعد من قال : " صلى في مسجده بغير أمره " وقوله في آخره : " أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة " دال على أن المراد بالصلاة أي في قوله في الحديث الآخر " اجعلوا من صلاتكم في بيوتكم ولا تتخذوها قبورا " صلاة النافلة , وحكى ابن التين عن قوم أنه يستحب أن يجعل في بيته من فريضة , وزيفه بحديث الباب والله أعلم &lt;br /&gt;قوله : ( عن سالم أبي النضر ) كذا لأكثر الرواة عن موسى بن عقبة , وخالفهم ابن جريج عن موسى فلم يذكر أبا النضر في الإسناد أخرجه النسائي , ورواية الجماعة أولى . وقد وافقهم مالك في الإسناد لكن لم يرفعه في الموطأ , وروى عنه خارج الموطأ مرفوعا , وفيه ثلاثة من التابعين مدنيون على نسق أولهم موسى المذكور . قوله : ( حجرة ) كذا للأكثر بالراء , وللكشميهني أيضا بالزاي . قوله : ( من صنيعكم ) كذا للأكثر وللكشميهني بضم الصاد وسكون النون , وليس المراد به صلاتهم فقط , بل كونهم رفعوا أصواتهم وسبحوا به ليخرج إليهم , وحصب بعضهم الباب لظنهم أنه نائم كما ذكر المؤلف ذلك في الأدب وفي الاعتصام , وزاد فيه " حتى خشيت أن يكتب عليكم , ولو كتب عليكم ما قمتم به " وقد استشكل الخطابي هذه الخشية كما سنوضحه في كتاب التهجد إن شاء الله تعالى . قوله : ( أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة ) ظاهره أنه يشمل جميع النوافل , لأن المراد بالمكتوبة المفروضة , لكنه محمول على ما لا يشرع فيه التجميع , وكذا ما لا يخص المسجد كركعتي التحية , كذا قال بعض أئمتنا . ويحتمل أن يكون المراد بالصلاة ما يشرع في البيت وفي المسجد معا فلا تدخل تحية المسجد لأنها لا تشرع في البيت , وأن يكون المراد بالمكتوبة ما تشرع فيه الجماعة , وهل يدخل ما وجب بعارض كالمنذورة ؟ فيه نظر , والمراد بالمكتوبة الصلوات الخمس لا ما وجب بعارض كالمنذورة , والمراد بالمرء جنس الرجال فلا يرد استثناء النساء لثبوت قوله صلى الله عليه وسلم " لا تمنعوهن المساجد وبيوتهن خير لهن " أخرجه مسلم ; قال النووي : إنما حث على النافلة في البيت لكونه أخفى وأبعد من الرياء , وليتبرك البيت بذلك فتنزل فيه الرحمة وينفر منه الشيطان , وعلى هذا يمكن أن يخرج بقوله " في بيته " بيت غيره ولو أمن فيه من الرياء . قوله : ( قال عفان ) كذا في رواية كريمة وحدها , ولم يذكره الإسماعيلي ولا أبو نعيم , وذكر خلف في الأطراف في رواية حماد بن شاكر " حدثنا عفان " وفيه نظر لأنه أخرجه في كتاب الاعتصام بواسطة بينه وبين عفان . ثم فائدة هذه الطريق بيان سماع موسى بن عقبة له من أبي النضر . والله أعلم . ( خاتمة ) : اشتملت أبواب الجماعة والإمامة من الأحاديث المرفوعة على مائة واثنين وعشرين حديثا , الموصول منها ستة وتسعون , والمعلق ستة وعشرون , المكرر منها فيه وفيما مضى تسعون حديثا , الخالص اثنان وثلاثون , وافقه مسلم على تخريجها سوى تسعة أحاديث وهي : حديث أبي سعيد في فضل الجماعة , وحديث أبي الدرداء " ما أعرف شيئا " , وحديث أنس " كان رجل من الأنصار ضخما " , وحديث مالك بن الحويرث في صفة الصلاة , وحديث ابن عمر " لما قدم المهاجرون " . وحديث أبي هريرة " يصلون فإن أصابوا " , وحديث النعمان المعلق في الصفوف , وحديث أنس " كان أحدنا يلزق منكبه " , وحديثه في إنكاره إقامة الصفوف . وفيه من الآثار عن الصحابة والتابعين سبعة عشر أثرا كلها معلقة إلا أثر ابن عمر أنه " كان يأكل قبل أن يصلي " , وأثر عثمان " الصلاة أحسن ما يعمل الناس " فإنهما موصولان والله سبحانه وتعالى أعلم .&lt;br /&gt;التمهيد لابن عبد البر ج: 24 ص: 365&lt;br /&gt;                     حديث حاد وأربعون من البلاغات                  38038 038 قال ملك السنة في الذي يرفع رأسه قبل الإمام في ركوع أو سجود أن يخر راكعا أو ساجدا ولا يقف ينتظر الإمام وذلك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه وقال أبو هريرة الذي يرفع رأسه ويحفضه قبل الإمام إنما ناصيته بيد شيطان 3 57      أما قوله السنة فإنه أمر لا أعلم فيه خلافا وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم التغليظ فيمن رفع رأسه قبل الإمام      روى شعبة عن محمد بن زياد عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أما يخشى الذي يرفع رأسه قبل الإمام راكعا أو ساجدا أن يحول الله رأسه رأس حمار أو صورته صورة حمار      وهذا وعيد وتهديد وليس فيه أمر بإعادة فهو فعل مكروه لمن فعله ولا شيء عليه إذا أكمل ركوعه وسجوده     وقد أساء عدا سنة المأموم وعلى كراهية هذا الفعل للمأموم جماعة العلماء&lt;br /&gt;التمهيد لابن عبد البر ج: 24 ص: 366&lt;br /&gt;ن يوجبوا فيه إعادة وكذلك قال أبو هريرة ناصيته بيد شيطان ولم يأمر فيه بإعادة      وذكر مالك عن محمد بن عمرو بن علقمة عن مليح بن عبد الله السعدي عن أبي هريرة قال الذي يرفع رأسه ويخفض قبل الإمام فإنما ناصيته بيد شيطان      وأما قوله وذلك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه فإن قوله إنما جعل الإمام ليؤتم به يستند من حديث مالك عن ابن شهاب عن أنس وقد مضى ذكره في باب ابن شهاب إلا أنه ليس فيه فلا تختلفوا عليه ويستند قوله فلا تختلفوا عليه من حديث مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه فإذا كبر فكبروا وإذا رجع فاركعوا وإذا قال سمع الله لمن حمده فقولوا اللهم ربنا ولك الحمد وإذا صلى قاعدا فصلوا قعودا أجمعين رواه ينعقد بن عيسى وحده في الموطأ عن مالك وقد روي من حديث همام بن منبه عن أبي هريرة     ذكر عبد الرزاق حدثنا معمر بن همام بن منبه أنه سمع أبا هريرة يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه فإذا كبر فكبروا وإذا ركع فاركعوا وإذا قال سمع الله لمن&lt;br /&gt;التمهيد لابن عبد البر ج: 24 ص: 367&lt;br /&gt;حمده فقولوا اللهم ربنا لك الحمد وإذا سجد فاسجدوا وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا أجمعين      وقد مضى القول في معنى هذا الحديث في باب ابن شهاب إلا قوله فلا تختلفوا عليه      وفي قوله فلا تختلفوا عليه دليل على أنه لا يجوز أن يكون الإمام في صلاة ويكون المأموم في غيرها مثل أن يكون الإمام في ظهر والمأموم في عصر أو يكون الإمام في نافلة والمأموم في فريضة وهذا موضع اختلف الفقهاء فيه فقال مالك وأصحابه لا يجزي أحدا أن يصلي صلاة الفريضة خلف المتنفل ولا يصلي عصرا خلف من صلى ظهرا وهو قول أبي حنيفة وأصحابه والثوري وقول جمهور التابعين بالمدينة والكوفة وحجتهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إنما جعل الإمام ليؤتم به فمن خالفه في نيته فلم يأتم به وقال فلا تختلفوا عليه ولا اختلاف أشد من اختلاف النيات إذ هي ركن العمل     ومعلوم أن من صلى ظهرا خلف من يصلي عصرا أو صلى فريضة خلف من يصلي نافلة فلم يأتم بإمامه وقد اختلف عليه فبطلت صلاته وصلاة الإمام جائزة لأنه المتبوع لا التابع واحتجوا من قصة معاذ برواية عمرو بن يحيى عن معاذ بن رفاعة الزرقي عن رجل من بني سلمة أنه شكا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم تطويل معاذ بهم فقال له&lt;br /&gt;التمهيد لابن عبد البر ج: 24 ص: 368&lt;br /&gt;رسول الله صلى الله عليه وسلم يا معاذ لا تكن فتانا إما أن تصلي معي وإما أن تخفف عن قومك      قالوا وهذا يدل على أن صلاته بقومه كانت فريضته وكان متطوعا بصلاته مع النبي صلى الله عليه وسلم      قالوا وصلاة المتنفل خلف من يصلي الفريضة لا يختلفون في جوازها      وقال الشافعي والأوزاعي وداود والطبري وهو المشهور عن أحمد ابن حنبل بجواز أن يقتدي في الفريضة الظهرخلف من يصلي العصر فإن كل مصل يصلي لنفسه ومن حجتهم أن قالوا إنما أمرنا أن نأتم به فيما ظهر من أفعاله أما النية وما فإنا لم نكلفه      قالوا وفي هذا الحديث نفسه دليل على صحة ذلك لأنه قال إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه      إذا ركع فاركعوا وإذا سجد فاسجدوا وإذا كبر فكبروا وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا      فعرفنا أفعاله التي يأتم به فيها وهي الظاهرة إلينا من ركوعه وسجوده وتكبيره وقيامه وقعوده ففي هذه أمرنا أن لا نختلف عليه     قالوا والدليل على صحة هذا التأويل حديث جابر في قصة معاذ إذ كان يصلي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم العشاء ثم ينصرف فيؤم قومه في تلك الصلاة هي له نافلة ولهم فريضة وهو حديث ثابت صحيح لا يختلف في صحته&lt;br /&gt;التمهيد لابن عبد البر ج: 24 ص: 369&lt;br /&gt;   قالوا ولا يصح أن يجعل معاذ صلاته مع رسول الله صلى الله عليه وسلم نافلة ويزهد في فضل الفريضة معه صلى الله عليه وسلم ويدلك على ذلك قول رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة وهذا مانع لكل أحد أن تقام صلاة فريضة لم يصلها فيشتغل بنافلة عنها      وقد روى ابن جريج عن عمرو بن دينار عن جابر أن معاذا كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم العشاء الآخرة ثم ينصرف إلى قومه فيصلي معهم هي له تطوع ولهم فريضة      قال ابن جريج وحديث عكرمة عن ابن عباس أن معاذا فذكر مثل حديث جابر سواء      ومثل ذلك أيضا حديث أبي بكرة في صلاة الخوف صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بطائفة ركعتين ثم بطائفة ركعتين وهو مسافر خائف فعلمنا أنه في الثانية متنفل     وقد أجمعوا أنه جائز أن يصلي النافلة خلف من يصلي الفريضة إن شاء وفي ذلك دليل على أن النيات لا تراعى في ذلك والله أعلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Muhadzab I:98&lt;br /&gt;Boleh berma’mun shalat wajib kepada imam sunat. Dan ma’mum shalat wajib kepada shalat wajib yang lain, sebagaimana Jabir Bin Abdullah meriwayatkan bahwa Mu’adz shalat Isya bersama Rasulullah SAW kemudian mendatangi kaumnya di Bani Salamah dan shalat bersama mereka sebagai shalat tathawwu’ sedangkan bagi mereka shalat fardlu Isya, karena shalatnya sesuai dengan tatacara yang nampak sehingga memungkinkan melaksanakannya walau niatnya berbeda . Adapun jika shalat Kusuf di belakang yang shalat shubuh atau shalat shubuh di belakang yang shalat Kusuf itu tidak boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-3817197996715408971?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/3817197996715408971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/05/mamum-shalat-fardlu-imam-shalat-sunat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3817197996715408971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3817197996715408971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/05/mamum-shalat-fardlu-imam-shalat-sunat.html' title='Ma’mum Shalat Fardlu, Imam Shalat Sunat'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-263282438916875254</id><published>2010-05-03T18:44:00.001-07:00</published><updated>2010-05-03T18:47:32.235-07:00</updated><title type='text'>HUKUM QUNUT &amp; BASMALAH DLM SHALAT</title><content type='html'>http://persatuan-islam-singapura.com/Html/text/Kitab%20Solat/Qunut.doc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUM QUNUT&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسـم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلأَدِلَّةُ الدَّالَةُ عَلَى عَدَمِ مَشْرُوْعِيَّةِ الْقُنُوْتِ فِي الصُّبْحِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TIDAK DISYARIATKAN QUNUT SHUBUH KECUALI QUNUT NAZILAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 – رَوَى ابْنُ حِبَّانَ وَ الْخَطِيْبُ وَ ابْنُ خُزَيْمَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم كاَنَ لاَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ إِذَا دَعاَ لِقَوْمٍ أَوْ دَعاَ عَلَى قَوْمٍ. هَذَا لَفْظُ ابْنُ حِبَّانَ.             { فقه السنة 1 : 198 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Ibnu Hibban, Al-Khathib dan Ibnu Khuzaimah telah meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi SAW tidak qunut pada solat shubuh kecuali mendoakan keselamatan satu kaum atau mendoakan kecelakaan untuk mereka. Ini adalah lafadz ( riwayat ) Ibnu Hibban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 – وَ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ ابْنِ حِبَّانَ بِلَفْظٍ كاَنَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُوَ ِلأَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ.         { نيل الأوطار 2 : 387 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Hadits Abu Hurairah, menurut riwayat Ibnu Hibban dengan lafadz “ Adalah SAW tidak qunut, kecuali jika mendoakan keselamatan atau kecelakaan seseorang “.  &lt;br /&gt; ( Nailul Authar 2 : 387 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 – وَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم قَنَتَ شَهْرًا حِيْنَ قُتِلَ الْقُرَّاءُ فَماَ رَأَيْتُـهُ حَزِنَ خُزْناً قَطُّ أَشَدَّ مِنْـهُ.                           { البخاري ، نيل الأوطار 387 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Dari  Anas : “ Sesungguhnya Nabi SAW pernah qunut selama sebulan ketika terbunuhnya Al-Qura ( para penghafal Quran ), maka aku tidak pernah melihat Nabi SAW sangat bersedih daripada kesedihan dari peristiwa tersebut ”.&lt;br /&gt;        ( H.R Al-Bukhari, Nailul Authar 2 : 387 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 – وَ فِيْ لَفْظٍ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْياَءَ مِنْ أَحْياَءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَـهُ.&lt;br /&gt;         { رواه أحمد و مسلم }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Dalam satu lafadz ( riwayat ) : “ Nabi SAW qunut selama sebulan, berdoa untuk kecelakaan kampung-kampung di Arab, kemudian Nabi SAW meninggalkannya ( qunut ) ”.               ( H.R Ahmad dan Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السؤال : قَالَ اْلإِماَمُ النَّوَوِيُّ : وَ أَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ وَ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنهما فِيْ قَوْلِهِ " ثُمَّ تَرَكَهُ " فَالْمُرَادُ تَرْكُ الدُعاَءِ عَلَى أُلئِكَ الْكُفَّارِ وَ لَعْنَتِهِمْ فَقَطْ لاَ تَرْكُ جَمِيْعِ الْقُنُوْتِ أَوْ تَرْكُ الْقُنُوْتِ فِي الصُّبْحِ وَ هَذَا التَّأْوِيْلُ مُتَعَيَّنٌ ِلأَنَّ حَدِيْثَ أَنَسٍ فِي قَوْلِهِ " لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى قاَرَقَ الدُّنْياَ " صَحِيْحٌ صَرِيْحٌ.&lt;br /&gt; { المجموع 3 : 505 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANTAHAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam An-Nawawi, bahwa jawaban/bantahan terhadap hadits  Anas dan Abi Hurairah tentang pernyataan Tsumma Tarakahu ( kemudian Nabi SAW meninggalkan qunut ), yang dimaksudkan adalah meninggalkan doa qunut untuk mereka yang kafir, serta meninggalkan kutukan terhadap mereka, bukan bererti meninggalkan semua qunut atau meninggalkan qunut shubuh. Dan ta’wil ini pasti/benar sekali, kerana hadits Anas yang menyatakan “ Nabi SAW tidak henti-hentinya qunut sampai meninggal dunia ” adalah hadits shahih lagi sharih ( jelas ).         ( Al-Majmu’ 3 : 505 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجواب : وَ لَيْسَ اْلأَمْرُ كَذَالِكَ ِلأَنَّهُ َقَدْ ضَعَّـفَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ اْلأَمَّةِ لأَنَّ فِيْهِ أَباَ جَعْفَرٍ اَلرَّازِيَّ وَ هُوَ ضَعِيْفٌ كَماَ تَقَدَّمَ.&lt;br /&gt;- وَ فِي الْقاَعِدَةِ : اَلْجَرْحُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيْلِ. وَ لوْ صَحَّ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى هَذَا الْقُنُوْتِ الْمُعَيِّنِ اَلْبَتَةَ.               { زاد المعاد 1 : 70 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWABAN ( atas bantahan ) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak demikian halnya, kerana hadits tersebut telah dinyatakan dhaif bukan oleh seorang ahli hadits, sebab pada hadits tersebut ada rawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Razi, yang dia itu dhaif, sebagaimana penjelasan berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ ِلأَحْمَدَ وَ الدَّارَقُطْنِيِّ نَحْوُهُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ وَ زَادَ : أَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فاَرَقَ الدُّنْياَ.            { سبل السلام 1 : 185 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : menurut Imam Ahmad dan Daruquthni hadits yang senada dengan hadits itu ( terdapat ) dari jalan lain, ia menambah : “ Adapun pada waktu ( solat ) shubuh, Nabi SAW sentiasa berqunut sampai beliau wafat ”.               ( Subulus Salam 1 : 185 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ هَذَا الْحَدِيْثُ ضَعِيْفٌ ِلأَنَّ فِي إِسْناَدِهِ أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ قاَلَ فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ : " لَيْسَ بِالْقَوِيِّ ". وَ قاَلَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِيْنِيِّ : " أَنَّهُ يُخْلِطُ ". وَ قاَلَ أَبُو زَرْعَةَ : " يُهَمُّ كَثِيْرًا ". وَ قاَلَ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ الْفَلاَسِ : " صُدُوْقٌ سَيِّءُ الْحِفْظِ " &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan : Hadits tersebut dhaif, kerana pada sanadnya terdapat nama Ja’far Ar-Razi. Berkata Abdullah Bin Ahmad tentang dirinya ( Ja’far ) : “ Tidak Kuat ”, dan berkata Ali Al-Madani : “ Dia itu Mukhthalit ( bercampur ingatannya ) “, dan berkata pula Abu Jur’ah : “ Dia telah banyak tertuduh dusta “, dan berkata pula ‘Amr Bin Ali Al-Falas : “ Dia jujur, namun hafalannya buruk ”.    ( Nailul Authar 2 : 386 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَفِيْ سَنَدِهِ أَبُوْ جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ وَ هُوَ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ وَ حَدِيْثُهُ لاَ يَنْهَضُ لِْلإِحْتِجاَجِ بِهِ إِذْ لاَ يُعْقَلُ أَنْ يَقْنُتَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم فِي الْفَجْرِ طُوْلَ حَياَتِهِ ثُمَّ يَتْرُكُهُ الْخُلَفاَءُ مِنْ بَعْدِهِ بَلْ أَنَّ أَنَساً نَفْسَهُ لَمْ يَكُنْ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ كَماَ ثَبَتَ ذَلِكَ عَنْهُ. وَ لَوْ سُلِّمَ صِحَّةُ الْحَدِيْثِ فَيُحْمَلُ الْقُنُوْتُ الْمَذْكُوْرُ فِيْهِ عَلَى أَنَّهُ صلّى الله عليه و سلّم يُطِيْلُ الْقِياَمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ لِلدُّعاَءِ وَ الثَّناَءِ إِلَى أَنْ فاَرَقَ الدُّنْياَ. فَإِنَّ هَذَا مَعْنًى مِنْ مَعاَنِى الْقُنُوْتِ وَ هُوَ هُناَ أَنْسَبُ.         { فقـه السـنة 1 : 199 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Dalam sanad Hadits (di atas ) terdapat nama Abu Ja’far Ar-Razi, dia seorang yang lemah dan haditsnya tidak dapat dipakai hujjah, kerana tidak masuk akal seandainya Rasulullah SAW melakukan qunut solat shubuh sepanjang hidupnya, lalu para khalifah setelah Nabi SAW meninggalkan qunut, bahkan Anas sendiri tidak melaksanakan qunut pada waktu shubuh, sebagaimana riwayat shahih darinya.&lt;br /&gt;Seandainya keshahihan hadits itu dapat diterima, maka selayaknya pengertian qunut di sana diertikan bahwasanya Nabi SAW memanjangkan berdiri setelah ruku untuk berdoa, serta memuji, hingga Nabi SAW wafat. Maka ini pula salah satu dari pengertian qunut dan memang inilah yang sesuai sebagaimana ( dimaksud ) dalam hadits ini.                  ( Fiqh Sunnah 1 : 199 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut qaidah : “ Tuduhan jarh ( cacat ) harus didahulukan/diutamakan daripada anggapan adil / jujur ”.&lt;br /&gt;( Menurut Ibnu qayyim ) : Andaikata hadits itu shahih ( tetap ), tidak dapat dijadikan dalil keberadaan qunut tertentu ( shubuh ).             ( Zaadul Ma’ad 1 : 170 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 – وَ عَنْ أَبِي هريرةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم كاَنَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأَحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ فَرُبَّماَ قاَلَ إِذَا قاَلَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ ، اَللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدَ وَ سَلَمَةَ بْنَ هِشاَمٍ وَ عِياَشَ بْنَ أَبِيْ رُبَيْعَةَ  وَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ، اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَ طَأَتَكَ عَلَى مُضَرٍ وَاجْعَلْهاَ عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِى يُوْسُفَ قاَلَ يَجْهَرُ بِذَلِكَ وَ يَقُوْلُ فِي بَعْضِ صَلاَتِهِ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ  &lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَناً حَيَّيْنِ مِنْ أَحْياَءِ الْعَرَبِ حَتَّى أَنْزَلَ اللهُ تعالى : " لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ " الآية.       { واه أحمد و البخاَري ، نيل الأوطار 2 : 389 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Dari Abi Hurairah : “ Sesungguhnya Nabi SAW, apabila hendak mendoakan    ( kecelakaan ) seseorang atau mendoakan ( keselamatan ), beliau berqunut setelah ruku’, kadang-kadang beliau berdoa setelah mengucapkan Sami’ Allah Liman Hamidah Rabbana Lakal Hamdu. Ya Allah !, Selamatkanlah Walid Bin walid, salamah Bin Hisham dan ‘Iyyas Bin Abi Rabi’, juga orang-orang mukmin yang lemah. Ya Allah!, kuatkanlah tekananMu / siksaanMu terhadap orang-orang Mudhar, timpakanlah kepada mereka bencana kelaparan sebagaimana ( dulu pernah ) terjadi di zaman Yusuf “. Ia ( perawi ) berkata : “ Nabi SAW suka menjaharkan doa tersebut, dan kadang ( Nabi SAW ) berdoa disebahgian solatnya, iaitu pada solat shubuh. Ya Allah!, kutuklah si Fulan, yakni penghuni/penduduk dua kampung Arab, sehingga Allah menurunkan ayat : “ Bukan tanggung jawabmu urusan mereka itu “. &lt;br /&gt;                             ( H.R. Ahmad dan Al-Bukhari; Nailul Authar 2 : 389 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 – عن أبي هريرة قاَلَ : َلأُقَرِّبَنَّ لَكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم فَكاَنَ  أَبُو هريرةَ يَقْنُتُ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ وَ الْعِشاَءِ اْلآخِرَةِ وَ صَلاَةِ الصُّبْحِ بَعْدَ ماَ يَقُوْلُ سَمِعَ اللهُ لَمَنْ حَمِدَهُ فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ يَلْعَنُ الْكُفَّارَ.  &lt;br /&gt;                   { متفق عليه }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata : “ Sungguh aku akan mendekatkan/menjelaskan solat Rasulullah SAW. Maka Abi Hurairah qunut pada raka’at akhir solat Dhuhur dan Isya, serta dalam solat shubuh, setelah beliau mengucapkan Sami’ Allahu Liman Hamidah. Kemudian beliau berdoa untuk keselamatan orang-orang mukmin dan mengutuk orang-orang kafir. &lt;br /&gt;                 ( Muttafaqun ‘alaih )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 – وَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قاَلَ : قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلم شَهْرًا مُتَتاَبِعاً فِي الظُّهْرِ وَ الْعَصْرِ وَ الْمَغْرِبِ وَ الْعِشاَءِ وَ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قاَلَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ عَلَى حَيٍّ مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَ ذَكْوَانَ وَ عُصَيَّةَ وَ يُؤَمِّنُ مَنْ خَلَفَهُ.&lt;br /&gt;- أبو داود و أحمد و زَادَ : أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ يَدْعُوهُمْ إِلَى اْلإِسْلاَمِ فَقَتَلُوْهُمْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ertinya : Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW pernah berqunut selama sebulan terus menerus dalam solat Dhuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya dan Shuhuh, pada akhir setiap solat, setelah beliau membaca Sami’ Allahu Liman Hamidah di raka’at yang akhir. Beliau mendoakan mereka, iaitu atas penghuni kampung Bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwaan dan ‘Ushayah, serta diiringi Amiin oleh orang-orang di belakangnya “.                ( H.R Abu Dawud dan Ahmad )&lt;br /&gt;Ia menambah bahwa Nabi SAW mengirimkan utusan kepada mereka untuk mengajak mereka masuk Islam, namun mereka membunuh utusan-utusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- قاَلَ عِكْرِمَةُ كاَنَ هَذَا مِفْتاَحُ الْقُنُوْتِ.     { نيل الأوطار 2 : 390 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menurut Ikrimah, kejadian ini adalah permulaan adanya qunut.   ( N.Authar 2 : 390 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- وَ قاَلَ الشَّوْكاَنِيُّ : اَلْحَقُّ ماَ ذَهَبَ إِلَيْهِ مَنْ قاَلَ إِنَّ الْقُنُوْتَ مُخْتَصٌّ بِالنَّوَازِلِ وَ أَنَّهُ يَنْبَغِى عِنْدَ نُزُوْلِ النَّازِلَةِ أَلاَّ تُخْتَصُّ بِهِ صَلاَةٌ دُوْنَ صَلاَةٍ.&lt;br /&gt;             { فتح الربانى 3 : 305 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menurut Asy-Syaukani, bahwa yang benar ialah pendapat orang yang menyatakan bahwa qunut itu khusus ( dilakukan ) manakala terjadi Nazilah ( bencana / malapetaka ), dan dalam hal itu selayaknya tidak dikhususkan dalam solat-solat tertentu saja. ( Fathur Rabbani 3 : 305 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْخُلاَصَـةُ&lt;br /&gt;1 – لاَ يَشْرَعُ الْقُنُوْتُ فِي الصُّبْحِ بِدُعاَءِ اَللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيْمَنْ هَدَيْتَ ............&lt;br /&gt;ِلأَنَّ أَحاَدِيْثَهُ ضَعِيْعَةٌ لاَ يَقُوْمُ بِهاَ حُجَّـةٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Qunut shubuh dengan doa Allahummah Dini Fiiman Hadaita…… ( dan seterusnya ) itu, tidak disyariatkan, kerana hadits-haditsnya dhaif, tidak dapat dijadikan hujjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 – لِقاَعِدَةٍ : مَتَى تَرَدَّدَ الْعُلَماَءُ بَيْنَ كُوْنِهِ سُـنَّةً أَوْ بِدْعَـةً فَتَرَكَـهُ لاَزِمٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melihat adanya Qaidah : Manakala para ulama ragu-ragu menetapkan antara sunnah dengan bid’ah, maka lebih baik ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 – وَ لِقاَعِدَةٍ : تَرْكُ ماَ نُرِيْبُ سُنَّـتَهُ خَيْرٌ مِنْ فِعْلِ ماَ نَخاَفُ بِدْعَـتَهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berdasarkan Qaidah : Meninggalkan yang diragukan kesunnahannya, lebih baik daripada mengamalkan yang dikhuatirkan terjatuh kepada bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya : Apabila para ‘ulama berbeda pendapat dalam menetapkan sesuatu antara sunnat dengan bid’ah, maka lebih baik ditinggalkan, Seperti halnya dalam qunut shubuh, sebahgian ulama menetapkan sunnat, sementara sebahgian ulama lainnya menetapkan bid’ah, maka dalam hal ini, lebih baik qunut tersebut ditinggalkan. Andaikan qunut itu sunnat, ia tidak berdosa hanya tidak mendapat pahala ( saja ), akan tetapi andai qunut itu bid’ah, maka tentu akan mendapat dosa dengan melakukannya.&lt;br /&gt;4 – وَ لَمْ يَكُنْ يَفْعَلُهُ أَهْلُ مَكَّةَ وَ الْمَدِيْنَةِ فِي عَهْدِناَ اْلآنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Juga ( qunut ) itu tidak diamalkan oleh orang-orang Makkah serta Madinah sampai di zaman kita sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 – وَ يُشْرَعُ الْقُنُوْتُ فِي النَّوَازِلِ خَاصَّةً وَ يَتْرُكُهُ عِنْدَ عَدَمِهاَ وَ لَمْ يَكُنْ يَخُصُّهُ بِالْفَجْرِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Disyariatkan qunut nazilah apabila terjadi malapetaka dan bencana terhadap ummat Islam, serta hendaklah ditinggalkan apabila bencana itu telah hilang, dan       ( pelaksanaannya ) tidak dikhususkannya dalam solat shubuh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 – وَ يُشْرَعُ طُوْلُ الْقِياَمِ فِي الصُّبْحِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَ هُوَ مَعْنًى مِنْ مَعاَنِى الْقُنُوْتِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Juga disyariatkan Thulul Qiyaam ( lama berdiri ) dengan bacaan surah-surah Al-Quran yang panjang dalam solat shubuh, serta itu pun salah satu yang dimaksud dengan qunut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 – وَ لَمْ يَكُنْ لِلنَّوَازِلِ دُعاَءٌ خاَصٌّ بَلْ يَدْعُو النَّبِيُّ صلّى اللهً عليه و سلم بِدُعاَءٍ مُناَسِبٍ لِذَلِكَ الْحاَلِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Untuk doa qunut Nazilah, tidak ada doa khusus, tetapi Nabi SAW berdoa sesuai dengan tuntutan keadaan serta suasana ( kondisi ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَعْنَى الْقُنُوْتِ : دُعاَءٌ خُشُوْعٌ ، اَلْعِباَدَةُ طاَعَةٌ ، إِقاَمَتُهاَ ، إِقْرَارُهاَ بِالْعُبُوْدِيَّةِ ، سُكُوْتُ صَلاَةٍ وَ الْقِياَمُ وَ طُوْلُهُ. كَذَلِكَ دَوَامُ الطَّاعَةِ اَلرَّبِعُ الْقِيْنَةُ.&lt;br /&gt;{ فتح الباري 2 : 409 }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Qunut : Doa yang khusyu, Ibadah taat, melaksanakan ibadah, mengakui kewajiban ibadah, diam dalam solat, dan lama berdiri, demikian pula melaksanakan ketaatan. Yang beruntung adalah yang mendapatkannya.          ( Fathul Bari 2 : 409 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#########################&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STATUS BASMALAH DALAM SURAT FATIHAH &lt;br /&gt;Membaca Al Fatihah merupakan rukun shalat, dan basmalah adalah salah satu ayat dari surat Al Fatihah. Karena itu menurut madzhab Syafi’iy, shalat tidak sah tanpa membaca basmalah. Dan Al Fatihah itu dibaca ketika berdiri pada setiap rakaat.&lt;br /&gt;Pendapat ini berdasarkan pada:&lt;br /&gt;1. Sabda Rasulullah SAW :&lt;br /&gt;لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ( متفق عليه ) [1]&lt;br /&gt;Artinya: ”Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca surat Al Fatihah”&lt;br /&gt;2. Hadits riwayat Imam Bukhari sebagaimana dijelaskan Syaikh As Syarbini:&lt;br /&gt;وَالْبَسْمَلَةُ آيَةٌ مِنْهَا اَيْ الْفَاتِحَةِ لِمَا رُوِيَ أَنََّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَدَّ الفَاتِحَةَ سَبْعَ آيََاتٍ وَعَدَّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ آيَةً مِنْهَا [2]&lt;br /&gt;Artinya: ” Basmalah salah satu ayat dari Al Fatihah karena diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW menghitung ayat surat Al Fatihah ada tujuh ayat, dan Rasulullah SAW menghitung bismillahirrahmanirrahim termasuk salah satu ayatnya”&lt;br /&gt;3. Hadits riwayat Ad Daruquthni dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا قَرَأْتُمْ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاقْرَؤُوا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِنَّهَا أُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِحْدَى آيَا تِهَا [3]&lt;br /&gt;Artinya: ”Jika kamu membaca surah Al hamdulillah ( Al Fatihah), maka bacalah bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya surah al Fatihah itu ummul kitab dan as Sab’ul Matsani ( tujuh ayat yang diulang-ulang ) dan bismillahirrahmanirrahim salah satu ayatnya”&lt;br /&gt;Karena merupakan bagian dari surat Al Fatihah, maka basmalah juga disunnahkan dibaca jahr ketika membaca Al Fatihah dalam shalat jahriyah (shalat yang disunnahkan untuk mengeraskan suara).&lt;br /&gt;Hal ini seperti dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa Imam Abu Dawud dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْتَحُ الصَّلاَةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ [4]&lt;br /&gt;Artinya : Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah SAW memulai shalat dengan membaca bismillahir rahmanir rahim&lt;br /&gt;Imam Al-Hakim dalam kitab Mustadrak meriwayatkan hadits :&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ثُمَّ قَالَ صَحِيْحٌ [5]&lt;br /&gt;Artinya : Dari Ibnu Abbas, beliau berkata : Rasululllah SAW mengeraskan bacaan Bismillahir rahmanir rahim. Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini Shahih.&lt;br /&gt;Dalam Shahih Bukhari disebutkan :&lt;br /&gt;عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّهُ سُئِلَ عَنْ قِرَاءَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ، فَقَالَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ يَمُدُّ بِسْمِ اللهِ وَيَمُدُّ الرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ الرَّحِيْمِ [6]&lt;br /&gt;Artinya: ”Dari Anas bin Malik, dia ditanya tentang bacaan Nabi SAW. Beliau menjawab bahwa bacaan Nabi SAW panjang kemudian membaca bismillahir rahmanir rahim dengan memanjangkan bismillah, memanjangkan ar-rahman dan memanjangkan ar-rahim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN :&lt;br /&gt;Basmalah (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ) adalah ayat pertama dari surah Al-Fatihah dan dibaca keras dalam shalat jahriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Al Bukhari: hadits no. 743, Muslim : hadits no. 399, Abu Dawud: hadits no. 782, At tirmidzi: hadits no. 246, An Nasa’i : juz 2 hal 133, Ibnu Majah: hadits no. 813&lt;br /&gt;[2] Asy Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khathib Asy Syarbiniy, Mughni Al Muhtaj Ila Ma’rifati Alfazhi al Minhaj, juz 1, ( Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 1971 ), hal 228&lt;br /&gt;[3] Ibid.&lt;br /&gt;[4] As-Syekh Ibnu Katis, Tafsir Ibnu Katsir, (Beirut : Dar Elfikr, tt.), hal.&lt;br /&gt;[5] Ibid&lt;br /&gt;[6] Imam Al-Bukhary, Shahih Bukhari, CD, Hadits no. 4658BASMALAH DALAM SURAT AL-FATIHAH&lt;br /&gt;Membaca Al Fatihah merupakan rukun shalat, dan basmalah adalah salah satu ayat dari surat Al Fatihah. Karena itu menurut madzhab Syafi’iy, shalat tidak sah tanpa membaca basmalah. Dan Al Fatihah itu dibaca ketika berdiri pada setiap rakaat.&lt;br /&gt;Pendapat ini berdasarkan pada:&lt;br /&gt;1. Sabda Rasulullah SAW :&lt;br /&gt;لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ( متفق عليه ) [1]&lt;br /&gt;Artinya: ”Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca surat Al Fatihah”&lt;br /&gt;2. Hadits riwayat Imam Bukhari sebagaimana dijelaskan Syaikh As Syarbini:&lt;br /&gt;وَالْبَسْمَلَةُ آيَةٌ مِنْهَا اَيْ الْفَاتِحَةِ لِمَا رُوِيَ أَنََّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَدَّ الفَاتِحَةَ سَبْعَ آيََاتٍ وَعَدَّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ آيَةً مِنْهَا [2]&lt;br /&gt;Artinya: ” Basmalah salah satu ayat dari Al Fatihah karena diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW menghitung ayat surat Al Fatihah ada tujuh ayat, dan Rasulullah SAW menghitung bismillahirrahmanirrahim termasuk salah satu ayatnya”&lt;br /&gt;3. Hadits riwayat Ad Daruquthni dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا قَرَأْتُمْ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاقْرَؤُوا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِنَّهَا أُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِحْدَى آيَا تِهَا [3]&lt;br /&gt;Artinya: ”Jika kamu membaca surah Al hamdulillah ( Al Fatihah), maka bacalah bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya surah al Fatihah itu ummul kitab dan as Sab’ul Matsani ( tujuh ayat yang diulang-ulang ) dan bismillahirrahmanirrahim salah satu ayatnya”&lt;br /&gt;Karena merupakan bagian dari surat Al Fatihah, maka basmalah juga disunnahkan dibaca jahr ketika membaca Al Fatihah dalam shalat jahriyah (shalat yang disunnahkan untuk mengeraskan suara).&lt;br /&gt;Hal ini seperti dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa Imam Abu Dawud dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْتَحُ الصَّلاَةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ [4]&lt;br /&gt;Artinya : Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah SAW memulai shalat dengan membaca bismillahir rahmanir rahim&lt;br /&gt;Imam Al-Hakim dalam kitab Mustadrak meriwayatkan hadits :&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ثُمَّ قَالَ صَحِيْحٌ [5]&lt;br /&gt;Artinya : Dari Ibnu Abbas, beliau berkata : Rasululllah SAW mengeraskan bacaan Bismillahir rahmanir rahim. Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini Shahih.&lt;br /&gt;Dalam Shahih Bukhari disebutkan :&lt;br /&gt;عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّهُ سُئِلَ عَنْ قِرَاءَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ، فَقَالَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ يَمُدُّ بِسْمِ اللهِ وَيَمُدُّ الرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ الرَّحِيْمِ [6]&lt;br /&gt;Artinya: ”Dari Anas bin Malik, dia ditanya tentang bacaan Nabi SAW. Beliau menjawab bahwa bacaan Nabi SAW panjang kemudian membaca bismillahir rahmanir rahim dengan memanjangkan bismillah, memanjangkan ar-rahman dan memanjangkan ar-rahim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN :&lt;br /&gt;Basmalah (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ) adalah ayat pertama dari surah Al-Fatihah dan dibaca keras dalam shalat jahriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Al Bukhari: hadits no. 743, Muslim : hadits no. 399, Abu Dawud: hadits no. 782, At tirmidzi: hadits no. 246, An Nasa’i : juz 2 hal 133, Ibnu Majah: hadits no. 813&lt;br /&gt;[2] Asy Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khathib Asy Syarbiniy, Mughni Al Muhtaj Ila Ma’rifati Alfazhi al Minhaj, juz 1, ( Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah, 1971 ), hal 228&lt;br /&gt;[3] Ibid.&lt;br /&gt;[4] As-Syekh Ibnu Katis, Tafsir Ibnu Katsir, (Beirut : Dar Elfikr, tt.), hal.&lt;br /&gt;[5] Ibid&lt;br /&gt;[6] Imam Al-Bukhary, Shahih Bukhari, CD, Hadits no. 4658 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membaca Basmalah Ketika Shalat; Dikeraskan atau Dipelankan?&lt;br /&gt;Dec 10, '09 4:06 AM&lt;br /&gt;for everyone&lt;br /&gt;Oleh: Farid Nu’man&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk membahas masalah ini kita awali dengan apakah Basmalah adalah bagian dari surat Al Fatihah atau tidak?&lt;br /&gt;Terjadi perbedan dalam hal ini:&lt;br /&gt;-          Ataukah dia termasuk bagian dari ayat pertama pada setiap surat ?&lt;br /&gt;-          Ataukah dia sebagai bagian dari AlFatihah tapi tidak bagi surat lainnya?&lt;br /&gt;-         Atau apakah dia adalah sebagai pembatas surat saja bukan ayat tersendiri?&lt;br /&gt;-         Apakah dia termasuk  AYAT TERPISAH yang ditulis di awal setiap surat.?&lt;br /&gt;-         Ataukah dia termasuk bagian dari surat dan ditulisnya di awal surat  sebagai ayat pertama?&lt;br /&gt;Jika diringkas maka perbedaan ini menjadi tiga kelompok:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok pertama, mereka mengatakan Basmalah merupakan bagian dari surat Al Fatihah dan semua surat lainnya, kecuali surat Al Bara’ah (At Taubah). Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Az Zubeir, Abu Hurairah dan Ali. Di kalangan tabi’in: Atha, Thawus, Mak-hul, Said bin Jubeir, Az Zuhri, dan ini juga pendapat Ibnul Mubarak,       Asy Syafi’i,[1] Ahmad bin Hambal dalam satu riwayat darinya, Ishaq bin Rahawaih, dan Abdul Qasim bin Salam - Rahimahumullah.&lt;br /&gt;            Mereka beralasan dengan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:&lt;br /&gt; كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يعرف فصل السورة حتى تنزل عليه {بسم اللّه الرحمن الرحيم}          &lt;br /&gt;            “Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah mengetahui batasan/pembagian surat , sampai turunlah  kepadanya: Bismillahirrahmanirrahim.” (HR.Abu Daud No. 788, Al Baihaqi dalam As Sunannya No. 2206. Imam Ibnu Katsir mangatakan sanadnya shahih. Lihat Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/116. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Syaikh Al Albani juga menyatakan shahih dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 788)&lt;br /&gt;            Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Basmalah adalah bagian dari setiap surat –selain memang sebagai pembatas- kecuali pada surat Al Bara’ah. Masalah kenapa surat Al Bara’ah tidak menggunakan Basmalah, Insya Allah akan dibahas pada kesempatan lain.&lt;br /&gt;            Kelompok ini juga berdalil dengan riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين سبع آيات: بسم الله الرحمن الرحيم إحداهن، وهي السبع المثاني والقرآن العظيم، وهي أم الكتاب&lt;br /&gt;            “Al Hamdulillahi Rabbil ‘alamin  (maksudnya: surat Al Fatihah) ada tujuh ayat: Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satunya. Dia adalah tujuh ayat yang diulang-ulang, Al Quran yang agung, dan dia sebagai Ummul Kitab.” &lt;br /&gt;            Hadits ini juga diriwayatkan juga oleh Ad Daruquthni dari Abu Hurairah secara marfu’ , dan Beliau mengatakan: semuanya tsiqat (terpercaya). (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/103)&lt;br /&gt;            Hadits ini sangat jelas menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasukkan  Basmalah  sebagai bagian dari surat Al Fatihah. Maka, ini menjadi pendapat yang sangat kuat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok kedua, mereka mengatakan bahwa Basmalah BUKAN bagian dari Al Fatihah dan bukan pula surat lainnya. Inilah pendapat dari  Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;            Mereka beralasan bahwa hadits di atas hanya menyebutkan fungsi. Basmalah sebagai pembeda dan pemisah surat , bukan menyebutkan bahwa Basmalah adalah bagian dari setiap surat . &lt;br /&gt;Alasan lainnya adalah, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:  “Aku membagi Ash Shalah (yakni surat Al Fatihah) menjadi dua bagian, dan untuk hambaKu sesuai apa yang dia inginkan.” Ketika hamba berkata Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: hamadani ‘abdiy - hambaKu telah memujiKu. Ketika hamba itu membaca Ar Rahmanirrahim, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: atsna ‘alayya ‘abdiy – hambaKu telah memujiKu. …. Dst. (HR. Muslim No. 395, At Tirmidzi No. 4027, Abu Daud No. 821, Ibnu Majah No. 3784, Ibnu Hibban No. 1784)&lt;br /&gt;            Hadits ini menunjukkan bahwa tidak dibaca Basmalah  ketika membaca surat Al Fatihah. Ini menunjukkan bahwa Basmalah bukan bagian darinya.&lt;br /&gt;            Hal ini juga diperkuat dari kisah Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu. Beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:&lt;br /&gt;كيف تقرأ إذا افتتحت  الصلاة؟ قال: فقرأت عليه: { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }&lt;br /&gt;            “Bagaimanakah bacaanmu  jika memulai shalat? Ubai menjawab: Aku membaca: Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.” &lt;br /&gt;            Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah  mengomentari hadits ini:&lt;br /&gt;            “Abu Said di sini bukanlah Abu Said bin Al Mu’alli sebagaimana yang diyakini oleh Ibnul ‘Atsir dalam Al Jami’ Al Ushul, dan orang-orang yang mengikutinya. Sebab, Ibnul Mu’alli adalah seorang sahabat Anshar dan yang ini adalah seorang tabi’in dari Khuza’ah, oleh karena itu hadits ini adalah muttashil shahih (bersambung lagi shahih). Hadits ini secara zhahir munqathi’ (terputus), jika Abu Said ini tidaklah mendengarkannya dari Ubai bin Ka’ab, namun jika dia mendengarkannya dari Ubai maka ini sesuai syarat Muslim. Wallahu A’lam. “ (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/104)&lt;br /&gt;            Riwayat ini menunjukkan bahwa Basmalah tidaklah dibaca ketika membaca surat Al Fatihah dan ini menjadi dalil bahwa dia bukan bagian darinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok ketiga,  kelompok ini mengatakan Basmalah merupakan ayat tersendiri  dan terpisah dari semua surat , dia bukan bagian darinya. Inilah pendapat Daud Azh Zhahiri, diceritakan juga dari Imam Ahmad bin Hambal. Dan, Abu Bakar Ar Razi menceritakan dari Abul Hasan Al Karkhi dan keduanya merupakan pembesar madzhab Abu Hanifah. Perbedaan dengan kelompok kedua adalah kelompok ini menyebut Basmalah sebagai ayat yang tersendiri.&lt;br /&gt;            Demikian. Jika kita perhatikan maka pendapat kelompok pertama lebih kuat dan jelas argumennya. Wallahu A’lam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Lalu, apa kaitannya pembahasan ini dengan pertanyaan ‘membaca basmalah di keraskan atau dipelankan?’  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:&lt;br /&gt;            “ Ada pun yang terkait dengan menjaharkan Basmalah, maka perinciannya adalah sebagai berikut: bagi yang berpendapat bahwa Basmalah BUKAN bagian dari surat Al Fatihah maka mereka tidak menjaharkan, begitu juga menurut pihak yang mengatakan Basmalah adalah termasuk bagian ayat awal darinya.  Ada pun bagi kelompok yang mengatakan bahwa Basmalah adalah termasuk  bagian dari surat-surat di bagian awalnya. Maka mereka berbeda pendapat dalam hal ini.&lt;br /&gt;            Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berpendapat bahwa Basmalah  DIJAHARKAN, juga pada surat lainnya. Inilah pendapat banyak golongan dari sahabat tabi’in, para imam kaum  muslimin, baik salaf dan khalaf. Dari kalangan sahabat yang menjaharkan adalah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Muawiyah.  Ibnu Abdil Bar dan Al Baihaqi menceritakan bahwa ini juga  dilakukan Umar dan Ali. Sedangkan Al Khathib menukil dari khalifah yang empat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Tapi riwayat ini gharib (asing/menyendiri). Dari kalangan tabi’in adalah Said bin Jubeir, Ikrimah, Abu Qilabah, Az Zuhri, Ali bin Al Husein dan anaknya Muhammad, Said bin Al Musayyib, Atha, Thawus, Mujahid, Salim, Muhammad bin Ka’ab Al Qurzhi, Abu Bakar bin Amru bin Hazm, Abu Wail, Ibnu Sirin, Muhammad bin Al Munkadir,  Ali bin Abdullah bin Abbas dan anaknya Muhammad, Nafi’, Zaid bin Aslam, Umar bin Abdul Aziz, Al Azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abu Sya’ tsa’, Makhul, dan Abdullah bin Ma’qil bin Muqarrin. &lt;br /&gt;            Imam Al Baihaqi menambahkan: Abdullah bin Shafwan dan Muhammad bin Al Hanafiyah. Sementara Imam Ibnu Abdil Bar menambahkan: Amru bin Dinar. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/117)&lt;br /&gt;            Demikianlah, sangat banyak para sahabat, tabi’in dan imam kaum muslimin yang berpendapat dikeraskannya membaca Basmalah ketika shalat. Dalil-dalil mereka adalah:&lt;br /&gt;-          Imam An Nasa’i dalam Sunannya, Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya masing-masing, Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya; dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa beliau shalat dan dia mengeraskan membaca Basmalah, lalu setelah shalat selesai, dia berkata: “Sesungguhnya saya menyerupakan untuk kalian shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”  (Hadits ini dishahihkan oleh Ad Daruquthni, Al Khathib, Al Baihaqi, dan lainnya)&lt;br /&gt;-          Imam Al Hakim meriwayatkan dalam Al Mustadraknya,  dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengeraskan membaca Bismillahirrahmanirrahim. (Katanya: hadits ini shahih)&lt;br /&gt;-          Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu ditanya tentang bacaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia menjawab: “Adalah bacaan Beliau itu diberikan jarak yang panjang, kemudian dia membaca  Bismillahirrahmanirrahim, dengan memanjangkan Bismillah, memanjangkan Ar Rahman dan memanjangkan Ar Rahim. (juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi No. 2451, Ibnu Majah No. 4215)&lt;br /&gt;-          Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Abu Daud dalam Sunannya, Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Imam Al Hakim dalam Al Mustadaraknya,  meriwayatkan: dari Ummu Salamah, dia berkata: “Bahwa Shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  membaca dengan diputus-putus; Bismillahirrahmanirrahim. Al Hamdulillahirabbil ‘alamin. Ar Rahmanirrahim. Malikiyaumiddin.”  (Imam Ad Daruquthni mengatakan: isnad hadits ini shahih)&lt;br /&gt;-          Imam Asy Syafi’i dalam Musnadnya dan Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya meriwayatkan dari Anas Radhiallahu ‘Anhu; bahwa Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu shalat di Madinah dan dia tidak membaca Basmalah (mengecilkan suara), lalu orang Muhajirin yang hadir mengingkarinya, maka ketika dia shalat untuk kedua kalinya, maka dia membaca bismillah.” &lt;br /&gt;-          Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya menuebutkan dari Nu’aim bin Al Majmar  katanya: Aku Shalat dibelakang Abu Hurairah, dia membaca Bismillahirrahmanirrahim kemudian membaca Ummul Kitab, hingga sampai Wa Ladhdhaallin, dia menjawab: Amin, dan manusia menjawab: Amin.” (HR. Ibnu Khuzaimah No. 499, Berkata Syaikh Al Abani: Al A’zhami berkata: sanadnya shahih seandainya Ibnu Abi Hilal tidak tercampur (hapalannya).)&lt;br /&gt;Demikianlah diantara dalil yang ada bagi kalangan yang mengatakan bahwa membaca Basmalah adalah dikeraskan. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah nampaknya memilih pendapat ini dengan menyebutnya sebagai: “hujjah yang mencukupi dan memuaskan.”  (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/118)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            Kelompok yang lain mengatakan bahwa membaca Basmalah TIDAK DIJAHARKAN. Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:&lt;br /&gt;وذهب آخرون إلى أنه لا يجهر بالبسملة في الصلاة، وهذا هو الثابت عن الخلفاء الأربعة وعبد الله بن مغفل، وطوائف من سلف التابعين والخلف، وهو مذهب أبي حنيفة، والثوري، وأحمد بن حنبل.&lt;br /&gt;            “Pendapat kelompok yang lainnya adalah bahwa tidaklah mengeraskan Basmalah dalam shalat. Dan, ini telah pasti (tsabit) dari khalifah yang empat dan Abdullah bin Mughaffal, dan banyak kelompok dari  pendahulu tabi’in dan khalaf. Ini juga pendapat Abu Hanifah Ats Tsauri, dan Ahmad bin Hambal.” (Ibid)&lt;br /&gt;            Kelompok ini berdalil sebagai berikut:&lt;br /&gt;-          Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman memulai bacaan dalam shalatnya dengan Alhamdulillahirabbil ‘alamin. (HR. Abu Daud No. 782. Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 782)&lt;br /&gt;-          Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Saya telah shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan tak satu pun dari mereka yang mengeraskan bacaan Basmalah.”  (HR. An Nasa’i No. 907, Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 907. Juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 495) &lt;br /&gt;-          Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Adalah shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka memulainya dengan membaca: Al Hamdulillahirrabbil ‘alamin.” (HR. At Tirmidzi No. 246, katanya: hasan shahih. Syaikh Al Albani menyatakan shahih dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 246)&lt;br /&gt;-          Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai shalat dengan bertakbir lalu membaca: Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.” (HR. Abu Daud No. 783, Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 783)&lt;br /&gt;Demikianlah dalil-dalil bagi kelompok yang menyatakan bahwa membaca Basmalah tidak dikeraskan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sementara Imam Malik berpendapat bahwa dalam shalat TIDAKLAH MEMBACA SAMA SEKALI bacaan Basmalah, baik keras (jahran) atau pelan (sirran). Beliau beralasan bahwa hadits-hadits di atas bukan menunjukkan sirr  (pélan), tetapi memang Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak membaca Basmalah.  Alasan lainnya adalah:&lt;br /&gt;-          Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah membaca Bismillahirrahmanirrahim, baik di awal dan di akhirnya. Yang seperti ini juga diriwayatkan dalam berbagai kitab Sunan dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu.&lt;br /&gt; Tetapi, pendapat Imam Malik ini dianggap lemah, sebab dalam hadits-hadits di atas jelas sekali disebutkan kalimat: tak satu pun dari mereka yang mengeraskan bacaan Basmalah, artinya Basmalah tetaplah dibaca tetapi tidak keras. Ada pun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi tidak membaca Basmalah, mesti ditakwil dan dikompromi dengan hadits lain,  yakni Beliau bukanlah tidak membaca tetapi   membacanya, hanya saja suaranya pelan seakan bagi pendengar tidak membacanya. Wallahu A’lam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, dengan demikian ada dua pendapat yang kuat dan sama-sama ditopang oleh dalil-dalil yang shahih, yakni pendapat Pertama. membaca Basmalah secara keras. Pendapat kedua, membacanya secara pelan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua kelompok ini berdalil dengan hujjah yang sama-sama shahih, dan satu sama lain tidaklah dianggap merevisi (nasakh) yang lainnya, atau dianggap riwayat dhaif. Maka, pandangan yang paling seimbang adalah: Bahwa BENAR   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengeraskan Basmalah sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih oleh sahabat yang melihat dan mendengarnya seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ummu Salamah, dan BENAR pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memelankan Basmalah sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih pula dari sahabat yang melihat dan mendengarnya seperti Anas bin Malik dan ‘Aisyah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah metode yang ditempuh oleh para ulama muhaqqiq (peneliti) seperti ‘Alim Rabbani Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah. Beliau berkata:&lt;br /&gt;وبهذا الطريق علمنا أنه لم يكن هديُه الجهرَ بالبسملة كلَّ يوم وليلةٍ خَمسَ مرات دائماً مستمراً ثم يُضَيِّعُ أكثر الأمة ذلك، ويخفى عليها، وهذا مِن أمحلِ المحال بل لو كان ذلك واقعاً، لكان نقلُه كنقل عدد الصلوات، وعدد الركعات، والجهر والإِخفات، وعدد السجدات، ومواضع الأركان وترتيبها، واللّه الموفق.&lt;br /&gt;والإِنصاف الذي يرتضيه العالم المنصف، أنه صلى الله عليه وسلم جهر، وأسر، وقنت، وترك، وكان إسرارُه أكثَر من جهره، وتركه القنوتَ أكثر من فعله&lt;br /&gt;“Dengan metode ini kita bisa mengetahui bahwa bukanlah petunjuk Rasulullah mengeraskan Basmalah setiap hari dan malam sebanyak lima kali dan dilakukan terus menerus, kemudian hal itu lenyap dalam pandangan kebanyakan manusia dan tersembunyi dari mereka. Dan, Ini adalah hal yang mustahil, justru jika hal itu memang benar terjadi, niscaya penukilan dalam hal ini akan sama dengan penukilan tentang jumlah shalat, jumlah rakaat, shalat jahr dan ikhfat (dipelankan), jumlah sujud, tempat rukun dan tertibnya. Wallahul Muwaffiq&lt;br /&gt;Pendapat yang bijak yang dibenarkan oleh para ulama penyusun kitab-kitab adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membaca secara keras dan pelan, pernah berqunut dan pernah meninggalkannya. Hanya saja memelankannya lebih banyak  dibanding mengeraskannya, dan meninggalkan qunut lebih banyak dibanding melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 1/272. Cet. 3. 1986M-1406H.Muasasah Ar Risalah. Beirut - Libanon)&lt;br /&gt;Demikian pembahasan ini. Dari sini semoga kita bisa lebih arif dalam menyikapi bacaan  Basmalah ini. Membacanya, baik dikeraskan atau tidak, bukanlah bab permasalahan salah atau benar, sunah atau  bid'ah. tetapi, keduanya benar, hanya saja nabi lebih sering tidak mengeraskannya   Maka, tidak dibenarkan satu sama lain saling menyerang dan menyalahkan, apalagi sampai taraf menuduh sebagai pelaku bid'ah. Padahal duanya  merupakan perilaku nabi, sahabat tabi'in, dan imam kaum muslimin. Maka, jika kita berada di masjid yang biasa mengeraskan bacaan Basmalah, maka alangkah baik jika  kita mengikutinya -jika diminta menjadi imam- untuk menjaga persatuan hati dan menghilangkan kebencian. Begitu pula ditempat sebaliknya.  Inilah perilaku  ulama rabbani yang mendalam ilmunya yang sudah sepatutnya kita meneladaninya. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1]   Disebutkan  bahwa Imam Asy Syafi’i berpendapat pada sebagain  madzhabnyanya; bahwa Basmalah merupakan bagian dari Al Fatihah tapi bukan bagian surat lainnya. Dan diriwayatkan darinya pula bahwa Basmalah termasuk bagian dari sebagian surat dari keseluruhan surat yang ada. Imam Ibnu katsir mengatakan dua pendapat ini gharib (asing). (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BASMALAH DALAM SHALAT JAHR &lt;br /&gt;BASMALAH DALAM SHALAT JAHR&lt;br /&gt;Oleh : Masnun Tholab&lt;br /&gt;www.masnuntholab.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Di tengah masyarakat terdapat perbedaan cara imam dalam membaca basmalah dalam shalat jahr (membaca keras). Ada yang membaca basmalah dengan keras, dan ada yang membaca dengan lirih. Hal itu terjadi karena banyaknya hadits-hadits yang membicarakan tentang bacaan basmalah dalam shalat yang kelihatannya saling bertentangan satu sama lain. Uraian berikut ini mudah-mudahan bisa memperkaya wawasan kita dan membuat kita menjadi lebih bijak dalam menanggapi perbedaan cara beribadah di kalangan umat islam khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits tentang bacaan basmalah dalam shalat&lt;br /&gt;Dari Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir, ia berkata:&lt;br /&gt;كُنْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ ، فَقَرَأَ : بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ {وَلا الضَّالِّينَ} قَالَ : آمِينَ ، وَقَالَ: النَّاسُ آمِينَ ، وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ: الله أَكْبَرُ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الْجُلُوسِ قَالَ: الله أَكْبَرُ ، وَيَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم&lt;br /&gt;“Aku shalat berada di belakang Abu Hurairah, beliau membaca bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca ummul qur’an sampai pada ayat walaadldlaalliin dan membaca amin, kemudian orang-orang juga mengikutinya membaca amin. Beliau ketika akan sujud membaca; Allahu Akbar dan ketika bangun dari duduk membaca; Allahu Akbar. Setelah salam beliau berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang shalatnya paling menyerupai Rasulullah di antara kalian.” [H.R. Ad-Daruqutni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 14. Menurut Daruqutni hadits ini shahih; H.R. al-Nasa’I, Bab Membaca Fatihah sebelum surat]&lt;br /&gt;Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam al-Nasa’i dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Al-Hakim mengatakan bahwa keshahihan hadits tersebut berdasarkan syarat yang telah ditetapkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Imam Baihaqi mengatakan bahwa sanad hadits di atas adalah shahih dan mempunyai beberapa syawahid (penguat eksternal). Mengomentari hadits di atas, Imam Abu Bakar al-Khathib mengatakan bahwa hadits itu adalah shahih yang tidak butuh terhadap penjelasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Daruquthni juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah:&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا قَرَأَ وَهُوَ يَؤُمُّ النَّاسَ اِفْتَتَحَ الصَّلَاةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. (رواه الدارقطني&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Nabi SAW ketika membaca (fatihah), sedangkan beliau mengimami para shahabat, memulai shalat dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim.” [H.R. al-Daruquthni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 17]. Imam Daruquthni mengatakan bahwa semua perawi hadits tersebut adalah tsiqat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik berkata,&lt;br /&gt;صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ. فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ، وَلَا فِي آخِرِهَا.&lt;br /&gt;" Aku biasa shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam., di belakang Abu Bakar, ''Umar dan ''Usman. Mereka hanya memulai bacaan dengan ''Alhamdulillahi rabbil ''alamin'' dan tidak pernah kudengar mereka membaca ''Bismillahirrahmanirrahim'' pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya. " [HR. Bukhari no. 743 dan Muslim no. 399]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Abdullah ibn Mughaffal berkata, &lt;br /&gt;سَمِعَنِيْ أَبِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ أَقُوْلُ " بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ " فَقَالَ لِي: أي بني محدث إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ، قَالَ: وَلَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رسول الله صلى الله عليه وسلم كَانَ أَبْغَضُ إِلَيْهِ الْحَدَثَ فِي الْإِسْلَامِ، يَعْنِي مِنْهُ، وَقَالَ: وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعُ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُوْلُهَا، فَلَا تَقُلْهَا، إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ {اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}&lt;br /&gt;“Ayahku memperdengarkan kepadaku ketika aku di dalam sholat membaca “bismilla-hirrokhma-nirrikhi-m”, maka ia berkata kepadaku,”anakku, itu muhdats (hal baru/ bid’ah). Jauhilah olehmu hal-hal yang diada-adakan (bid’ah). Ia berkata, “Aku belum pernah melihat kebencian para sahabat Rasulullah melebihi kebenciannya terhadap hal-hal yang diada-adakan (bid’ah) dalam Islam. Dan aku telah shalat bersama dengan Nabi saw, dan bersama Abu Bakar, dan bersama Umar, dan bersama Usman. Dan belum pernah aku mendengar salah seorang dari mereka membacanya (bismilla-hirrokhma-nirrokhi-m). Oleh karena itu janganlah engkau membacanya. Dan jika engkau shalat bacalah dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”. &lt;br /&gt;Menurut Abu ‘Isa al-Tirmizi, hadis ini berkualitas hasan. &lt;br /&gt;Kandungan hadis ini, menurut al-Tirmizi, diamalkan oleh para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sebagainya. Dan juga diamalkan oleh para ulama tabi’in. Menurut Sufyan al-Tsauri, ibn al-Mubarak, Ahmad dan Ishak, mereka tidak membaca basmalah secara keras, melainkan membacanya dalam hati.&lt;br /&gt;(HR. Tirmidzi, hadits no. 244)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas ibn Malik berkata,&lt;br /&gt;صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى بِنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا&lt;br /&gt;“telah shalat bersama kami Rasulullah saw, dan beliau tidak memperdengarkan bacaan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”. Dan telah sholat pula bersama kami Abu Bakar dan Umar, dan keduanya juga tidak memperdengarkan bacaan tersebut”. (HR. Nasaiy (Sunan, al-Iftitah: 896). Hadis ini munqathi’ karena dalam sanadnya Manshur ibn Zadzan tidak bertemu dengan Anas ibn Malik. Hadis ini da’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis dari Anas&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسٍ كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;Dari Anas bahwa Nabi saw dan Abu Bakar dan ‘Umar dan Usman, semuanya memulai bacaannya dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”. (HR.Tirmidzi, bab “Memulai membaca Al-quran dengan Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin” hadits no. 246) Abu Isa berkata hadits ini Hasan shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang juga bersumber dari Anas menyebutkan:&lt;br /&gt;وَكَانُوْا لَا يَجْهَرُوْنَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.&lt;br /&gt;“Mereka tidak mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis dari Abdullah ibn ‘Abbas&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ&lt;br /&gt;Abdullah ibn ‘Abbas berkata, “Bahwa Rasulullah saw memulai bacaan shalatnya dengan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”. (HR.Tirmidzi, bab “Memulai membaca Al-quran dengan Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin” hadits no. 245; HR. Daruqtni Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 6)&lt;br /&gt;Abu ‘Isa al-Tirmizi menyatakan bahwa hadis ini tidak ada masalah dalam sanadnya. Menurutnya, sebagian sahabat telah melaksanakan hadis ini, diantaranya adalah Abu hurairah, ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Abdullah ibn ‘Abbas, dan ‘Abdullah ibn al-Zubair. Pendapat ini juga dipegangi oleh imam al-Syafi’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Nabi SAW:&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ بِالْبَسْمَلَةِ&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW (selalu) mengeraskan suaranya ketika membaca basmalah (dalam shalat). (HR Bukhari)&lt;br /&gt;Menjelaskan hadits ini, 'Ali Nayif Biqa'i dalam tahqiq kitab Idza Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi karangan Syeikh as-¬Subki menjelaskan:&lt;br /&gt;"Ibn Khuzaimah berkata dalam kitab Mushannaf-nya menyatakan, pendapat yang menyatakan sunnah mengeraskan basmalah merupakan pendapat yang benar. Ada hadits dari Nabi SAW dengan sanad yang muttashil (urutan perawi hadfts yang sampai langsung kepada Nabi Muhanzmad SAW), tidak diragukan, serta tidak ada keraguan dari para ahli hadfts tentang shahih serta muttashil-nya sanad hadfts ini. Lalu Ibn Khuzaimah berkata, telah jelas dan telah terbukti bahwa Nabi SAW (dalam hadits tersebut) mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat.” (Ma’na Qawl al-Imam al-Muththalibi Izda Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi, hal 161)&lt;br /&gt;http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=15107&amp;category_id=&amp;hal=3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Para Ulama &lt;br /&gt;Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata : &lt;br /&gt;اختلفوا في قراءة بسم الله الرحمن الرحيم في افتتاح القراءة في الصلاة، فمنع ذلك مالك في الصلاة المكتوبة جهرا كانت أو سرا، لا في استفتاح أم القرآن ولا في غيرها من السور، وأجاز ذلك في النافلة. وقال أبو حنيفة والثوري وأحمد يقرؤها مع أم القرآن في كل ركعة سرا، وقال الشافعي: يقرؤها ولا بد في الجهر جهرا وفي السر سرا&lt;br /&gt;Bacaan basmalah sebelum membaca Al-Fatihah dan ayat al-Quran diperselisihkan para fuqaha. Malik berpendapat bahwa bacaan basmalah dalam semua shalat fardu itu dilarang. Larangan itu termasuk pula ketika shalat jahr (suara bacaan keras) atau sirr (bacaan tidak diperdengarkan) untuk surat Al-Fatihah atau ayat-ayat Al-Quran. Namun bacaan basmalah diperkenankan untuk shalat sunat.&lt;br /&gt;Abu Hanifah, Tsauri, dan Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa bacaan basmalah hanya dibaca sirr bersama Al-Fatihah untuk setiap rekaat. Sedang Syafi’i berpendirian bahwa bacaan basmalah itu harus dibaca ketika shalat jahr atau sirr.&lt;br /&gt;[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 272]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :&lt;br /&gt;أن أنس بن مالك أخبره قال صلى معاوية بالمدينة صلاة فجهر فيها بالقراءة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم لأم القرآن ولم يقرأ بها للسورة التي بعدها حتى قضى تلك القراءة ولم يكبر حين يهوى حتى قضى تلك الصلاة فلما سلم ناداه من سمع ذلك من المهاجرين من كل مكان يا معاوية أسرقت الصلاة أم نسيت فلما صلى بعد ذلك قرأ بسم الله الرحمن الرحيم للسورة التي بعد أم القرآن وكبر حين يهوى ساجدا&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata : Muawiyah pernah melaksanakan shalat di Madinah lalu ia men-jahr-kan bacaan dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk ummul Qur’an, dan tidak membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah setelah surah Al-Fatihah sampai menyelesaikan bacaan itu.&lt;br /&gt;Ia tidak bertakbir ketika membungkuk hingga selesai. Tatkala memberi salami a diseru oleh orang yang mendengarnya-dari orang-orang Muhajirin- dari segala tempat, “Hai Muawiyah, apakah anda mencuri shalat atau lupa?” Sesudah itu ia membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah sesudah Ummul Qur’an, dan ia bertakbir ketika membungkuk untuk sujud.&lt;br /&gt;[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 166]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurtubhi berkata : &lt;br /&gt;هذا قول حسن، وعليه تتفق الآثار عن أنس ولا تتضاد ويخرج به من الخلاف في قراءة البسملة. وقد روي عن سعيد بن جبير قال: هذا محمد يذكر رحمان اليمامة - يعنون مسيلمة - فأمر أن يخافت ببسم الله الرحمن الرحيم، ونزل: "ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها" [الإسراء:110]. قال الترمذي الحكيم أبو عبدالله: فبقي ذلك إلى يومنا هذا على ذلك الرسم وإن زالت العلة، كما بقي الرمل في الطواف وإن زالت العلة، وبقيت المخافتة في صلاة النهار وإن زالت العلة&lt;br /&gt;Pendapat ini (membaca basmalah dengan samar bersama dengan surah al-Fatihah) adalah pendapat yang baik dan sesuai dengan atsar yang diriwayatkan dari Anas, serta tidak bertentangan dengannya. Pendapat inipun dapat mengeluarkan orang-orang dari silang pendapat seputar hokum membaca basmalah. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Jubair, dia berkata, “Dahulu orang musyrik selalu mendatangi masjid. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim, maka mereka berkata, ‘Muhammad ini sedang menyebutkan Rahman Al-Yamamah’ Maksud mereka adalah Musailamah. Oleh karena itulah beliau diperintahkan untuk menyamarkan bacaan bismillahirrahmaanirrahiim, lalu turunlah ayat :&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah kamu merendahkannya” (QS. Al-Israa 17 : 110). &lt;br /&gt;Ar-Tirmidzi, Al-Hakim Abu Abdilah berkata, “Oleh karena itulah lafadz basmalah tetap eksis sampai hari ini dengan bentuk tulisannya meskipun tidak ada alasannya. Sebagaimana lari-lari kecil tetap ada di dalam thawaf, meskipun tidak ada alasannya, dan juga sebagaimana menyamarkan suara tetap berlaku pada shalat di siang hari, meskipun tidak ada alasannya,”&lt;br /&gt;[Tafsir Al-Qurtubhi 1, hal. 249]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir berkata :&lt;br /&gt;فهذه مآخذ الأئمة رحمهم الله في هذه المسألة وهي قريبة لأنهم أجمعوا على صحة من جهر بالبسملة ومن أسر ولله الحمد والمنة&lt;br /&gt;Demikianlah dasar-dasar pengambilan pendapat para imam mengenai masalah ini, dan tidak terjadi perbedaan pendapat, karena mereka telah sepakat bahwa shalat bagi orang yang men-jahr-kan atau yang men-sirr-kan basmalah adalah sah. Segala Puji bagi Allah.&lt;br /&gt;[Tafsir Ibnu Katsir 1, hal. 20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata : Ibnul Qayyim telah memberikan komentar :”Kadang-kadang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim dengan suara keras, tetapi beliau sering membacanya dengan suara perlahan. Merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwa beliau tidak selamanya membaca basmalah dengan suara keras, yakni sebanyak lima kali pada tiap siang dan malam, pada waktu bermukim maupun ketika bermusyafir. Hal inilah yang tidak disadari oleh para Khulafaur Rasyidin, sebagian besar sahabatnya, tabi’in dan tabi’it tabi’in”&lt;br /&gt;[Fiqih Sunnah 1, hal. 191]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :&lt;br /&gt;Telah terjadi perdebatan panjang di kalangan ulama dalam masalah ini karena perbedaan madzhab. Namun yang lebih logis ialah bahwa beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam kadang membacanya dengan suara keras dan kadang membacanya dengan suara lirih.&lt;br /&gt;[Subulussalam 1, hal. 459]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan bacaan) basmalah? Beliau menjawab: “Pendapat yang lebih kuat adalah mengeraskan bacaan basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya memang dikeraskan kadang-kadang sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeraskannya (HR. Nasa’i di dalam Al Iftitah Bab Qiro’atu bismillahirrahmaanirrahiim (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: Aku pernah shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan bismillahirrahmanirrahiim (HR. Muslim dalam kitab Shalat Bab Hujjatu man Qoola la yajharu bil basmalah (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 316-317)&lt;br /&gt;http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Rujukan :&lt;br /&gt;-Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta, 2006.&lt;br /&gt;-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;-Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007. &lt;br /&gt;-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006&lt;br /&gt;-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005&lt;br /&gt;-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.&lt;br /&gt;-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya &lt;br /&gt;-Imam Ad-Daruqutni, Sunan Ad-Daruqutni, mawsoaat_hadeeth_chm_02 (E-book)&lt;br /&gt;-Imam Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, mawsoaat_hadeeth_chm_02 (E-book)&lt;br /&gt;-Imam Nasa’i, Sunan An-Nasa’i, mawsoaat_hadeeth_chm_02 (E-book)&lt;br /&gt;-http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=15107&amp;category_id=&amp;hal=3&lt;br /&gt;-http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-263282438916875254?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/263282438916875254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/05/hukum-qunut-basmalah-dlm-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/263282438916875254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/263282438916875254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/05/hukum-qunut-basmalah-dlm-shalat.html' title='HUKUM QUNUT &amp; BASMALAH DLM SHALAT'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-1529030024147217302</id><published>2010-04-26T14:40:00.000-07:00</published><updated>2010-04-26T14:41:42.906-07:00</updated><title type='text'>Salat Tahajud dapat meningkatkan kekebalan tubuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://indobestseller.files.wordpress.com/2009/12/tahajud.jpg?w=468&amp;h=264"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 468px; height: 264px;" src="http://indobestseller.files.wordpress.com/2009/12/tahajud.jpg?w=468&amp;h=264" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salat Tahajud dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Bahkan salat Tahajud yang dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusyuk, tepat, ikhlas, dan kontinu dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan mengefektifkan coping, respons emosi positif (positive thinking), juga dapat menghindarkan reaksi stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dikatakan Dr Mohammad Sholeh, pakar Salat Tahajud dan dosen IAIN Surabaya, yang telah mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya, dengan judul “Pengaruh Sholat Tahajjud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik : Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dari hasil penelitiannya, membuktikan bahwa salat Tahajud dapat meningkatkan daya tahan tubuh imunologik dan untuk penyembuhan berbagai penyakit,” tegas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sholat Tahajjud, Stress dan Hormon Kortisol Rendah (Hormon Stress)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desertasi ini melibatkan 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa, hanya 23 yang sanggup menjalankan sholat tahajjud selama 1 bulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahajjud selama 2 bulan. Sholat tahajjud dimulai pukul 2.00–3.00 WIB sebanyak 11 roka’at, dengan dua roka’at sebanyak 4 kali dan ditutup sholat witir sebanyak 3 roka’at. Dan selanjutnya, hormon kortisol (hormon stress) dari 19 siswa tersebut diperiksa di 3 laboratorium di Surabaya (Pramitha, Prodia, dan Klinika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Mereka yang melaksanakan sholat tahajjud sholat tahajjud dengan rutin dan ikhlas memiliki kadar hormon kortisol yang rendah. Hal ini menandakan mereka memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah sulit dengan lebih stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormon kortisol adalah salah satu hormon stress. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stress. Dengan kadar hormon yang meninggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat menurun. Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolak ukur untuk tingkat atau derajat stress seseorang. Makin stress seseorang, maka hormon kortisol semakin meninggi dalam darahnya. Hormon kortisol memiliki kadar tertinggi di waktu tengah malam hingga waktu pagi, terutama pagi-pagi sekali (normal di pagi hari berkisar 38-690 mmol/liter, sedangkan malamnya 69-345 mmol/liter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stress dan depresi menjadi penyakit yang lazim di zaman sekarang ini. Stress sebenarnya keadaan yang positif bagi kita jika digunakan dalam keadaan yang masih wajar. Jika berlebihan, maka kadar hormon adrenalin dan hormon kortisol akan meningkat sehingga mengganggu sistem kekebalan tubuh yang akhirnya menyebabkan kita mudah terkena infeksi, penyakit maag, asma, dan memperburuk penyakit degeneratif kronis (kanker, diabetes, rematik dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan, Salat Tahajjud yang dilakukan secara rutin, ikhlas, khusyu’ dan istikhomah dapat menurunkan sekresi hormone kortisol. Dan dengan sholat tahajjud akan mampu menciptakan karakter baru serta tangguh bagi pelaksananya, sehingga kita akan memiliki persepsi dan motivasi yang positif yang nantinya akan terhindar dari stress. Mungkin itulah maksud firman Allah pada surah Al-Isra’ :79 di atas tentang diangkatnya derajat para pelaksana sholat tahajjud ke tempat yang terpuji, Allahu’alam (Allah yang Maha Tahu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus tengah malam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata tahajjud terambil dari kata hujud yang berarti tidur. Kata Tahajjud dipahami oleh al-Biqai dalam arti tinggalkan tidur untuk melakukan sholat. Sholat ini juga dinamakan sholat lail atau sholat malam, karena ia dilaksanakan di waktu malam yang sama dengan waktu tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa rahasia bangun di tengah malam untuk sholat tahajjud? Hal ini telah dijawab Allah pada surah al-Muzzammil ayat 6-7, berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Sesungguhnya bangun di waktu malam, dia lebih berat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat tersebut ada 2 hal yang begitu mengesankan kita. Pertama, sengaja untuk bangun malam. Kedua, bacaan di malam hari memiliki efek dan dampak yang lebih mengesankan. Sengaja bangun malam hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki niat kuat. Niat yang kuat pasti didorong oleh motivasi yang kuat, sehingga pekerjaan tersebut akan dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Apalagi sholat tahajjud adalah sholat sunnah, InsyaAllah orang yang melaksanakan sholat sunnah adalah orang yang memang punya niat yang ikhlas &amp; motivasi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan sholat wajib, terkadang kita melaksanakan sholat wajib hanya sekedar “kewajiban”. Sholat tahajjud dilakukan harus setelah tidur (meskipun sebentar). Lantas apa manfaatnya? Bangun tidur pasti pikiran kita menjadi lebih segar. Bayangkan dalam 1 hari jantung kita berdetak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus dan juga pembuluh-pembuluh darah. Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali, dan mengoperasikan 14 milyar sel otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia perlu istirahat. Dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan. Dengan tidur berarti terjadi proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan dan otak kita kembali berfungsi dengan sangat baik. Tak heran jika Allah berkehendak agar sholat tahajjud dikerjakan setelah tidur. Dengan pikiran yang fresh akan membantu kita untuk lebih khusyu’ memaknai ayat-ayat Allah yang kita baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan di malam hari lebih mengensankan dibandingkan di siang hari, mengapa demikian? Orang yang hobinya break-breakan (ORARI), mereka lebih senang akan memilih berkomunikasi di malam hari kira-kira pukul 2.00–4.00, karena suara yang dihasilkan di waktu itu lebih cukup bagus dan jernih, walaupun daya jangkauannya sangat jauh. Berbeda dengan siang hari, suara breaker tidak begitu jelas karena banyak frekuensi yang mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menandakan bangun di tengah malam dan bersholat tahajjud sangat baik untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dan komunikasi yang kita lakukan semuanya berbasis pada pancaran energi. Penulis punya pengalaman menarik terhadap seseorang yang berumur paruh baya ketika berbicara dalam sebuah forum, di mana tutur katanya begitu santun didengar, wajahnya penuh percaya diri dan enak dipandang, memiliki karakter yang kuat untuk mempengaruhi orang yang berinteraksi dengannya. Pada sebuah kesempatan penulis bertanya : “Apa kira-kira rahasia kelebihan yang saudara miliki selama ini?”. Ia menjawab dengan singkat dan santun : “Disiplinkan diri dengan ber-sholat tahajjud”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi dan Tahajjud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi berarti keheningan, diam dan kesendirian. Keheningan muncul apabila pikiran sadar kita telah berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Kehoe, penulis buku terlaris “Mind Power” pernah melakukan tapa brata dengan menyingkirkan diri dari hiruk-pikuk dunia, kemudian menyepi didalam hutan untuk melakukan meditasi. Hal ini ia lakukan untuk menembus batas kesadaran tertinggi atau lapisan terdalam pikiran bawah sadarnya melalui kesunyian dan pencarian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari mereka melakukan metode meditasi lewat relaksasi senam ringan, olah nafas, pergi ke tempat sunyi dengan menghidupkan kaset-kaset, dan CD pencerahan. Bahkan ada yang menggunakan aroma terapi wewangian, tak heran terlalu besar biaya yang dikeluarkan hanya sekedar untuk bermeditasi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah telah memberikan jalan alternatif kepada kita pada 14 abad yang lalu untuk lebih dekat dengan-Nya lewat pelaksanaan sholat malam karena sholat juga salah satu bentuk meditasi. Selama ini kita terjebak pada belenggu diri kita sendiri yang menjadikan sholat sebagai kewajiban semata, bukan sebuah kebutuhan, kalau tidak sholat akan masuk neraka, terkesan Tuhan yang membutuhkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal untuk melakukan sholat tahajjud kita tak perlu ke hutan, mengasingkan diri, cukup bangun di tengah malam kemudian berwudhu (bersuci) secara sederhana menurut rukun dan syaratnya. Tak perlu biaya mahal, hanya perlu tempat, dan sajadah yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan pada sebagian malam bertahajjudlah dengannya sebagai tambahan bagimu.Mudah- mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”. (Al Isra’: 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : alhakim.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-1529030024147217302?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/1529030024147217302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/04/salat-tahajud-dapat-meningkatkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/1529030024147217302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/1529030024147217302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/04/salat-tahajud-dapat-meningkatkan.html' title='Salat Tahajud dapat meningkatkan kekebalan tubuh'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-3265572596577450576</id><published>2010-04-05T07:42:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T07:44:16.708-07:00</updated><title type='text'>Ucapan &amp; Jawaban "Jazaakallohu Khoir"</title><content type='html'>Penulis: Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala, menjawab beberapa pertanyaan setelah beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;]من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khaer (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.”&lt;br /&gt;(HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-Kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi).&lt;br /&gt;Berikut ini fatwa Al-Allamah Abdul Muhsin hafizhahullah, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 1:&lt;br /&gt;Sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan "jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran" (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan "sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab:&lt;br /&gt;Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do'a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido'akan dengan do'a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do'a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk menambah dari do'a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula) maka hal ini tidak mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 2:&lt;br /&gt;Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan. "jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau -hafidzahullah- menjawab:&lt;br /&gt;“Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”,seperti ungkapan mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan: &lt;br /&gt;apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “waiyyakum” (dan kepadamu juga) ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab:&lt;br /&gt;“tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khaer” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” , namun jika dia mengatakan “jazaakalallahu khaer” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(transkrip dari kaset: Durus syarah sunan At-Tirmidzi, oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, nomor hadits:222).&lt;br /&gt;(Diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal)&lt;br /&gt;Berikut ini transkrip dalam bahasa Arab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأجاب :ولا حاجة بهذا الدعاء قد يكون ما يريد هذا الشيء الذي دعي به ,أي نعم قد يكون الإنسان الذي دعي بهذا أنه لا يريده .فالإنسان يدعو بالخير وكل خير يدخل تحت هذا العموم .فالإنسان يأتي بهذا الدعاء وليس معنى ذلك أن الرسول × نهى عن ذلك يعني لا يزيد على هذا وإنما أخبر أن هذا فيه إبلاغ بالثناء ,لكنه لو دعا له فقال: جزاك الله خيرا وبارك الله فيك وعوضك خيرا ما فيه بأس ,لأن الرسول × مامنع من الزيادة .لكن مثل هذه الزيادة التي قد تكون في غير محلها ,قد يكون صاحب المدعو له لا يريد هذا الشيء الذي دعي له به .&lt;br /&gt;السؤال: والآخر يقول :يزيد البعض فيقول : جزاك الله ألف خير &lt;br /&gt;فأجاب: والله الخير ليس له حد ,ليس له حد والألف هذا محدود,والخير بدون حد .لكن هذا مثل عبارات بعض الناس :ألف شكر شكر مثل ما يعبرون.لكن التعبير بهذا الذي جاء في هذا الحديث عام &lt;br /&gt;السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟&lt;br /&gt;فأجاب: لا , الذي ينبغي أن يقول :(وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم .لكن إذا قال: أنتم جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى &lt;br /&gt;(مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي ,كتاب البر والصلة ,رقم:222) يقول السائل : بعض الإخوة يتطرق فيزيد على (جزاك الله خيرا وزوجك بكرا) ونحو ذلك.أليس في هذا استدراك على قول النبي صلى الله عليه وسلم فإنه يقول ((فقد أبلغ في الثناء))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=36&amp;Itemid=1&lt;br /&gt;http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=1520&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-3265572596577450576?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/3265572596577450576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/04/ucapan-jawaban-jazaakallohu-khoir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3265572596577450576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3265572596577450576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/04/ucapan-jawaban-jazaakallohu-khoir.html' title='Ucapan &amp; Jawaban &quot;Jazaakallohu Khoir&quot;'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-3748643581056787317</id><published>2010-04-01T10:52:00.001-07:00</published><updated>2010-04-05T03:16:03.824-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masjid al-Aqsha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jerussalem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='palestina'/><title type='text'>Mengenal Masjid al-Aqsha</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/14/Dome_of_the_Rock1.jpg/350px-Dome_of_the_Rock1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 263px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/14/Dome_of_the_Rock1.jpg/350px-Dome_of_the_Rock1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar umat Islam Indonesia mengetahui Masjidil Aqsha sehubungan dengan peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Tapi, tahukah Anda foto di atas sesungguhnya bukan foto Masjidil Aqsha ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar di atas adalah Kubah Shakhrah di Kota Lama Yerusalem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubah Shakhrah (Arab: مسجد قبة الصخرة, translit.: Qubbat As-Sakhrah, Ibrani: כיפת הסלע, translit.: Kipat Hasela, Turki: Kubbetüs Sahra, Inggris: Dome of the Rock) adalah tempat suci Islam dan marka tanah utama yang terletak di tengah-tengah di dalam tembok kompleks Al-Haram asy-Syarif, kompleks ini sendiri berada dalam tembok Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Kubah Shakhrah ini selesai didirikan tahun 691, menjadikannya bangunan Islam tertua yang masih ada di dunia.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubah Shakhrah bukanlah sebuah masjid, sebaliknya, merupakan sebuah kompleks yang terdapatnya sebuah batu besar yang dikatakan tempat Nabi Muhammad berdiri ketika peristiwa Isra dan Mi'raj. Qubbat As-Sakhrah terletak di Baitulmuqaddis di kawasan Al-Haram asy-Syarif. Qubbat As-Sakhrah bukanlah Masjid Al-Aqsa karena Masjid Al-Aqsa terletak tidak jauh daripada bangunan ini. Qubbat Al-Sakhrah seringkali disalahartikan sebagai Masjid Omar yang merupakan tempat Saidina Umar Al-Khatab bershalat ketika tiba di Baitulmuqaddis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qubbat As-Sakhrah muncul dalam uang kertas Mandat Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubah Shakhrah dibangun antara tahun 687 hingga tahun 691 oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan, khalifah Ummaiyyah. Sejarah Qubbat Al-Sakhrah telah melewati berbagai zaman, yaitu zaman Islam, zaman Perang Salib, zaman Mandat Britania dan zaman pendudukan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Masjidil Aqsha berada di belakang Qubbat Al-Shakhrah seperti terlihat dibawah ini dengan Kubah Masjid berwarna hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.muslimdaily.net/berita/qubah_sakra.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 299px; height: 212px;" src="http://www.muslimdaily.net/berita/qubah_sakra.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Al-Aqsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/96/Al_aqsa_moschee_2.jpg/250px-Al_aqsa_moschee_2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 164px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/96/Al_aqsa_moschee_2.jpg/250px-Al_aqsa_moschee_2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid al-Aqsa&lt;br /&gt;Letak : Al-Haram asy-Syarif, Jerusalem&lt;br /&gt;Koordinat geografi : 31°46′35″N 35°14′8″E﻿ / ﻿31.77639°LU 35.23556°BT﻿ / 31.77639; 35.23556&lt;br /&gt;Afiliasi agama : Islam&lt;br /&gt;Distrik : Kota Lama Yerusalem&lt;br /&gt;Status eklesiastik : Masjid&lt;br /&gt;Kepemimpinan : Wakaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi arsitektur&lt;br /&gt;Jenis arsitektur  Masjid&lt;br /&gt;Gaya arsitektur  Islam Awal&lt;br /&gt;Arah facade  north&lt;br /&gt;Pembukaan tanah  685 CE (Konstruksi Pertama)&lt;br /&gt;1033 CE (Konstruksi Kedua)&lt;br /&gt;Tahun selesai  705 CE ((Konstruksi Pertama)&lt;br /&gt;1035 CE (Konstruksi Kedua)&lt;br /&gt;Spesifikasi&lt;br /&gt;Kapasitas  5,000 (didalam); 400,000 (diluar)[1]&lt;br /&gt;Panjang  83 meter (272 kaki)&lt;br /&gt;Lebar  56 meter (184 kaki)&lt;br /&gt;Kubah  1&lt;br /&gt;Menara  4&lt;br /&gt;Tinggi menara  37 meter (121 kaki)&lt;br /&gt;Bahan  Limestone (external walls, minaret, facade) stalactite (minaret), lead (dome), white marble (interior columns)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Al-Aqsha (Arab: المسجد الاقصى , Al-Masjid Al-Aqsa, arti harfiah: "masjid terjauh") adalah salah satu bangunan yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur) yang dikenal dengan nama Al-Haram asy-Syarif bagi umat Islam dan dengan nama Har Ha-Bayit (Bukit Baitallah atau Temple Mount) bagi umat Yahudi dan Nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literatur Muslim(Al Quran nul karim ) menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621 Masehi, menjadikan masjid ini sebagai tempat suci di Islam (lihat Isra' Mi'raj.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Al-Aqsa yang dulunya dikenal sebagai Baitul Maqdis, merupakan kiblat shalat umat Islam yang pertama sebelum dipindahkan ke Ka'bah di dalam Masjidil Haram. Umat Muslim berkiblat ke Beitul Maqdis selama Nabi Muhammad mengajarkan Islam di Mekkah (13 tahun) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Medinah. Setelah itu kiblat shalat adalah Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Al-Aqsa saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H. Agak berbeda dengan pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mi'raj (Q.S. Al Israa’:1) yaitu meliputi seluruh kawasan Al-Haram asy-Syarif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama "Shalahuddin Al-Ayyubi" terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar buatan Jepara, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sumber mengatakan bahwa Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) adalah Masjid Al-Aqsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. ^ Al-Aqsa Mosque, Jerusalem. Atlas Travel and Tourist Agency. Diakses pada 29 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Wikipedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASJIDIL AQSHA ADALAH WILAYAH YG DIBATASI BENTENG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Yang dimaksud Masjid al Aqsha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 23/03/2010 13:22 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Yang dimaksud Masjid al Aqsha?&lt;br /&gt;Oleh: Syeikh Raid Shalah (Ketua Harakah Islam di wilayah Palestina 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan ketidakfahaman dan ketidaktahuan pada sebagian (besar) umat Islam tentang apa yang dimaksud dengan Masjid Al Aqsha Al Mubarok? berapa luasnya? dan bangunan apa saja yang ada di dalamnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaktahuan Umat tentang hal ini sudah barang tentu merupakan sebuah fenomena yang menyedihkan. Dari banyak perjalanan yang saya lalui, apakah selama menunaikan ibadah Haji, atau keikutsertaan saya dalam konferensi-konferensi Islam, dan interaksi dengan berbagai elemen Umat baik di musim Haji maupun Umrah, saya punya kesimpulan bahwa kaum Muslimin masih memiliki pemahaman yang salah tentang Masjid Al Aqsha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mereka menyangka bahwa Qubah As Shokhrah (Dome of The Rock atau masjid berkubah kuning emas) adalah al Aqsha. Sebagian lagi mengira, bahwa Mushalla Al Marwani adalah bangunan tersendiri, bukan merupakan bagian dan tidak ada kaitanya sama sekali dengan al Aqsha al mubarok. Sebagian lagi bahkan kebingungan ketika mendengar istilah “al Aqsha al Mubarak” dan istilah “al Aqsha Al Qadim” (al Aqsha Kuno).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya saya pikir adalah sesuatu yang urgen dan mendesak untuk mengangkat dan menjelaskan permasalahan ini. Tidak bisa dianggap wajar jika seorang muslim atau seorang arab ketika dia tidak mengetahui yang mana al Aqsha, karena ketidak tahuan terhadap hakikat Masjid al Aqsa adalah awal yang memilukan bagi (ancaman) hilangnya al Aqsha al Mubarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, mengetahui dan memahami dengan baik (hakikat Masjid al Aqsha) merupakan prasyarat mutlak demi terwujudnya kesucian, kemuliaan dan kemerdekaan al Aqsha al Mubarok, meski orang-orang kafir pasti tidak menyukainya. Karena itu, saya bertanya kepada diri saya pribadi dan kepada Kaum Muslimin, “Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan al Aqsha al Mubarok itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujiruddin Al Hanbali (seorang Alim yang lahir di kota Al Quds dan merupakan keturunan dari Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab*) dalam kitabnya Al Anas Al Jalil (sebuah buku yang secara panjang lebar menerangkan tentang sejarah Baitul Maqdis sejak didirikannya hingga tahun 900 H/1494 M dan merupakan referensi paling lengkap tentang kehidupan ilmiah pada masa Dinasti Ayub dan Raja-raja Mamluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Dia katakan: “ Yang populer dikalangan masyarakat bahwa al Aqsha dalam konteks kiblat yaitu keseluruhan bangunan ditengah-tengah Masjid yang di dalamnya terdapat mimbar dan mihrab besar. Padahal sesungguhnya yang dimaksud al Aqsha adalah sebutan bagi seluruh komplek Masjid yang dibatasi oleh dinding pembatas. Maka bangunan yang terdapat di dalam masjid dan bangunan-bangunan lainnya, seperti Qubbah as Shakhrah (Dome of The Rock), ruwaq-ruwaq (mihrab-mihrab masjid) dan bangunan-bangunan lainnya adalah bangunan-bangunan baru. Dan yang dimaksud dengan al Aqsha adalah komplek yang dibatasi oleh dinding pembatas.” Ad Dubbagh dalam bukunya Al Quds mengatakan: “ Al Haram Al Qadasi (wilayah harom yang suci) terdiri dari dua bangunan masjid; pertama, Masjid Ash Shakhrah (atau Qubbah Ash Shakhrah). Kedua, Masjid al Aqsha, serta bangunan-bangunan apa saja yang ada disekitarnya, hingga dinding pembatas sekalipun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dasar ini, jelaslah bagi kita bahwa semua kawasan yang ada di dalam batas dinding al Aqsha al Mubarak adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak. Bahkan dindingnya itu sendiri merupakan bagian dari al Aqsha. Dalam artian, dinding dan semua pintu gerbang yang ada padanya adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha yang diberkahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Dinding sebelah Barat adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha, begitu pula dengan Tembok Al Buraq yang merupakan bagian dari Dinding Barat tersebut adalah juga bagian tak terpisahkan dari masjid al Aqsha. Dan Ribath al Kurd yang juga bagian dari Dinding Barat, merupakan bagian tak terpisahkan dari al Aqsha. Demikian pula dengan semua pintu masuk yang ada di Dinding Barat tersebut seperti Pintu Barat (Bab Al Magharibah), juga semua bangunan yang ada di Dinding Barat seperti madrasah At Tankaziyah, semuanya bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, yakin mayoritas Umat Islam belum mengetahui tentang hakikat ini. Dan adalah kewajiban bagi mereka untuk mengetahuinya. Maka bagi yang telah mengetahui hakikat-hakikat ini akan memaaham betul bahwa telah terjadi pelanggaran yang nyata terhadap al Aqsha al Mubarak hingga saat ini. Seperti, Perombakan dan pengalihfungsian Tembok Al Buraq yang merupakan bagian dari al Aqsha yang sekarang ini terkenal dengan sebutan “Benteng Ratapan” (sebagai bentuk penyesatan makna) adalah salah satu bentuk penistaan yang nyata dan terus-menerus terhadap al Aqsha al Mubarak. Juga penutupan Pintu Barat (yang merupakan bagian dari al Aqsha) yang dilakukan Israel hingga saat ini. Serta pengalihfungsian Madrasah At Tankaziyah (yang merupakan bagian dari al Aqsha) menjadi barak militer Israel hingga saat ini. Semua itu merupakan bentuk-bentuk pelanggaran yang nyata dan berkesinambungan terhadap Masjid al Aqsha al Mubarak. Saya ulangi-ulangi sebagai penegasan, dan siapa saja yang masih tidak faham tentang hal ini, sungguh keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengetahui hakikat al Aqsha al Mubarak maka secara otomatis akan mengetahui apa bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan secara berkesinambungan dan apa saja penistaan-penistaan nyata yang dilakukan terhadap al Aqsha. Dan saya ingin katakan: “ Bahwa Benteng Timur dan Benteng Utara serta Selatan yang mengelilingi al Aqsha al Mubarak dengan semua pintu dan bangunan yang ada padanya adalah bagian tak terpisahkan juga dari al Aqsha!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tragis petaka yang menimpa Masjid Al Aqsha hingga detik ini jika dilihat pemahaman yang mengantarkan kita kepada hakikat al Aqsha al Mubarak ini!! ٍٍSaya juga ingin menegaskan lagi bahwa semua bangunan yang ada di komplek yang dikelilingi oleh tembok pembatas mirip segi empat ini adalah bagian tak terpisahkan juga dari al Aqsha al Mubarak!! maka pelataran berpasir yang ditanami pohon Zaitun dan pepohonan lainnya adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha. Tempat aliran air, kubah-kubah, tembok-tembok pembatas, gapura-gapura serta bangunan-bangunan lainnya adalah bagian tak terpisahkan dari Masjid al Aqsha al Mubarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ulangi lagi, bahwa yang mengetahui dan memahami hakikat inilah yang akan mengerti nestapa dan kegelisahan yang menyelimuti al Aqsha al Mubarak!! Salah satu bangunannya yang terletak di dalam dinding pembatas telah dialihfungsikan menjadi Pos Polisi Zionis hingga saat ini, dan ini bentuk penodaan nyata yang berkesinambungan terhadap al Aqsha al Mubarak. Demikian pula dengan pelataran tanah yang terletak diantara dinding al Aqsha, sebagian orang Zionis, terutama, “Yisrael Hawkins” berupaya membangun Sinagog diatasnya, dan menyatakan secara terang-terangan tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahkan secara terang-terangan mengatakannya kepada saya tentang rencana ini. Maka saya katakan kepadanya, “ Kalau itu yang kalian rencanakan, maka, (sebenarnya) kalian sedang berusaha untuk menyulut terjadinya perang dunia ketiga karena wilayah ini adalah bagian dari Masjid Al Aqsa al Mubarak. Dan cukup dengan berpikir untuk membangun Sinagog di atasnya kalian telah melakukan penodaan yang nyata terhadap al Aqsha al Mubarak!! Termasuk apa yang dilakukan Pemerintah Zionis dengan menutup pintu-pintu yang menjadi akses masuk ke pelataran ini dan bangunan-bangunan yang ada di dalamnya hingga saat ini adalah bentuk pelanggran nyata terhadap Masjid al Aqsha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ingin saya tegaskan lagi, seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa as Shakhrah al Musyarafah (Batu yang dimuliakan) adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak. Serta Masjid yang dibangun ditengah-tengah komplek Masjid al Aqsha al Mubarak dari arah Kiblat (yang oleh Umat Islam sering dipahami sebagai 'Masjid al Aqsha', padahal bukan itu yang dimaksud Masjid Al Aqsha (yang sesungguhnya), beserta bangunan-bangunan yang terdapat dibawah masjid ini yang kita sebut dengan istilah “ al Aqsha Al Qadim” (al Aqsha Kuno) semuanya adalah bagian tak terpisahkan dari al Aqsha al Mubarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Mushalla Al Marwani yang terletak disebelah tenggara al Aqsha adalah juga bagian tak terpisahkan dari al Aqsha. Berdasarkan pemahaman ini, maka rencana jahat apapun untuk mengambil atau mengubah al Aqsha Al Qadim dan Mushalla Al Marwani adalah bentuk konspirasi keji terhadap al Aqsha al Mubarak. Dan kita bertahu-tahun tertipu, lalu dengan enteng ada yang berseloroh: “ Demi terciptanya kedamaian, mengapa tidak kita serahkan saja Mushalla Al Marwani atau al Aqsha Al Qadim kepada orang-orang Yahudi?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan: Bangkitlah wahai Kaum Muslimin dan bangsa Arab! Pemikiran seperti ini adalah bentuk pelanggaran keji terhadap al Aqsha. Benar! Luka begitu menganga, malam terasa panjang, kegelisahan begitu berat, kesabaran dan sumbangsih yang berkesinambungan. Maka keberanian adalah kesabaran sesaat. Dan keyakinanlah yang mengantarkan kita kepada kepemimpinan dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tahu apa yang telah dipersembahkan, niscaya dengan sangat mudah dan jelas mengetahui (apa yang bisa kita dapatkan), seperti yang dikatakan Ustadz Muhammad Hasan Syarab dalam bukunya “Baitul Maqdis dan Masjid Al Aqsha”: “Masjid al Aqsha yang disebut dalam surat al Isra' semuanya adalah al Haram al Qadasi. Tempat, dimana pahala shalat disana dilipatgandakan. Dipenjuru mana saja di komplek yang dikelilingi pagar tembok itu, apakah di 'Masjid al Aqsha', atau di Qubbah as Shakhrah, atau di Musalla al Marwani atau bahkan di pelataran berpasir yang berada di dalam komplek yang dibatasi dinding tersebut. Setiap rakaat bernilai sama dengan 500 kali rakaat (dalam riwayat lain 1000 rakaat) shalat di masjid-masjid lainnya, selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kini saatnya, wahai kaum Muslimin dan bangsa Arab, untuk bangkit dari tidur panjangmu. Dan segera tersadar dari kelengahanmu.(hre/PIC)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://knrp.or.id/kajian/apa-yang-dimaksud-masjid-al-aqsha.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.palestine-info.info/ar/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-3748643581056787317?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/3748643581056787317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/04/mengenal-masjid-al-aqsha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3748643581056787317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3748643581056787317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/04/mengenal-masjid-al-aqsha.html' title='Mengenal Masjid al-Aqsha'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-404873019440594439</id><published>2010-03-20T13:59:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T14:07:25.486-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SMK Islam Terpadu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesantren'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komputer'/><title type='text'>SMK Islam Terpadu YPI Abu Dzar</title><content type='html'>Penerimaan Siswa Baru, &lt;br /&gt;Santriwan-Santriwati SMK Islam Terpadu YPI Abu Dzar&lt;br /&gt;Program Keahlian : Komputer - Multimedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Pelajaran 2010/2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs426.ash1/23593_1151893496039_1788718528_290173_532565_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 720px; height: 492px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs426.ash1/23593_1151893496039_1788718528_290173_532565_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs426.ash1/23593_1151901056228_1788718528_290181_1619459_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 720px; height: 497px;" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs426.ash1/23593_1151901056228_1788718528_290181_1619459_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-404873019440594439?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?ref=sgm&amp;id=100000751661465' title='SMK Islam Terpadu YPI Abu Dzar'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/404873019440594439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/03/smk-islam-terpadu-ypi-abu-dzar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/404873019440594439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/404873019440594439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/03/smk-islam-terpadu-ypi-abu-dzar.html' title='SMK Islam Terpadu YPI Abu Dzar'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-7591068899980342727</id><published>2010-03-16T12:21:00.001-07:00</published><updated>2010-03-16T12:46:29.416-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ijtihad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muhammadiyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='persis'/><title type='text'>Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_NT5gwG8dpho/SI2k8xL37gI/AAAAAAAAAKE/IFkifW-d5kE/s1600/untitled.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 172px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_NT5gwG8dpho/SI2k8xL37gI/AAAAAAAAAKE/IFkifW-d5kE/s1600/untitled.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiqh Indonesia: Tema Pemikiran Hukum Islam Hasbi Ash Shiddieqy (1905-1975 M) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari sejarah perkembangan pemikiran hukum Islam sebelum kemerdekaan, berbagai cara telah dilakukan oleh setiap pemikir Muslim Indonesia untuk memadukan antara budaya dan hukum Islam itu sendiri. Mereka telah mencoba untuk melakukan hal tersebut pada fase awal sejarah negara kita. Salah satu dari para pemikir Muslim tersebut adalah Hasbi Ash Shiddieqy, seorang pemikir besar di masanya, yang telah menyumbangkan gagasan yang mencerahkan dan kontroversial di kalangan umat Islam. Maka, dalam makalah ini akan dibahas biografi singkatnya dan pemikiran pembaruannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Ia dilahirkan di Lhokseumawe, Aceh Utara, pada tanggal 10 Maret 1904 di tengah keluarga pejabat. Ada beberapa hal yang menarik pada dirinya. Pertama, ia adalah seorang otodidak. Pendidikan yang ditempuhnya dari dayah ke dayah. Dan hanya satu setengah tahun duduk di bangku sekolah Al Irsyad (1926).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia mulai bergerak di Aceh, yang dikenal fanatik, bahkan ada yang menyangka “angker”. Namun, Hasbi pada awal perjuangannya berani menentang arus. Ia tidak gentar dan surut dari perjuangannya kendatipun karena itu, ia dimusuhi, ditawan, dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dalam berpendapat ia merasa dirinya bebas tidak terikat dengan pendapat kelompoknya. Ia berpolemik dengan orang-orang yang berasal dari organisasi-organisasi masyarakat lain seperti Muhammadiyah dan Persis, padahal ia adalah anggota dari kedua perserikatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, ia adalah orang pertama di Indonesia yang sejak tahun 1940 dan dipertegas lagi sejak tahun 1960, menghimbau perlunya dibina fiqh (al-fiqh) yang berkepribadian Indonesia. Himbauan ini sempat mengundang sentakan dari sebagian ulama di Indonesia. Namun, ia tidak pernah menyerah untuk terus menuangkan pemikiran-pemikiran yang mencerahkan ke dalam karya-karyanya.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Pembaruan Hasbi Ash Shiddieqy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa awal persiapan kemerdekaan Republik Indonesia, perbincangan tentang hukum Islam dari aspek fiqh semakin surut karena semua umat Islam disibukkan dengan pembentukkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, kesibukkan tersebut tidak pernah membuat Hasbi ikut terlena untuk melupakan agenda pembaruan hukum Islam di Indonesia kendatipun banyak para pembaru Muslim di masanya yang mendirikan organisasi-organisasi kemsyarakatan (Ormas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, wacana yang dikembangkan dalam pemikiran keislaman menjadi kurang empiris dan mengakibatkan terbengkalainya sederet nomenklatur permasalahan sosial-politik yang terjadi di masyarakat, yang telah menggerakkan Soekarno untuk ikut memberikan kritik terhadap kerangka pikir yang selama ini dipakai oleh para ulama. Kungkungan pola pikir para ulama yang berpacu pada fahm-u ‘l-‘ilm li ‘l-inqiyâd ketika memahami doktrin hukum Islam yang terdapat di dalam khazanah literatur klasik membuat eksistensi hukum Islam tampak resisten, tidak mampu mematrik diri, dan sebagai konsekuensinya ia menjadi panacea bagi persoalan sosial-politik. Para ulama secara umum telah melupakan sejarah dan menganggap bahwa mepelajari sejarah tidaklah begitu penting sehingga kritik atas dimensi ini menjadi tidak ada. Dengan semikian, pandangan mereka terhadap fiqh adalah sebagai kebenaran ortodoksi mutlak, yang absolutitasnya menegasikan kritik dan pengembangan, dan bukan sebagai pemikiran yang yang bersifat nisbi, yang membutuhkan kritik dan pengembangan. Maka, perlulah sebuah pemikiran dan pandangan baru yang dapat menggeser paradigma dari pola fahm-u ‘l-‘ilm li ‘l-inqiyâd ke pola fahm-u ‘ilm li ‘l-intiqâd.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari titik berangkat kenyataan sosial dan politik seperti itulah pemikiran fiqh Indonesia hadir, ia terus mengalir dan disosialisasikan oleh Hasbi. Menurutnya, hukum Islam harus mampu menjawab persoalan-persoalan baru, khususnya dalam segala cabang dari mu‘âmalah, yang belum ada ketetapan hukumnya. Ia harus mampu hadir dan bisa berpartisipasi dalam membentuk gerak langkah kehidupan masyarakat. Para ulama (lokal) dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap kebaikan (sense of mashlahah) yang tinggi dan kreatifitas yang penuh dengan tanggung jawab dalam upaya merumuskan alternatif fiqh baru yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalar pemikiran yang digunakan oleh Hasbi dengan gagasan fiqh Indonesia adalah satu keyakinan bahwa prinsip-prinsip hukum Islam sebenarnya memberikan ruang gerak yang lebar bagi pengembangan dan ijtihad-ijtihad baru.[3] Menurutnya, hingga tahun 1961, salah satu faktor yang menjadi penghambat adalah adanya ikatan emosional yang begitu kuat (fanatik, ta‘ashshub) terhadap madzhab yang dianut oleh umat Islam. Dan untuk membentuk fiqh baru ala Indonesia, diperlukan kesadaran dan kearifan lokal yang tinggi dari banyak pihak, terutama ketika harus melewati langkah pertama, yaitu melakukan refleksi historis atas pemikiran hukum Islam pada masa awal perkembangannya. Perspektif ini mengajarkan bahwa hukum Islam baru bisa berjalan dengan baik jika ia sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat. Yakni, hukum yang dibentuk oleh keadaan lingkungan atau dengan kebudayaan dan tradisi setempat (adat dan ‘urf), bukan dengan memaksakan format hukum Islam yang terbangun dari satu konteks tertentu kepada konteks ruang dan waktu baru.[4] Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa ide fiqh Indonesia yang telah dirintis olehnya berlandaskan pada konsep bahwa hukum Islam (fiqh) yang diberlakukan untuk umat Islam Indonesia adalah hukum Islam yang sesuai dan memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia, selama itu tidak bertentangan syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Hasbi, pemikiran hukum Islam harus berpijak pada prinsip mashlahah mursalah, keadilan, kemanfaatan, serta sadd-u ‘l-zarî‘ah. Semua prinsip itu, merupakan prinsip gabungan dari setiap madzhab. Maka, untuk memberikan pemahaman yang baik, ia menawarkan metode analogi-deduktif – satu model istinbâth hukum yang pernah dipakai oleh Imam Abû Hanîfah – untuk membahas satu permasalahan yang tidak ditemukan ketentuan hukumnya dalam khazanah pemikiran klasik. Dengan demikian, untuk memudahkan penerapan metode di atas, ia menggunakan pendekatan sosial-kultural-historis dalam segala proses pengkajian dan penemuan hukum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh kasus, adalah perdebatan Hasbi dengan A. Hasan tentang boleh tidaknya jabat tangan antara laki-laki dan perempuan. Terlepas dari tidak adanya dalil pasti dan alasan yang rasional tentang pengharaman jabatan tangan antara laki-laki dan perempuan maka ia berpendapat bahwa tradisi jabat tangan antara laki-laki dan perempuan bukan sesuatu yang berbahaya untuk dilakukan.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran pembaruan yang telah digagas oleh Hasbi Ash Shiddieqy patut untuk kita renungkan dalam membina masa depan umat Islam di Indonesia. Gagasan fiqh Indonesia yang telah ditawarkannya adalah fiqh konteksual, tidak anakronistik, dan sesuai dengan tuntutan zaman.&lt;br /&gt;____________&lt;br /&gt;[1] Teungku Muhammad Hasbi Ash shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, Cetakan Kedua (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 241-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Mahsun Fuad, Hukum Islam Indonesia: Dari Nalar Partisipatoris Hingga Emansipatoris (Yogyakarta: LKIS, 2005), hlm. 63-4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Ibid., hlm. 65-6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Ibid., hlm. 67-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Ibid., hlm. 69-71.&lt;br /&gt;Posted by Dida at 8:01 PM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HMVSjnN7t2w/SJKUmp8arUI/AAAAAAAAACM/hE9K1SR6FNs/S226/hasbi.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 165px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HMVSjnN7t2w/SJKUmp8arUI/AAAAAAAAACM/hE9K1SR6FNs/S226/hasbi.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASBI ASH-SHIDDIEQY &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Lahir di Lhokseumawe, 10 Maret 1904 – Wafat di Jakarta, 9 Desember 1975). Seorang ulama Indonesia, ahli ilmu fiqih dan usul fiqih, tafsir, dan ilmu kalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya, Teungku Qadli Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Su’ud, adalah seorang ulama terkenal di kampungnya dan mempunyai sebuah pesantren (meunasah). Ibunya bernama Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz. Putri seorang Qadli Kesultanan Aceh Ketika itu. Menurut silsilah, Hasbi Ash- Shiddieqy adalah keturunan Abubakar ash- Shiddieq (573-13 H/634 M), khalifah pertama. Ia sebagai generasi ke- 37 dari khalifah tersebut meletakkan gelar ash- Shiddieqy di belakang namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Agamanya di awali di dayah ( pesentren)milik ayahnya. Kemudian selama 20 tahun ia mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota lain. Pengetahuan bahasa Arabnya diperoleh dari Syeh Muhammad Ibnu Salim Al Kalali, seorang ulama berkebangsaan Arab. Pada tahun 1926, ia berangkat ke Surabayadan melanjutkan pendidikan di Madrasah al- Irsyad, sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh Syekh Ahmad Soorkati ( 1874- 1943),ulama yang berasal dari Sudan yang mempunyai pemikiran moderen ketika itu. Di sini ia mengambil pelajaran Takhassus (spesialis)dalam bidang pendidikan dan bahasa. Pendidikan ini dilaluinya selama 2 tahun. Al- Irsyad dan Ahmad Soorkati inilah yang ikut berperan dalam membentuk pemikirannya yang moderen sehingga, setelah kembali ke Aceh. Hasbi ash- Shiddieqy langsung bergabung dalam keanggotaan organisasi Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Pada Zaman demokrsi liberal ia terlibat secara aktif mewakili Partai Masyumi (Majelis Suryono Muslimin Indonesia) dalam perdebatan ideologi di Konstintuante. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1951 ia menetap di Yogyakarta dan mengkonsentrasikan diri dalam bidang pendidkan. Pada tahun 1960 ia diangkat menjadi dekan Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jabatannya ini di pegangnya hingga tahun1972. Kedalam pengetahuan keislamannya dan pengakuan ketokohannya sebagai ulama terlihat dari beberapa gelar doktor (Honoris Causa) yang diterimanya, seperti dari Universistas Islam Bandung pada 22 Maret 1975 dan dari IAIN Sunan Kalijaga pada 29 Oktober 1975. Sebelumnya, pada tahun 1960, ia diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu hadis pada IAIN Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasbi Ash-Shiddieqy adalah ulama yang produktif menuliskan ide pemikiran keislamannya. Karya tulisnya mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman. Menurut catatan, buku yang ditulisnya berjumlah 73 judul (142 jilid). Sebagian besar karyanya adalah tentangfiqih (36 judul). Bidang- bidang lainnya adalah hadis (8 judul), tafsir (6 judul), tauhid (ilmu kalam ; 5 judul). Sedangkan selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya ulama lain, Hasbi Ash-Shiddieqy berpendirian bahwa syari’at Islam sifat dinamis dan eletis, sesuai dengan perkembangan masa dan tempat,. Ruang lingkupnya.mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik dalam hubungannya dengan sesama maupun dengan Tuhannya. Syari’at Islam yang bersumber dari Wahyu Allah SWT., ini kemudian di pahami oleh umat islam melalui metode.ijtihad untuk dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang timbul dalam masyarakat. Ijtihad inilah yang kemudian melahirkan fiqh. Banyak kitab fiqh. Yang ditulis oleh ulama mujtahid. Di antara mereka yang terkenal adalah imam-imam mujtahid pendiri mazhab yang empat: Abu Hanifah, Malik, asy- Syafi’I dan Ahmad Hanbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, banyak umat islam, kususnya di Indonesia, yang tidak membedakan antara syari’at yang berlangsung berasal dari Allah Swt, dan fiqih yang merupakan pemahaman ulama mujtahid terhadap syari’at tersebut. Selama ini terdapat kesan bahwa Islam Indonesia cenderung menganggap fiqih sebagai syari’at yang berlaku absolute. Akibatnya, kitab-kitab fiqih yang ditulis imam-imam mazhab dipandang sebagai sumber syari’at, walaupu terkadang relefansi pendapat imam mazhab tersebut ada yang perlu diteliti dan dikaji ulang dengan konteks kekinian., karma hasil ijtihat mereka tidak terlepas dari situasi dan kondisi sosial budaya serta lingkungan geografis mereka. Tentu saja hal ini berbeda dengan kondisi masyarakat kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, hukum fiqih yang di anut oleh masyarakat Islam Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan bangsa Indonesia. Mereka cenderung memeksakan keberlakuan fiqih imam-imam mazhab tersebut. Sebagai alternative terhadap sikap tersebut, ia mengajukan gagasan perumusan kembali fiqih Islam yang berkepribadian Indonesia. Menurutnya, umat islam harus dapat menciptakan hukum fiqih yang sesuai latar belakang susiokultur dan lerigi masyarakat Indonesia. Namun begitu , hasil ijtihat ulama masa lalu&lt;br /&gt;Bukan berarti harus dibuang sama sekali, melainkan harus diteliti dan di pelajari secara bebas, kritis dan terlepas dari sikap fanatic. Dengan demikian, pendapat ulama dari mazhab manapun, asal sesuai dan relefan dengan situasi masyarakat Indonesia, dapat diterima dan diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk usaha ini, ulama harus mengembangkan dan menggalakkan ijtihad. Hasbi ash-Shiddieqy menolak pandangan bahwa pintu ijtihat telah tertutup, karna ijtihat adalah suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan dari masa ke masa. Menurutnya, untuk menuju fiqih Islam yang berwawasan ke Indonesia, ada tiga bentuk ijtihat yang perlu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Ijtihat dengan mengklasifikasikan hukum-hukum produk ulama masa lalu. Ini dimaksudkan agar dapat dipilih pendapat yang masih cocok untuk diterapkan dalam masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata mata didasarkan pada adat kebiasaan dan suasana masyarakat dimana hukum itu berkembang.hukum ini, menurutnya, berubah sesuai dengan perubahan masa dan keadaan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga ijtihad dengan mencari hukum-hukum terhadap dengan masalah kontemporer yang timbul sebagai akibat dari kemajuan ilmu dan teknologi, seperti transplatsi organ tubuh, bank, asuransi,bank, air susu ibu, dan inseminasi buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kompleksnya permasalahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan peradaban, maka pendekatan yang dilakukan untuk mengatasinya tidak bisa terpilah-pilah pada bidang tertentu saja. Permasalahan ekonomi, umpamanya, akan berdampak pula pada aspek-aspek lain. Oleh karna itu menurutnya ijtihat tidak dapat terlaksana dengan efektif kalau dilakukan oleh pribadi-pribadi saja. Hasbi Ash-Shiddieqy menawarkan gagasan ijtihad jama’I (ijtihat kolektif).anggotanya tidak hanya dari kalangan ulama, tetapi juga dari berbagai kalangan muslim lainnya, seperti ekonom, dokter, budayawan, dan politikus, yang mempunyai fisi dan wawasan terhadap permasalahan umat Islam, masing-masing mereka yang duduk dalam lembaga ijtihad kolektif ini berusaha memberikan kontribusi pemikiran sesua dengan keahlian dan disiplin ilmunya. Dengan demikian rumusan ijtihad yang diputuskan oleh lembaga ini lebih mendekati kebenaran dan jauh lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kemaslahatan masyarakat. Dalam gagasan masyarakat ini ia memandang urgensi metodologi pengambilan dan penetapan hukum ( istinbath ) yang telah dirumuskan oleh ulama seperti Qias, Istihsan, maslahah mursalah (maslahat)dan urf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat ijtihad kolektif ini umat Islam Indonesia dapat merumuskan sendiri fikih yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.rumusan fikih tersebut tidak harus terikat pada salah satu mazhab, merupakan penggabungan pendapat yang sesuai dengan keadaan masyarakat. Dan memang menurutnya hukum yang baik adalah yang mempertimbangkan dan memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, budaya, adat istiadat, dan kecenderungan masyarakat yang bersangkutan. Hasbi Ash-Shiddieqy bahkan menegaskan bahwa dalam sejarahnya banyak kitab fiqih yang di tulis oleh ulama yang mengacu pada adat istiadat ( urf) suatu daerah. Contoh paling tepat dalam hal ini adalah pendapat imam Asy-Syafi’I yang berubah sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Pendapatnya ketika masih di Irak(Qaul Qadim/pendapat lama) sering berubah ketika dia berada di Mesir ( Qaul Jadid/pendapat baru) karna perbedaan lingkungan adat-istiadat kedua daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pemikiran diatas, ia juga melakukan ijtihat untuk menjawab permasalahan hukum yang muncul dalam masyarakat. Dalam persoalan zakat, umpamanya, pemikiran ijtihat hasbi Ash- Shiddieqy tergolong dan maju.secara umum ia sependapat dengan jumhur ulama yang mengatakan bahwa yang menjadi objek zakat adalah harta, bukan orang. Oleh karn aitu, dari harta anak kecil yang belum mukallaf yang telah sampai nisabnya wajib di keluarkan zakatnya oleh walinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasbi Ash-shiddieqy memandang bahwa zakat adalah ibadah sosial yang bertujuan untuk menjembatani jurang antara yang kaya dan yang miskin. Oleh sebab itu ia berpendapat bahwa zakat dapat dipungut dari non muslim( kafir kitabi) untuk diserahkan kembali demi kepentingan mereka sendiri. Ia mendasarkan pendapatnya pada keputusan Umar ibn Al-Khaththab (581-544 M. ), Khalifah kedua setelah nabi Muhammad saw. Wafat, untuk memberikan zakat kepada kaum zimmi atau ahluzzimmah (orang-orang non muslim yang bertempat tinggal di wilayah Negara Islam) yang sudah tua dan miskin. Umar juga memungut zakat dari Nasrani Bani Tughlab. Pendapat ini dilandasi oleh prinsip pembinaan kesejahteraan bersama dalam suatu Negara tanpa memandang agama dan golongannya.&lt;br /&gt;Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, karna fungsi sosial zakat adalah untuk mengentaskan kemiskinan, maka prinsip keadilan haruslah di utamakan dalam pemungutan zakat. Ia berpendapat bahwa standarisasi ukuran nisab sebagai syarat wajib perlu ditinjau ulang. Ia memahami ukuran nisab tidak secara tektual, yaitu sebagai symbol-simbol bilangan yang kaku.ia mendasarkan bahwa nisab zakatmemang telah diatur dan tidak dapat diubah menurut perkembangan zaman. Akan tetapi, standar nisab ini harus di ukur dengan emas, yaitu 20 miskal atau 90 gram emas. Menurutnya, emas dijadikan standar nisab karena nilanya stabil dengan alat tukar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan tujuannya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat, ia memandang bahwa pemerintah sebagai ulil-amri ( penguasa pemerintahan di Negara Islam) dapat mengambil zakat secara paksa terhadap orang yang enggan membayarnya.Ia juga berpendapat bahwa pemerintah hendaknya membentuk sebuah dewan zakat ( baitul mal) untuk mengkoordinasi dan mengatur pengeloalaan zakat. Dewan ini haruslah berdiri sendiri, tidak dimasukkan Departemen Keuangan atau perbendaharaan Negara. Karna pentingnya masalah zakat ini, ia mengusulkan agar pengaturannya dituang dalam bentuk undang-undang yang mempunyai kekuatan hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara karya-karya unggulan almarhum adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir dan ilmu Al Quran: &lt;br /&gt;1. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-nuur&lt;br /&gt;2. Ilmu-ilmu Al-Qur’an&lt;br /&gt;3. Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir&lt;br /&gt;4. Tafsir Al Bayan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist :&lt;br /&gt;1. Mutiara Hadist ( jilid I-VIII)&lt;br /&gt;2. Sejarah dan pengantar ilmu hadist&lt;br /&gt;3. pokok-pokok ilmu dirayah hadist (I-II)&lt;br /&gt;4. koleksi hadist-hadist hukum (I-IX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiqh :&lt;br /&gt;1. Hukum-hukum fiqih islam&lt;br /&gt;2. Pengantar ilmu fiqih&lt;br /&gt;3. pengantar hukum islam&lt;br /&gt;4. pengantar fiqih muamalah &lt;br /&gt;5. fiqih mawaris&lt;br /&gt;6. pedoman shalat&lt;br /&gt;7. pedoman zakat&lt;br /&gt;8. pedoman puasa&lt;br /&gt;9. pedoman haji&lt;br /&gt;10. peradilan dan hukum acara islam&lt;br /&gt;11. interaksi fiqih islam dengan syari’at agama lain ( hukum antar golongan)&lt;br /&gt;12. Kuliah ibadah&lt;br /&gt;13. pidana mati dalam syari’at islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umum :&lt;br /&gt;1. Al Islam ( Jilid I-II)&lt;br /&gt;Created Ridwan Yayasan Tgk. M. Hasbi Ash Shiddieqy di 22:05 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HMVSjnN7t2w/SJkeRxvqt6I/AAAAAAAAADU/vFqbW25W_f4/s320/Rdw-0176.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HMVSjnN7t2w/SJkeRxvqt6I/AAAAAAAAADU/vFqbW25W_f4/s320/Rdw-0176.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber: http://yayasanhasbi.blogspot.com &amp; http://darul-ulum.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-7591068899980342727?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/7591068899980342727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/03/teungku-muhammad-hasbi-ash-shiddieqy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/7591068899980342727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/7591068899980342727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/03/teungku-muhammad-hasbi-ash-shiddieqy.html' title='Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_NT5gwG8dpho/SI2k8xL37gI/AAAAAAAAAKE/IFkifW-d5kE/s72-c/untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-4155176217469320672</id><published>2010-01-28T15:01:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T15:03:06.789-08:00</updated><title type='text'>KERAS HATI, NA'UDZUBILLAH...</title><content type='html'>Keras Hati, Na'udzubillah..&lt;br /&gt;Bagikan&lt;br /&gt; Kemarin jam 7:03&lt;br /&gt;Dalam peribahasa Arab ada ungkapan "Mata Tombak meskipun terbang."&lt;br /&gt;Peribahasa ini di dunia Arab lazim digunakan untuk menggambarkan orang yang keras hati untuk menerima kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya berasal dari dua orang yang berselisih ketika melihat sebuah benda dari kejauhan sebesar mata tombak. Orang pertama mengatakan bahwa itu seekor burung, sedangkan yang kedua yakin itu sebuah mata tombak. Akhirnya mereka sepakat untuk mendekatinya. Setelah dekat, terbanglah benda tersebut. Tentu saja telah jelas jawabannya. Namun orang kedua yang mengatakan itu mata tombak tidak mau mengalah dan menerima kebenaran tersebut, malah ia berkata : " Ini mata tombak meskipun bisa terbang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari : "Fatawa Syaikh Ali Ath-Thanthawy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA NABI MENGHADAPI ORANG YG KERAS HATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS. Al-Baqarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذ قالَ إِبرٰهۦمُ رَبِّ اجعَل هٰذا بَلَدًا ءامِنًا وَارزُق أَهلَهُ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَن ءامَنَ مِنهُم بِاللَّهِ وَاليَومِ الءاخِرِ ۖ قالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَليلًا ثُمَّ أَضطَرُّهُ إِلىٰ عَذابِ النّارِ ۖ وَبِئسَ المَصيرُ ﴿١٢٦﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(126) "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: ""Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذ يَرفَعُ إِبرٰهۦمُ القَواعِدَ مِنَ البَيتِ وَإِسمٰعيلُ رَبَّنا تَقَبَّل مِنّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّميعُ العَليمُ ﴿١٢٧﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(127) "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ""Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنا وَاجعَلنا مُسلِمَينِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُب عَلَينا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوّابُ الرَّحيمُ ﴿١٢٨﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(128) Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنا وَابعَث فيهِم رَسولًا مِنهُم يَتلوا عَلَيهِم ءايٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتٰبَ وَالحِكمَةَ وَيُزَكّيهِم ۚ إِنَّكَ أَنتَ العَزيزُ الحَكيمُ ﴿١٢٩﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(129) Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَرغَبُ عَن مِلَّةِ إِبرٰهۦمَ إِلّا مَن سَفِهَ نَفسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصطَفَينٰهُ فِى الدُّنيا ۖ وَإِنَّهُ فِى الءاخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحينَ ﴿١٣٠﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(130) Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذ قالَ لَهُ رَبُّهُ أَسلِم ۖ قالَ أَسلَمتُ لِرَبِّ العٰلَمينَ ﴿١٣١﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(131) "Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ""Tunduk patuhlah!"" Ibrahim menjawab: ""Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَوَصّىٰ بِها إِبرٰهۦمُ بَنيهِ وَيَعقوبُ يٰبَنِىَّ إِنَّ اللَّهَ اصطَفىٰ لَكُمُ الدّينَ فَلا تَموتُنَّ إِلّا وَأَنتُم مُسلِمونَ ﴿١٣٢﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(132) "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): ""Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَم كُنتُم شُهَداءَ إِذ حَضَرَ يَعقوبَ المَوتُ إِذ قالَ لِبَنيهِ ما تَعبُدونَ مِن بَعدى قالوا نَعبُدُ إِلٰهَكَ وَإِلٰهَ ءابائِكَ إِبرٰهۦمَ وَإِسمٰعيلَ وَإِسحٰقَ إِلٰهًا وٰحِدًا وَنَحنُ لَهُ مُسلِمونَ ﴿١٣٣﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(133) "Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ""Apa yang kamu sembah sepeninggalku?"" Mereka menjawab: ""Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تِلكَ أُمَّةٌ قَد خَلَت ۖ لَها ما كَسَبَت وَلَكُم ما كَسَبتُم ۖ وَلا تُسـَٔلونَ عَمّا كانوا يَعمَلونَ ﴿١٣٤﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(134) "Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقالوا كونوا هودًا أَو نَصٰرىٰ تَهتَدوا ۗ قُل بَل مِلَّةَ إِبرٰهۦمَ حَنيفًا ۖ وَما كانَ مِنَ المُشرِكينَ ﴿١٣٥﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(135) "Dan mereka berkata: ""Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk"". Katakanlah: ""Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قولوا ءامَنّا بِاللَّهِ وَما أُنزِلَ إِلَينا وَما أُنزِلَ إِلىٰ إِبرٰهۦمَ وَإِسمٰعيلَ وَإِسحٰقَ وَيَعقوبَ وَالأَسباطِ وَما أوتِىَ موسىٰ وَعيسىٰ وَما أوتِىَ النَّبِيّونَ مِن رَبِّهِم لا نُفَرِّقُ بَينَ أَحَدٍ مِنهُم وَنَحنُ لَهُ مُسلِمونَ ﴿١٣٦﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(136) "Katakanlah (hai orang-orang mukmin): ""Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِن ءامَنوا بِمِثلِ ما ءامَنتُم بِهِ فَقَدِ اهتَدَوا ۖ وَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّما هُم فى شِقاقٍ ۖ فَسَيَكفيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّميعُ العَليمُ ﴿١٣٧﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(137) "Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صِبغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَن أَحسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبغَةً ۖ وَنَحنُ لَهُ عٰبِدونَ ﴿١٣٨﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(138) Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُل أَتُحاجّونَنا فِى اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنا وَرَبُّكُم وَلَنا أَعمٰلُنا وَلَكُم أَعمٰلُكُم وَنَحنُ لَهُ مُخلِصونَ ﴿١٣٩﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(139) "Katakanlah: ""Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَم تَقولونَ إِنَّ إِبرٰهۦمَ وَإِسمٰعيلَ وَإِسحٰقَ وَيَعقوبَ وَالأَسباطَ كانوا هودًا أَو نَصٰرىٰ ۗ قُل ءَأَنتُم أَعلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَن أَظلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهٰدَةً عِندَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمّا تَعمَلونَ ﴿١٤٠﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(140) "ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: ""Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?"" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تِلكَ أُمَّةٌ قَد خَلَت ۖ لَها ما كَسَبَت وَلَكُم ما كَسَبتُم ۖ وَلا تُسـَٔلونَ عَمّا كانوا يَعمَلونَ ﴿١٤١﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(141) "Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَيَقولُ السُّفَهاءُ مِنَ النّاسِ ما وَلّىٰهُم عَن قِبلَتِهِمُ الَّتى كانوا عَلَيها ۚ قُل لِلَّهِ المَشرِقُ وَالمَغرِبُ ۚ يَهدى مَن يَشاءُ إِلىٰ صِرٰطٍ مُستَقيمٍ ﴿١٤٢﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(142) "Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: ""Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?"" Katakanlah: ""Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَذٰلِكَ جَعَلنٰكُم أُمَّةً وَسَطًا لِتَكونوا شُهَداءَ عَلَى النّاسِ وَيَكونَ الرَّسولُ عَلَيكُم شَهيدًا ۗ وَما جَعَلنَا القِبلَةَ الَّتى كُنتَ عَلَيها إِلّا لِنَعلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلىٰ عَقِبَيهِ ۚ وَإِن كانَت لَكَبيرَةً إِلّا عَلَى الَّذينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَما كانَ اللَّهُ لِيُضيعَ إيمٰنَكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنّاسِ لَرَءوفٌ رَحيمٌ ﴿١٤٣﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(143) "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG YG KERAS HATI BUKAN SBG TEMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS. Hud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(32) "Mereka berkata: ""Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(33) "Nuh menjawab: ""Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(34) "Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(35) "Malahan kaum Nuh itu berkata: ""Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja"". Katakanlah: ""Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(36) Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(37) "Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang lalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(38) "Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: ""Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(39) "Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(40) "Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ""Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman."" Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(41) "Dan Nuh berkata: ""Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya."" Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(42) "Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ""Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(43) "Anaknya menjawab: ""Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!"" Nuh berkata: ""Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang"". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(44) "Dan difirmankan: ""Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,"" Dan air pun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: ""Binasalah orang-orang yang lalim."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(45) "Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: ""Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(46) "Allah berfirman: ""Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(47) "Nuh berkata: ""Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat) nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(48) "Difirmankan: ""Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami."""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG YG HATINYA MATI MENDAPAT LAKNAT ALLAH, MALAIKAT &amp; MANUSIA SERTA TIDAK LAYAK DIDO'AKAN &amp; DISHALATKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS. Al-Baqarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذينَ يَكتُمونَ ما أَنزَلنا مِنَ البَيِّنٰتِ وَالهُدىٰ مِن بَعدِ ما بَيَّنّٰهُ لِلنّاسِ فِى الكِتٰبِ ۙ أُولٰئِكَ يَلعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلعَنُهُمُ اللّٰعِنونَ ﴿١٥٩﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(159) Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلَّا الَّذينَ تابوا وَأَصلَحوا وَبَيَّنوا فَأُولٰئِكَ أَتوبُ عَلَيهِم ۚ وَأَنَا التَّوّابُ الرَّحيمُ ﴿١٦٠﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(160) kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذينَ كَفَروا وَماتوا وَهُم كُفّارٌ أُولٰئِكَ عَلَيهِم لَعنَةُ اللَّهِ وَالمَلٰئِكَةِ وَالنّاسِ أَجمَعينَ ﴿١٦١﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(161) Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS. At-Taubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(80) Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(81) "Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: ""Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini"". Katakanlah: ""Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)"", jika mereka mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(82) Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(83) "Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk ke luar (pergi berperang), maka katakanlah: ""Kamu tidak boleh ke luar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang"""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(84) Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(85) Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(86) "Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): ""Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya"", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: ""Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk""."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(87) Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(88) "Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-4155176217469320672?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/4155176217469320672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/keras-hati-naudzubillah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/4155176217469320672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/4155176217469320672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/keras-hati-naudzubillah.html' title='KERAS HATI, NA&apos;UDZUBILLAH...'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-7092081495915455229</id><published>2010-01-25T06:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T06:16:06.357-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mahabbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Masih Adakah Cinta...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S12nbS9BVgI/AAAAAAAAAF4/xVM18kO2RF8/s1600-h/true_love_will_never_fade.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S12nbS9BVgI/AAAAAAAAAF4/xVM18kO2RF8/s320/true_love_will_never_fade.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430680813064771074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab padanan kata cinta diistilahkan dengan Al-Hubb atau Al-Mahabbah, Al-Wadud atau Al-Mawaddah, Ar-Rahmah atau Al-Marhamah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mendefinisikan Al-Hub dari turunan katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lima arti akar kata Hubb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Al-Shafa Wa Al-Bayadh yang artinya putih bersih. Habab Al-Asnan artinya bagian gigi yang putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Al-'Uluw Wa Azh-Zhuhur yang artinya tinggi dan tampak. Habab Al-Ma-i artinya bagian air hujan yang deras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Al-Luzum Wa Ats-Tsubut artinya tetap dan konsisten. Habb Al-Ba'ir artinya unta yang menelungkup dan tidak bangkit-bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Lubba artinya inti atau saripati. Biji disebut Habbah karena berada pada inti buah-buahan. Jan-tung hati disebut Habbat Al-Qalb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Al-Hifzh Wa Al-Imsak yang artinya menjaga dan menahan. Wadah untuk menyimpan dan menahan air agar tidak tumpah disebut Hibb Al-Ma-i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari kelima arti tersebut cinta dapat didefinisikan dengan : "Perasaan hati yang bersih dan tulus, menghargai, mengutamakan kekasihnya dengan konsisten dan menjaganya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Cinta Terlarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-7092081495915455229?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/7092081495915455229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/masih-adakah-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/7092081495915455229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/7092081495915455229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/masih-adakah-cinta.html' title='Masih Adakah Cinta...'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S12nbS9BVgI/AAAAAAAAAF4/xVM18kO2RF8/s72-c/true_love_will_never_fade.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-3760672127972588494</id><published>2010-01-16T18:12:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T18:22:52.331-08:00</updated><title type='text'>KESAKSIAN OTAK MANUSIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S1JyyGArtMI/AAAAAAAAAFw/n9laYJ0r81U/s1600-h/ch1-1-d-img1-big.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 228px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S1JyyGArtMI/AAAAAAAAAFw/n9laYJ0r81U/s320/ch1-1-d-img1-big.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427526705867371714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta tentang Otak manusia &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada saat lahir seorang bayi memiliki 1.000.000.000.000 sel otak (neuron). Bandingkan dengan jumlah penduduk bumi abad 21 sebanyak 6.000.000.000. Ini berarti dalam kepala bayi terdapat sel otak sebanyak 166 kali lipat jumlah manusia yang tinggal di planet ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap sel otak memiliki ratusan dan ribuan cabang atau tentakel yang mirip sekali dengan gurita yang berukuran mikro. Masing-masing tentakel ini berisi jamur atau spina dendrit yang mengandung ribuan zat kimia. Inilah yang membawa pesan diantara sel otak, semua informasi dalam setiap pikiran, setiap pengalaman belajar, dan setiap daya ingat yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Ketika kita berpikir, sebuah gelombang elektromagnetis bergerak turun ke cabang sel otak, memicu zat kimia di dalam salah satu jamur, yang kemudian dengan cepat menyebrangi jarak pendek untuk memicu zat kimia di dalam spina dendrit lainnya. Hal ini kemudian memicu respons elektromagnetis dari sel otak sebelahnya.&lt;br /&gt;Proses ini berjalan terus sehingga membentuk jejak setapak yang menyerupai jejak setapak berliku-liku di dalam hutan besar. Dan kecepatan gerak zat kimia ini jika dilihat akan seperti air terjun Niagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diselidiki jumlah jejak pikiran ini jika dibuat bentuk teks normal akan membentuk deretan angka sepanjang 10,5 juta km!&lt;br /&gt;Dengan begitu banyaknya kemungkinan tersebut otak manusia, jika seumpama keyboard dapat memainkan ratusan juta juta melodi. Tidak seorangpun yang masih hidup yang pernah mendekati penggunaan otak secara maksimal. Kekuatan otak manusia ini tidak ada batasannya. (Petr Akhonin, Ilmuwan Otak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda manusia normal dengan jenius…&lt;br /&gt;“Rata-rata manusia menggunakan 3% kapasitas otaknya dan jenius menggunakan 4%”&lt;br /&gt;Semua serangga, ikan, burung atau hewan memiliki sel otak yang sama dengan yang kita miliki. Hanya jumlahnya lebih sedikit. Jumlah sel otak yang dimiliki inilah yang menentukan kecerdasan satu makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan seekor lebah…&lt;br /&gt;Seekor lebah memiliki kurang dari 1.000.000 sel otak. (1/1000.000 jumalh yg dimiliki manusia).&lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat dilakukan oleh seekor lebah adalah:&lt;br /&gt;Terbang, berkelahi, melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba, menyentuh, membangun rumah, mengendalikan suhu, menghitung, melindungi, kemampuan bernavigasi, berjalan, berlari, mengingat, bermain, mengasuh, berkembang biak, bekerja secara konstruktif dan kooperatif dalam sebuah komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seekor lebah dengan jumlah sel otak kurang dari satu juta dapat melakukan semua itu, pikirkan apa yang dapat dilakukan oleh manusia!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu kecil dalam otak kita terjadi suatu ledakan. Saat itu setiap sel otak (neuron) yang jumlahnya berjuta-juta mengeluarkan sejumlah serat yang sangat halus dan kecil ke segala arah, mencari dan membuat sambungan dengan ribuan sampai puluhan ribu sel otak lainnya. Ini yang dinamakan interkoneksi. Proses ini kemudian berlanjut seterusnya seumur hidup. Pada saat lahir jumlah sel otak kita tidak akan bertambah lagi. Yang akan bertambah adalah jumlah interkoneksi inilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta penting…&lt;br /&gt;Yang menentukan kecerdasan seseorang bukan jumlah sel otaknya. Sel otak kita sudah memiliki kapasitas yang jauh lebih dari sekedar jenius. Namum, kecerdasan seseorang adalah jumlah interkonkesi sel otak ini. Jumlah interkoneksi ini sebagian besar ditentukan oleh mutu yang sangat baik dari Makanan Otak. Makanan Otak adalah Oksygen, Nutrisi, Kasih Sayang dan Informasi.&lt;br /&gt;Dari apa yang saya baca dibukunya TONY BUZAN “BRAIN CHILD”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Tuhan memberikan manusia kemapuan yang tidak terbatas yang belum pernah ter-ekplopre oleh jenius paling pintar sedunia sekalipun. Tujuan semuanya itu agar manusia bisa menaklukkan dunia dan menjadi penguasa atas semua cipataanNya. Seharusnya manusia sadar bahwa kecerdasannya itu adalah anugerah Tuhan sebagai makhluk ciptaan yang mulia yang seharusnya dipakai untuk menyembahNya dan bukan untuk menentangNya.&lt;br /&gt;Semakin banyak seseorang belajar, makan semakin ia tahu bahwa betapa sedikitnya apa yang telah ia ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://nancydinar.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak Sebagai Saksi di Akhirat&lt;br /&gt;Prof. DR. H. Rusdi Lamsudin*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak menguasai, mengendalikan, dan mencatat seluruh kegiatan manusia, seperti: gerakan seluruh bagian tubuh, pancaindera, perencanaan, peran intelektual tinggi (berbicara, belajar, menulis, membaca, dan berfikir). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap fungsi kegiatan tersebut mempunyai kawasan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;Setiap kegiatan yang dilakukan manusia meninggalkan bekas dalam sel otak.&lt;br /&gt;Bekas-bekas ini belum terungkap dengan jelas oleh ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Bekas-bekas yang tersimpan dalam otak inilah yang menjadi proses intelektual tinggi manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik untuk disimak hipotesis yang diajukan oleh Dr. Muhammad Ustman Najati (1982) dalam bukunya: “Al quran wa ilmu al nafs”, yang diterjemahkan oleh Ahmad Rofi’ Usmani (1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan bahwa kelak di akhirat, otak akan berperan sebagai saksi atas segala perbuatan manusia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al quran telah menyatakan dengan jelas bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit/perasa (Q.S. 41: 19-21), lidah, tangan, dan kaki (Q.S. 24: 24 dan Q.S. 36: 65) akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di dunia.&lt;br /&gt;Oleh karena segala perbuatan kita tercatat dalam sel-sel otak, maka adalah mungkin bisa berbunyi dan menyatakan semua apa yang dicatatnya, seperti tape recorder atau compact disk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah-lah yang menjadikan semuanya itu, dan Allah-lah yang maha tahu bagaimana persaksian itu. &lt;br /&gt;Kita kaji firman-firman Allah (Q.S. 17: 13-14; Q.S. 39: 69; Q.S. 18: 49} bahwa ada satu kitab yang terbuka , buku perhitungan, kitab yang berisi tulisan segala perbuatan setiap manusia yang diperlihatkan kelak di akhirat.&lt;br /&gt;Kita tidak mengetahui apa bentuk kitab tersebut, Allah-lah yang maha tahu. &lt;br /&gt;Dengan hitungan trilliunan sel-sel syaraf, entah berapa juta gigabit dapat mencatat semua kegiatan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dihamparkan lapisan-lapisan otak yang berlipat-lipat itu, diperkirakan luasnya sekitar 16 meter persegi. &lt;br /&gt;Apakah hamparan otak ini yang dikatakan Allah sebagai buku tersebut, Allah-lah yang maha tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fakta ini kita mestinya menjadi ingat dan sadar bahwa segala perbuatan kita yang baik, yang buruk akan tercatat, bahkan berupa niat saja tetap akan tercatat di sel-sel saraf otak tersebut.&lt;br /&gt;* Guru besar neurologi, Fak. Kedokteran U.G.M. Tulisan ini pernah dimuat dalam kolom Hikmah hr. Republika 21-10-1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-3760672127972588494?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/3760672127972588494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/kesaksian-otak-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3760672127972588494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3760672127972588494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/kesaksian-otak-manusia.html' title='KESAKSIAN OTAK MANUSIA'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S1JyyGArtMI/AAAAAAAAAFw/n9laYJ0r81U/s72-c/ch1-1-d-img1-big.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-6072188375346951577</id><published>2010-01-15T02:51:00.001-08:00</published><updated>2010-01-15T02:56:59.839-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khutbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siksa kubur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat gerhana matahari'/><title type='text'>WASIAT NABI SAW SAAT GERHANA &amp; BENCANA</title><content type='html'>WASIAT NABI SAW SAAT GERHANA &amp; BENCANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul SAW bersada: "Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua ayat dari ayat-ayat Allah, tidak gerhana karena kematian seseorang atau kehiduapannya. Jika kalian melihat keduanya gerhana maka berdo'alah pada Allah, bertakbir, shalat, dan bersedekahlah!." (Shahih al-Bukhari, I h.351)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَدِيثُ أَسْمَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ تُصَلِّي فَقُلْتُ مَا شَأْنُ النَّاسِ يُصَلُّونَ فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَقُلْتُ آيَةٌ قَالَتْ نَعَمْ فَأَطَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِيَامَ جِدًّا حَتَّى تَجَلَّانِي الْغَشْيُ فَأَخَذْتُ قِرْبَةً مِنْ مَاءٍ إِلَى جَنْبِي فَجَعَلْتُ أَصُبُّ عَلَى رَأْسِي أَوْ عَلَى وَجْهِي مِنَ الْمَاءِ قَالَتْ فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ رَأَيْتُهُ إِلَّا قَدْ رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ وَإِنَّهُ قَدْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ قَرِيبًا أَوْ مِثْلَ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيُؤْتَى أَحَدُكُمْ فَيُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوِ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَأَطَعْنَا ثَلَاثَ مِرَارٍ فَيُقَالُ لَهُ نَمْ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ إِنَّكَ لَتُؤْمِنُ بِهِ فَنَمْ صَالِحًا وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوِ الْمُرْتَابُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُ *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Asma' r.a katanya: "Telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah s.a.w. Aku menemui Aisyah yang ketika itu sedang shalat. Aku bertanya: Kenapa orang ramai melakukan shalat؟ Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah langit. Aku bertanya lagi: "Tanda kebesaran Allah ?" Dia menjawab: Benar! Rasulullah s.a.w berdiri shalat cukup lama sekali, hingga aku terasa hampir pingsan. Lalu aku mencapai qirbah (satu bekas air) yang ada di sampingku dan aku menuangnya ke kepalaku dan wajahku. Ketika Rasulullah s.a.w selesai shalat, matahari telah muncul kembali. Kemudian Rasulullah s.a.w berkhutbah kepada kaum muslimin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya. Lalu bersabda: &lt;br /&gt;"Aku menyaksikan apa yang belum pernah kulihat, dan kini aku dapat melihatnya di maqamku ini, termasuk Surga dan Neraka. Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahwa kamu akan menerima ujian di dalam kubur (Siksa Kubur) yang hampir-hampir menyerupai fitnah al-Masih Ad-Dajjal." "Kamu di alam kubur akan didatangi seseorang dan bertanya kepadamu: "apakah yang kamu ketahui tentang lelaki ini" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adapun orang yang beriman atau orang yang yakin akan menjawab: "dia itu Muhammad. Dialah utusan Allah yang membawa bukti-bukti dan petunjuk kepada kami. Lalu kami penuhi dan taati (sebanyak tiga kali)." Kemudian dikatakan kepadanya: "Benar! Kami memang tahu bahwa engkau beriman kepadanya. "Tidurlah dengan tenang!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang munafik atau ragu-ragu dalam keimanannya akan menjawab: "Aku tidak tahu, aku hanya mendengar orang ramai membicarakannya, maka aku turut mengatakannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-6072188375346951577?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/6072188375346951577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/wasiat-nabi-saw-saat-gerhana-bencana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/6072188375346951577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/6072188375346951577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/wasiat-nabi-saw-saat-gerhana-bencana.html' title='WASIAT NABI SAW SAAT GERHANA &amp; BENCANA'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-3832025589924915582</id><published>2010-01-13T13:25:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T15:22:18.541-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat gerhana matahari'/><title type='text'>Saksikan Gerhana Matahari Terlama Milenium Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S05Vb_73gII/AAAAAAAAAFo/Oxt01aWa1G0/s1600-h/GMC150110.GIF"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 270px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S05Vb_73gII/AAAAAAAAAFo/Oxt01aWa1G0/s320/GMC150110.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426368540535390338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Januari, &lt;br /&gt;Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono&lt;br /&gt;Rabu, 13 Januari 2010 | 17:58 WIB&lt;br /&gt;KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG, KOMPAS.com - Setelah gerhana bulan di awal tahun 2010, publik di Indonesia akan disuguhkan peristiwa alam lainnya yang unik, yaitu gerhana matahari cincin pada Jum'at(15/1/2010) mendatang. Bahkan, ini bakal menjadi gerhana matahari paling lama di milenium ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerhana yang diperkirakan berlangsung sebelas menit delapan detik ini akan melewati Afrika bagian tengah, Samudera India, dan sebagian wilayah Indonesia. Titik maksimum gerhana hanya akan terjadi di Samudera Hindia, tetapi masyarakat di tinggal antara lain di Afrika tengah, Kenya, China, dan Myanmar bisa melihat fase gerhana cincin. Adapun total jalur penumbra gerhana ini mencapai 333 kilometer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, di Indonesia, masyarakat gerhana ini hanya terlihat parsial atau sebagian saja sehingga tidak akan terlihat berbentuk seperti cincin saat puncaknya. Hanya sedikit bagian Matahari yang tertutup bayang-bayang Bumi, tak lebih dari 10 persen. "Kecuali, di Aceh yang mungkin bisa 50 persen," tutur Clara Yatini, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Rabu (13/1/2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah di Indonesia yang bisa melihat gerhana matahari ini adalah di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi. Proses gerhana yang dimulai dengan masuknya bayang-bayang bulan di permukaan bumi akan dimulai Pukul 14.39 WIB. Puncak gerhana akan terjadi pada 15.55 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerhana matahari yang selama ini, lebih dari 11 menit, baru akan kembali terjadi pada 1.033 tahun kemudian, yaitu tepatnya di tahun 3043. Menurut catatan, gerhana matahari selama ini hanya dikalahkan pada peristiwa tahun 1992 yaitu dengan waktu 11 menit 41 detik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir bulan Muharram 1431 H, tepatnya hari Jum'at, 29 Muharram 1431 H. / 15 Januari 2010 M. akan terjadi Gerhana Matahari Cincin (GMC) atau Annular Solar Eclipse yang pusatnya di Samudera Hindia. Gerhana ini melintasi wilayah Afrika dan Asia, dimulai dari Afrika, India, Srilanka, Myanmar dan berakhir di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, gerhana akan terlihat sebagai Gerhana Matahari Sebagian (bukan Cincin) dan hanya bisa disaksikan di sebagian wilayah Indonesia khususnya bagian Barat, diantaranya: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Utara dan Jawa bagian Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut waktu gerhana untuk Kota Bandung (Pajagalan):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai Gerhana = 14:39:13 WIB&lt;br /&gt;Pertengahan Gerhana = 15:18:19 WIB&lt;br /&gt;Akhir Gerhana = 15:54:5 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota lainnya (waktu GMT)*:&lt;br /&gt;1. Balikpapan, Mulai 08:06:16 | Tengah 08:36:57 | Akhir 09:05:43&lt;br /&gt;2. Banda Aceh, Mulai 06:37:58 | Tengah 08:19:51 | Akhir 09:44:24&lt;br /&gt;3. Tanjungkarang, Mulai 07:23:16 | Tengah 08:17:42 | Akhir 09:06:34&lt;br /&gt;4. Banjarmasin, Mulai 08:04:23 | Tengah 08:31:59 | Akhir 08:58:01&lt;br /&gt;5. Bengkulu, Mulai 07:06:50 | Tengah 08:16:09 | Akhir 09:16:47&lt;br /&gt;6. Jakarta, Mulai 07:32:26 | Tengah 08:18:43 | Akhir 09:00:53&lt;br /&gt;7. Jambu, Mulai 08:02:16 | Tengah 08:37:11 | Akhir 09:09:39&lt;br /&gt;8. Manado, Mulai 08:30:02 | Tengah 08:45:15 | Akhir 09:00:01&lt;br /&gt;9. Medan, Mulai 06:49:46 | Tengah 08:22:24 | Akhir 09:40:09&lt;br /&gt;10. Padang, Mulai 06:56:44 | Tengah 08:17:49 | Akhir 09:27:19&lt;br /&gt;11. Palembang, Mulai 07:17:10 | Tengah 08:21:06 | Akhir 09:17:26&lt;br /&gt;12. Palu, Mulai 08:20:21 | Tengah 08:39:40 | Akhir 08:58:13&lt;br /&gt;13. Pekanbaru, Mulai 07:00:57 | Tengah 08:21:58 | Akhir 09:31:15&lt;br /&gt;14. Pontianak, Mulai 07:32:26 | Tengah 08:31:09 | Akhir 09:23:08&lt;br /&gt;15. Samarinda, Mulai 08:05:09 | Tengah 08:38:09 | Akhir 09:08:57&lt;br /&gt;16. Semarang, Mulai 07:57:21 | Tengah 08:22:11 | Akhir 08:45:47&lt;br /&gt;17. Surakarta, Mulai 08:04:57 | Tengah 08:21:42 | Akhir 08:37:51&lt;br /&gt;18. Yogyakarta, Mulai 08:02:44 | Tengah 08:20:39 | Akhir 08:37:55&lt;br /&gt;19. Singapore, Mulai 07:10:04 | Tengah 08:26:24 | Akhir 09:32:05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan gerhana, Rasulullah memerintahkan ummatnya untuk berdo'a, bertakbir, shalat dan bershadaqoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*untuk waktu lokal, tinggal ditambah 7 jam untuk WIB dan 8 jam untuk WITA&lt;br /&gt;Diposkan oleh &lt;a href="http://hisabfalak.blogspot.com/2010/01/gerhana-matahari-cincin.html"&gt;Hisab Falak Pajagalan&lt;/a&gt; pada 10:36 PM&lt;br /&gt;Label: Gerhana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://subhan-nurdin.blogspot.com/2009/12/shalat-gerhana-bulan-adakah.html"&gt;CARA SHALAT GERHANA&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-3832025589924915582?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2009/12/shalat-gerhana-bulan-adakah.html' title='Saksikan Gerhana Matahari Terlama Milenium Ini'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/3832025589924915582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/saksikan-gerhana-matahari-terlama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3832025589924915582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/3832025589924915582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/saksikan-gerhana-matahari-terlama.html' title='Saksikan Gerhana Matahari Terlama Milenium Ini'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/S05Vb_73gII/AAAAAAAAAFo/Oxt01aWa1G0/s72-c/GMC150110.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-5151909686172475891</id><published>2010-01-13T13:08:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T13:11:54.572-08:00</updated><title type='text'>KETIKA CAHAYA HATI MULAI REDUP...</title><content type='html'>عَنْ عَلِيِّى بْنِ أَبِى طَالِبٍ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلَّبَ إِلاَّ وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ، بَيْنَمَا الْقَمَرُ مضئى إِذْ عَلَتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ، إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ (البخارى ومسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda: “Tiada satu hati pun yang bergerak kecuali diselimuti kabut, seperti awan kabut menutupi purnama. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena ia tertutup awan, maka ia menjadi gelap, dan ketika awannya pergi menyingkir, purnamapun bersinar terang kembali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra.)&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya merupakan simbol dari pencerahan spiritual. Ilmu adalah cahaya. Iman adalah cahaya. Bekas-bekas basuhan air wudhu di wajah adalah cahaya.Alquran adalah cahaya. Setiap amal saleh yang kita lakukan hakikatnya adalah cahaya. Sejatinya, cahaya spiritual akan membimbing serta menerangi kehidupan manusia, tidak hanya di dunia saja tapi juga sampai ke akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, cahaya terang akan memancar dari wajah setiap hamba-hamba beriman yang senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Cahaya inilah yang akan membedakannya dari orang-orang kafir nan ingkar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, Pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak (QS Al Hadiid [57]: 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia itu bagaikan cermin yang memantulkan cahaya. Jika cermin itu bersih dari debu dan kotoran yang menghalangi maka apa yang kita lihat akan tampak jernih apa adanya. Hitam putih akan terlihat jelas dan nampak perbedaannya. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau terhalang kabut hawa nafsu, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari batiniah atau hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ِانَّ اللهَ لاَيَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (اخرجه مسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya. Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya&lt;br /&gt;tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun seringkali tertutupi oleh kabut kemaksitan hingga sinarnya menjadi redup. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan kabut yang menutupi cahaya hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGAR HATI BERSINAR KEMBALI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dimulai dengan Shalat Shubuh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Subuh adalah sebentuk amal saleh yang sangat bernilai, otomatis ia pun termasuk cahaya. Cahaya seperti apa? Dalam sebuah hadis dari Buraidah Al Aslami, Rasulullah SAW mengungkapkan, Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di waktu gelap (di pagi hari), dengan cahaya yang sempurna di akhirat kelak. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengagumkan hadis ini. Al Mubarakfuri memberi komentar, Bahwa tubuh mereka akan diselimuti, dengan cahaya dari berbagai arah, saat mereka mengalami kesulitan berjalan di atas titian shirath kelak. Simaklah kata-kata kunci di dalamnya, kegelapan yang diikuti cahaya yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelapan yang diikuti cahaya terang, bukan cahaya remang-remang, namun cahaya yang kualitas terangnya begitu sempurna. Bagaimana terang benderangnya cahaya yang berada di tengah kegelapan? Semakin pekat kegelapan, semakin benderang pula cahaya yang melingkupinya. Pantas jika Rasulullah SAW mengungkapkan janji ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah waktu Subuh, waktu sepertiga malam terakhir, waktu menjalang terbitnya fajar, adalah waktu yang paling gelap dari keseluruhan malam? Saat itu adalah saat terjadinya pertukaran antara malam dan siang. Bulan dan bintang sudah memasuki peraduannya sedangkan matahari belum muncul ke permukaan. Saat itu adalah saat-saat di mana cahaya yang menerangi bumi mencapai intensitasnya yang terendah, hingga Bumi mencapai kegelapan yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kasih sayang-Nya, Allah SWT memerintahkan kita untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah. Dalam kegelapan yang sempurna, Rasulullah SAW mengajak kita berjalan ke masjid memenuhi panggilan Ilahi yang terungkap lewat kumandang adzan. Ketika momen itu berlangsung, dalam setiap langkah kaki, Allah SWT akan menggugurkan satu dosa serta mengangkat kita satu derajat (HR Bukhari Muslim). Ketika itu pula, Allah SWT menaburkan cahaya-cahaya terang yang akan menerangi jiwa orang-orang yang memenuhi panggilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda bahwa peristiwa itu terjadi setiap hari, di pagi hari.Karena itu, Rasulullah SAW mengajari kita sebuah doa, saat kita berjalan ke masjid di waktu malam dan pagi hari, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19- اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَمِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا، وَعَنْ شَمَالِيْ نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا. [اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ … ونُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ ] [وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا] [وَهَبْ لِيْ نُوْرًا عَلَى نُوْرٍ]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. “Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untukku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku” [28] [Ya Allah, ciptakanlah cahaya untukku dalam kuburku … dan cahaya dalam tulangku”] [29], [“Tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku”] [30], [“dan karuniakanlah bagiku cahaya di atas cahaya”] [31]&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;[28] Hal ini semuanya disebutkan dalam Al-Bukhari 11/116 no.6316, dan Muslim 1/526, 529, 530, no. 763.&lt;br /&gt;[29] HR. At-Tirmidzi no.3419, 5/483.&lt;br /&gt;[30] HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 695, hal.258. Al-Albani menyatakan isnadnya shahih, dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad, no. 536.&lt;br /&gt;[31] Disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, dengan menisbatkannya kepada Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Ad-Du’a. Lihat Fathul Bari 11/118. Katanya: “Dari berbagai macam riwayat, maka terkumpullah sebanyak dua puluh lima pekerti”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar, adalah momen-momen yang sangat dahsyat. Seiring hadirnya cahaya-cahaya penerang jiwa, Allah SWT pun menaburkan aneka keberkahan di dalamnya. Betapa tidak, saat itulah para malaikat (yang juga makhluk cahaya) memberi laporan harian kepada Tuhannya, perihal amal-amal yang dilakukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat siang dan malaikat malam datang dan pergi kepada kalian pada waktu malam. Mereka berkumpul di waktu shalat Subuh dan shalat Ashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian malaikat yang hadir bersama kalian naik ke langit, dan Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka (walau Allah Maha Mengetahui segalanya),&lt;br /&gt;'Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?'. Mereka menjawab, 'Kami&lt;br /&gt;tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami pun mendatangi mereka ketika dalam keadaan shalat'. (HR Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun yang mampu meraih keberkahan ini, maka di akhirat kelak kado istimewa sudah siap menunggunya. Apakah itu? Perjumpaan dengan Allah, Dzat Yang Mahatinggi. Masuk surga itu adalah nikmat yang teramat besar. Namun, kenikmatan surga tiada artinya jika dibandingkan dengan menatap wajah Allah secara langsung. Itulah puncak dari segala puncak kenikmatan dan kebahagiaan. Rasul sendiri yang menjanjikan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jair bin Abdillah, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Ketika kami tengah berada di sisi Nabi SAW, beliau memandang ke arah bulan purnama, lalu bersabda, 'Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini untuk melihat-Nya. Jika kalian sanggup untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya, maka lakukanlah'. Kemudian beliau membaca ayat ini: dan bertasbihlah memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya (QS Thaahaa [20]: 30). (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan dikhususkannya shalat Subuh dan Ashar, boleh jadi karena pada kedua waktu itu seseorang nyaman beristirahat. Waktu Subuh meneruskan istirahat malam, sedangkan Ashar adalah waktu beristirahat seusai melakukan berbagai kesibukan pekerjaan. Selain itu, siapa pun yang istikamah menjaga kedua shalat ini, biasanya mampu pula menjaga shalat fardu pada waktu-waktu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Introspeksi diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يـَاأَيُّـهَـا الَّذِيْـنَ ءَامَـنُـوْا اتَّـقُـوْا اللهَ وَلْتَـنْـظُـرْ نَـفْـسٌ مَّاقَـدَّمَتْ لِغَـدٍ وَاتَّــقُـوْا اللهَ. إِنَّ اللهَ خَـبِـيْرٌ بِـمَا تَـعْـمَلُـوْنَ {الحشر &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perbaikan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap.Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَـآأَيُّـهَـا الَّذِيْـنَ ءَامَـنُـوْا تُـوْبُـوْا إِلَى اللهِ تَـوْبَـةً نَّـصُـوْحًـا عَسَى رَبُّـكُمْ أَنْ يُّـكَـفِّـرْ عَـنْـكُمْ سَـيِّـئَـاتِـكُـمْ وَيُـدْخِـلَـكُمْ جَـنّـتٍ تَـجْـرِى مِنْ تَـحْـتِهَـا اْلأَنْـهَارِ ….{التحريم }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tadabbur Al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَلاَ يَـتَـدَبَّـرُْنَ الْـقُـْرآنَ اَمْ عَلَى قُلـُوبٍ أَقْـفَـالُهَـا {محمد } &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… اِعْـمَــلُوْا عَلَى مَاتُــطِـْيقُـوْنَ فَإِنَّ اللهَ لاَيـَـمَلُّ حَتَّى تَـمَـلَّ وَاَنَّ اَحَـبَّ اْلاَعْـمَـالِ اِلىَ اللهِ اَدْوَمُـهَا وَاِنْ قَـلَّ {رواه &lt;br /&gt;البخارى}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit." (H.R.Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengisi Waktu dengan Zikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama,zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan&lt;br /&gt;ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar,Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam&lt;br /&gt;kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اذْكُرُوْا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا .وَسَبِّحُوْاهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً {الاحزاب –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاذْكُرُوْنِى أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِى وَلاَتَكْفُرُوْنَ {البقرة }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah 2 :152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan&lt;br /&gt;terseret arus kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt..mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh sepertidikemukakan dalam ayat berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَوَاةِ وَالْعَشِيِّى يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ. وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا {الكهف : } &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلاُ شَكَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ&lt;br /&gt;فَقَالَ لَهُ: إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِيْنَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيْمِ (رواه احمد)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw.menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mengingat Mati sehingga mempersiapkan bekal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati&lt;br /&gt;dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ اَنَسٍ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا، فَإِنَّهَا تَرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ اْلأخِرَةَ (رواه الحاكم) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Menghadiri Majelis Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah&lt;br /&gt;swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَيَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ اِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةِ وَغَشِيَتْهُمً الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ {رواه مسلم }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (H.R. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Berdo’a kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening.Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ : قُلْتُ لأُمِّ سَلَمَةَ، يَاأُمَّ الْمُؤْمِنيْنَ مَاكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ، مَاأَكْثَرُ دُعَائِكَ يَامُقَلِّبَ&lt;br /&gt;الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ؟ قَالَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ. فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ (اخرجه احمد)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab:“Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberikepada kita hati yang bersinar terang. Amiin . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم نوّر قلوبنا بنور هدايتك كما نورت الأرض بنور شمسك وقمرك أبداً برحمتك ياأرحم الراحمين.&lt;br /&gt;* اللهم أعنا علي ذكرك و شكرك و حسن عبادتك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah berikanlah cahaya kepada hati kami dengan cahaya hidayah-Mu, seperti Engkau menyinari bumi dengan cahaya mentari dan rembulan-Mu selamanya dengan limpahan kasih sayang-Mu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="a2a_dd" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkname=artikel%20subhan%20nurdin&amp;amp;linkurl=http%3A%2F%2Fsubhan-nurdin.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://static.addtoany.com/buttons/share_save_171_16.png" width="171" height="16" border="0" alt="Share/Bookmark"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;a2a_linkname="artikel subhan nurdin";a2a_linkurl="http://subhan-nurdin.blogspot.com";&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://static.addtoany.com/menu/page.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-5151909686172475891?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://yapinda.wordpress.com' title='KETIKA CAHAYA HATI MULAI REDUP...'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/5151909686172475891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/ketika-cahaya-hati-mulai-redup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/5151909686172475891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/5151909686172475891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/ketika-cahaya-hati-mulai-redup.html' title='KETIKA CAHAYA HATI MULAI REDUP...'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-6283211426790531039</id><published>2010-01-08T07:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T07:41:34.336-08:00</updated><title type='text'>Menjelang detik terakhir…</title><content type='html'>PERNAHKAH kita bayangkan diri kita berada di atas ranjang kematian, apakah yang dapat kita lakukan waktu itu ? Suatu pertanyaan yang mesti dijawab oleh semua manusia yang masih hidup. Bagaimanakah keadaan detik-detik terakhir dari nafas kita yang akan berlalu itu? Apakah kita termasuk orang yang suka untuk bertemu Allah (SWT), ataukah sebaliknya seperti hamba yang melarikan diri dan takut bertemu tuannya karena kesalahan yang dilakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari akhir kehidupan para salaf adalah amat penting bagi kita, karena mereka adalah orang-orang terkemuka dari umat ini, para pemimpin dan ulama kaum muslimin. Sungguh mereka sangat takut kalau kembali kepada Allah SWT dalam keadaan membawa dosa dan kemaksiatan. Marilah kita ambil beberapa pengajaran berharga dari mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. tatkala menjelang wafat disediakan untuk beliau satu wadah air, beliau memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusapkan ke wajahnya seraya bersabda, “La ilaha illallah, sesungguhnya di dalam kematian ada sakaratul maut.” Kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya lalu mengatakan, “Fir Rafiqil A’la” lalu beliau wafat dan tangannya tergeletak lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Umar al Faruq menjelang ajal, beliau berkata kepada puteranya Abdullah, “Letakkan pipiku di atas tanah“, namun Abdullah enggan untuk melakukan demikian. Beliau berkata sehingga tiga kali, “Letakkan pipiku di atas tanah, semoga Allah SWT melihatku dalam keadaan demikian, kemudian Dia merahmatiku. ” Diriwayatkan, bahwa beliau terus menangis sehingga pasir-pasir menempel di kedua mata beliau seraya mengatakan, “Celakalah Umar, celaka juga ibunya, jika Allah SWT tidak memaafkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abu Hurairah sakit yang membawa kematiannya, beliau menangis, lalu ditanya, “Apa yang membuat anda menangis?”. Beliau menjawab, “Aku menangis bukan karena dunia ini, tetapi aku menangisi perjalanan selepas ini (di akhirat), bekalku yang sedikit, padahal aku akan berada di suatu tempat yang menanjak lagi amat panjang, sedangkan aku tidak tahu akan dimasukkan ke neraka atau ke surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman r.a. berkata di akhir hayatnya, “Tidak ada ilah selain Engkau, Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang berbuat aniaya. Ya Allah aku mohon pertolongan dalam semua urusanku, dan aku memohon kesabaran dalam menghadapi ujian yang menimpaku.” Wahai manusia! Kini saatnya orang-orang yang tertidur untuk bangun dari tidurnya, sudah sampai masanya orang yang lalai sadar dari kelalaiannya, sebelum datang maut dengan membawa kepayahan dan kepahitan, sebelum tubuh berhenti bergerak dan sebelum nafas terputus. Sementara belum memasuki perjalanan menuju alam kubur dan kehidupan akhirat yang kekal abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda’ ketika menjelang wafat berkata, “Apakah seseorang tidak mau beramal untuk mempersiapkan pentas perjuangan ini? Mengapa orang tidak beramal untuk menghadapi waktu ini? Mengapa orang tidak beramal untuk menyongsong hariku ini? Kemudian beliau menangis, maka isteri beliau bertanya,”Mengapa engkau menangis, bukankah engkau telah menemani Rasulullah s.a.w.?" Beliau menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis sedangkan aku tidak mengetahui bagaimana dosa-dosa telah menyerangku.” Dan berkata Abu Sulaiman ad-Darani, “Aku berkata kepada Ummu Harun seorang wanita yang rajin beribadah, “Apakah anda senang dengan kematian? Maka dia menjawab, “Tidak!" Aku bertanya, “Mengapa?" Maka dia mejawab, “Demi Allah, andaikan aku berbuat kesalahan kepada makhluk saja, maka aku takut untuk bertemu dengannya, apatah lagi jika aku berbuat maksiat kepada Khaliq Yang Maha Agung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atha’ as Sulami ditanya tatkala sakit yang menyebabkan kematiannya, “Bagaimanakah keadaan anda? Beliau menjawab, “Kematian berada di leherku, kuburan ada di hadapanku, kiamat adalah akhir perjalananku, jambatan Jahannam adalah jalanku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku“. Kemudian beliau menangis dan terus menangis sehingga pingsan. Ketika sadar kembali beliau mengucapkan, “Ya Allah, kasihanilah aku, hilangkanlah kesedihan di dalam kuburku, mudahkan kesulitanku ketika menjelang kematian, rahmatilah kedudukanku di hadapan-Mu wahai Zat Yang Paling Pengasih di antara para pengasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ketika Sulaiman at Taimi telah dekat dengan kematiannya, dikatakan kepada beliau, “Kabar gembira buat anda, karena anda adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Allah.” Maka beliau menjawab, “Janganlah kalian mengatakan demikian, sesungguhnya aku tidak mengetahui apa yang zahir di hadapan Allah Azza wa Jalla, karena Dia telah berfirman, “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah SWT yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. 39:47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan bahwa Abu Darda’ apabila ada seseorang yang meninggal dalam keadaan yang baik, maka beliau berkata, “Berbahagialah engkau, andaikan aku dapat menggantikan dirimu“. Maka Ummu Darda’ bertanya kepadanya tentang hal itu, lalu beliau menjawab, “…. bukankah engkau tahu, bahwa ada seseorang yang pagi harinya dia beriman, namun di petang hari telah menjadi munafik, ia lepaskan keimanannya tanpa dia menyadarinya “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad al Munkadir menangis tatkala menjelang wafatnya, lalu ia ditanya, “Apa yang membuat anda menangis? Beliau menjawab, “Demi Allah SWT aku menangis bukan karena dosa yang aku ketahui telah aku lakukan, namun aku takut jika telah melakukan sesuatu yang aku anggap remeh namun di hadapan Allah SWT ternyata itu adalah sesuatu yang amat besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan ats Tsauri berkata, “Tidak ada tempat yang lebih dahsyat bagiku daripada (tempat) terjadinya sakaratul maut, aku sangat takut kalau dia (sakarat) terus menerus menekanku, aku telah meminta keringanan, namun dia tidak menghiraukan, sehingga aku terkena fitnahnya.” Kemudian beliau menangis semalaman hingga menjelang pagi, ketika beliau ditanya, “Apakah tangisan tersebut karena dosa? Maka beliau mengambil segenggam tanah dan berkata, “Dosa lebih ringan dari pada ini (tanah, maksudnya adalah maut), aku menangis karena takut terhadap su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shofwan bin Sulaim berkata , “Di dalam kematian ada rahah (istirahat) bagi seorang mukmin dari huru hara dan hiruk pikuk dunia, walaupun mesti merasakan putusnya nafas dan kepedihan.” Kemudian beliau mengalirkan air mata. Wahai saudaraku! Marilah kita anggap diri kita masing masing sebagai seorang yang sedang berbaring menunggu ajal. Saudara dan tetangga sedang mengerumuni kita, lalu di antara mereka ada yang berkata, “Si Fulan telah berwasiat, sedangkan hartanya telah dihitung.” Ada lagi yang berkata, “Si fulan sudah tidak dapat berbicara, sudah tidak mengenali para tetangganya dan mulutnya tertutup rapat. Mereka melihat kita, kita mendengar apa yang mereka bicarakan, namun tidak kuasa untuk menjawabnya. Lalu kita lihat anak kita yang masih kecil menangis terisak-isak di sisi kita seraya berkata , “Wahai ayah tercinta siapakah yang akan mengasuhku nanti setelah ayah pergi? Siapakah yang akan memenuhi keperluanku nanti? Kita mendengar semua itu, namun demi Allah, kita sudah tidak mampu manjawab lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafiq bin Ibrahim berkata, “Bersiap-siaplah anda semua di dalam menghadapi kematian, jangan sampai ketika ia datang lalu anda minta dikembalikan lagi ke dunia (karena belum beramal).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al ‘Alla’ bin Ziyad mengatakan juga, “Hendaknya setiap orang dari kalian merasakan, bahwa dirinya telah meninggal, lalu memohon kepada Allah SWT untuk dikembalikan ke dunia, kemudian Allah SWT memenuhinya, maka hendaklah kalian beramal ketaatan kepada Allah SWT.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamith bin ‘Ajlan berkata , “Manusia itu ada dua golongan, pertama orang yang terus mencari bekal di dunia, dan kedua orang yang terus bersenang-senang di dunia. Maka perhatikanlah, dari golongan manakah dirimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan bahwa suatu hari al Hasan al Bashri melewati sekelompok pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak, maka beliau bertanya, “Wahai anak saudaraku, apakah kalian pernah menyeberangi ash Shirath (jambatan Jahannam)? Para pemuda itu menjawab, “Belum.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian tahu ke surga ataukah ke neraka kalian akan dimasukkan?” Mereka menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau berkata, “Lalu mengapa engkau tertawa demikian ? Semoga Allah SWT memberi maaf kepada kalian semua.” Dan ketika beliau menjelang wafat beliau menangis seraya mengatakan, “Jiwa yang lemah, sedang urusan sangat dahsyat dan besar, sesungguhnya kita adalah milik Allah SWT dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku! Kita semua tidak dapat membayangkan bagaimanakah keadaan malam pertama di alam kubur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas r.a. pernah berkata, “Maukah kalian aku beritahu tentang dua hari dan dua malam yang belum pernah diketahui dan didengar oleh manusia (yang masih hidup)? Hari yang pertama adalah hari di mana datang kepadamu pembawa berita dari Allah SWT, baik dengan membawa keridhaan-Nya ataupun murka-Nya (waktu meninggal-pent), dan kedua yaitu hari dimana kalian dihadapkan kepada Allah SWT untuk mengambil buku catatan amal, dengan tangan kiri atau dengan tangan kanan. Sedangkan dua malam, adalah malam pertama kali di dalam kubur dan malam di mana pagi harinya dilenyapkan tatkala terjadinya Hari Kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian adalah perkara yang mengerikan, urusan yang sangat dahsyat, suguhan yang rasanya paling pahit dan tidak disukai. Dia adalah peristiwa yang menghancurkan seluruh kelezatan dunia, memutuskan ketenangan, serta pembawa duka dan kesedihan. Dia memutuskan segala yang telah tersambung, memisahkan anggota badan dan menghancurkan seluruh tubuh, sungguh dia adalah perkara yang sangat dahsyat dan mengerikan. Kita bayangkan bagaimana keadaan kita tatkala kita diangkat dari tempat tidur kita, dibawa ke suatu tempat untuk dimandikan, lalu kita dibungkus dengan kain kafan, keluarga dan tetangga bersedih, saudara dan teman menangis. Orang yang memandikan kita berkata, “Dimanakah isteri si fulan, dia akan melepaskan suaminya pergi, dan dimanakah anak-anak yatim si fulan, Kalian semua akan ditinggalkan oleh ayah, kalian tidak akan bertemu lagi dengannya setelah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para Nabi dan Rasul, shalihin dan muttaqin semuanya mengalami hal itu, maka apakah kita akan terlena dari mengingatnya? Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari artikel Buletin Dar Ibnu Khuzaimah, judul ” ‘Ala Firasyil Maut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7797027546406017275-6283211426790531039?l=subhan-nurdin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://yapinda.wordpress.com' title='Menjelang detik terakhir…'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/feeds/6283211426790531039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/menjelang-detik-terakhir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/6283211426790531039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7797027546406017275/posts/default/6283211426790531039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subhan-nurdin.blogspot.com/2010/01/menjelang-detik-terakhir.html' title='Menjelang detik terakhir…'/><author><name>subhan nurdin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13904236622384390150</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_9YwLwAZwuZ4/SVh0stJ-qfI/AAAAAAAAAAM/QgOcwVo4z6Q/S220/Sfania.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7797027546406017275.post-5212400566948915259</id><published>2009-12-30T13:19:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T13:19:00.757-08:00</updated><title type='text'>SHALAT GERHANA BULAN; ADAKAH ?</title><content type='html'>SHALAT GERHANA BULAN; ADAKAH ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://subhan-nurdin.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan daripada Asma' r.a katanya: Matahari gerhana pada masa Rasulullah s.a.w. Aku datang menemui Aisyah yang ketika itu sedang bersembahyang. Aku bertanya: Kenapa orang ramai melakukan sembahyang؟ Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah langit. Aku bertanya lagi: Tanda kebesaran Allah؟ Dia menjawab: Benar! Rasulullah s.a.w berdiri cukup lama sekali, hingga aku terasa hampir pengsan. Lalu aku mencapai qirbah (satu bekas air) yang ada di sampingku dan aku menuangnya ke kepalaku atau ke wajahku. Apabila Rasulullah s.a.w selesai, matahari telahpun muncul kembali. Kemudian Rasulullah s.a.w berkhutbah kepada kaum muslimin. Baginda memuji Allah dan menyanjungiNya. Lalu bersabda: Apa sahaja yang belum pernah aku lihat, pasti benar-benar aku dapat melihatnya di maqamku ini, biarpun ke Syurga dan Neraka. Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahawa kamu akan menerima cubaan di dalam kubur yang hampir-hampir menyerupai fitnah al-Masih Ad-Dajjal. Aku tidak tahu apakah ia sebenarnya. Asma' lalu berkata: Kamu akan didatangi seseorang dan ditanyakan apakah yang kamu tahu mengenai lelaki ini؟ Adapun orang yang beriman atau orang yang yakin akan menjawab: Aku tidak tahu siapakah dia. Asma' berkata: Katakanlah dia itu Muhammad. Dialah utusan Allah yang membawa bukti-bukti dan petunjuk kepada kami. Lalu kami penuhi dan taati (sebanyak tiga kali). Kemudian dikatakan kepadanya: Benar! Kami memang tahu bahawa engkau beriman kepadanya. Tidurlah baik-baik! Sedangkan orang yang munafik atau ragu-ragu akan menjawab: Aku tidak tahu. Asma' berkata: Aku tidak tahu, cuma aku mendengar orang ramai berkata sesuatu, maka aku turut mengatakannya *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keterangan bahwa ketika gerhana matahari terjadi sehubungan dengan wafatnya Ibrahim, putra Nabi SAW tahun ke10 H, dianggap keliru oleh Ibnu Taimiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hadits-hadits shahih menjelaskan bahwa yang terjadi saat itu adalah GERHANA MATAHARI yaitu pada hari Selasa, 10 Rabi'ul Awwal tahun 10 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hadits bahwa Ibnu Abbas shalat gerhana bulan adalah dla’if (Nailul authar). Ada rawi bernama Ibrahim Bin Muhammad, dla'if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gerhana bulan sering terjadi termasuk pada masa Nabi SAW masih hidup, tapi mengapa tidak ada satupun hadits yang menjelaskan Rasulullah SAW melaksanakan shalat gerhana bulan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Imam Malik &amp; Abu Hanifah berpendapat shalat gerhana bulan dilakukan munfarid di rumah caranya sama dengan shalat sunat biasa 2 raka’at. Alasannya, shalat gerhana termasuk shalat sunat, karena yang ada keterangan berjama’ah di masjid hanya shalat gerhana matahari dan tidak ada keterangan shalat gerhana bulan, maka dikembalikan kepada hokum asal shalat sunat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memahami kalimat FAIDZA ROAITUMUHUMA dengan gerhana matahari dan gerhana bulan perlu dikaji ulang. Menurut penulis, maksud Rasulullah SAW tersebut ialah GERHANA MATAHARI saja. karena ketika terjadi gerhana matahari, KEDUANYA (matahari &amp; bulan) terlihat. Sedangkan ketika terjadi gerhana bulan, matahari tidak terlihat. Juga tidak ada keterangan yang shahih Rasulullah SAW SHALAT GERHANA BULAN padahal dalam ibadah harus ada dalil yang shahih &amp; sharih yang menyatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- "Oleh karena itu, bila kalian melihat keduanya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang. (Muttafaqun ‘alaihi). Kalimat …HATTA YANJALY " (SEHINGGA TERANG)… Menunjukkan shalat berjama'ah pada waktu siang hari yaitu gerhana matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa Maa Taufiqy Illa Billah.&lt;br /&gt;eNHa, 27-08-07&lt;br /&gt;s.NooR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHALAT AYAT (TERMASUK GERHANA BULAN) TIDAK BERJAMA'AH&lt;br /&gt;KECUALI GERHANA MATAHARI TOTAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;معرفة السنن والآثار للبيهقي - (ج 5 / ص 462)&lt;br /&gt;2049 - أخبرنا أبو إسحاق قال : أخبرنا أبو النضر قال : أخبرنا أبو جعفر قال : سمعت المزني ، يقول : قال محمد بن إدريس : « لا أرى أن يجمع صلاة عند شيء من الآيات غير الكسوف ، وقد كانت آيات فما علمنا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بالصلاة عند شيء منها ، ولا أحدا من خلفائه » وقد زلزلت الأرض في عهد عمر بن الخطاب فما علمناه صلى وقد قام خطيبا ، فحض على الصدقة ، وأمر بالتوبة . وأنا أحب ، للناس أن يصلي ، كل رجل منهم منفردا عند الظلمة ، والزلزلة ، وشدة الريح ، والخسف ، وانتثار النجوم ، وغير ذلك من الآيات . وقد روى البصريون ، أن ابن عباس ، صلى بهم في زلزلة . وإنما تركنا ذلك لما وصفنا من أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يأمر بجمع الصلاة إلا عند الكسوف ، وأنه لم يحفظ أن عمر صلى عند الزلزلة . قال أحمد : قد روينا حديث ، عمر وابن عباس في السنن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Bin Idris berkata: "Aku tidak sepakat akan adanya shalat ayat dengan berjama'ah sebagaimana shalat kusuf (gerhana matahari). (dulu) juga terjadi ayat (fenomena alam) namun sepanjang pengetahuan kami Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa sallam tidak memerintahkan untuk shalat atas kejadian tersebut, juga tidak seorangpun dari khulafau rasyidun." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Umar Bin Khattab pernah terjadi gempa, namun kami tidak mendapatkan bahwa beliau shalat, beliau hanya berkhutbah (memberi nashihat) dan menganjurkan untuk bersedekah serta memerintahkan untuk bertaubat. Aku suka jika orang-orang shalat masing-masing dengan munfarid jika terjadi gelap, gempa, angin topan, gerhana bulan, komet (bintang), dan fenomena alam lainnya. Ulama Bashrah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas shalat dengan mereka (berjama'ah) ketika gempa. Namun kami meninggalkannya setelah kami ketahui bahwa Nabi SAW tidak memerintahkan shalat berjama'ah kecuali ketika shalat kusuf (gerhana matahari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil bahwa Umar pernah shalat (berjama'ah) ketika gempa juga tidak terjamin (keshahihannya). Ahmad berkata; kami telah meriwayatkan hadits Umar dan Ibnu Abbas dalam "Sunan"... (Ma'rifat Sunan wal Atsar - Al-Baihaqy V:462)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بداية المبتدي ج: 1 ص: 28&lt;br /&gt;باب صلاة الكسوف إذا انكسفت الشمس صلى الإمام بالناس ركعتين كهيئة النافلة في كل ركعة ركوع واحد ويطول القراءة فيهما ويخفي ثم أبي يجهر ويدعو بعدها حتى تنجلي بهم الإمام الذي يصلي بهم الجمعة فإن لم يحضر صلى الناس فرادى وليس في خسوف القمر جماعة وليس في الكسوف خطبة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نيل الأوطار ج: 4 ص: 23&lt;br /&gt;باب الصلاة لخسوف القمر في جماعة مكررة الركوع عن محمود بن لبيد رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله وأنهما لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتموها كذلك فافزعوا إلى المساجد رواه أحمد وعن الحسن البصري رضي الله عنه قال خسف القمر وابن عباس أمير على البصرة فخرج فصلى بنا ركعتين في كل ركعة ركعتين ثم ركب وقال إنما صليت كما رأيت النبي صلى الله عليه وآله وسلم يصلي رواه الشافعي في مسنده حديث محمود بن لبيد أصله في الصحيحين بدون قوله فافزعوا إلى المساجد وقد أخرج هذه الزيادة أيضا الحاكم وابن حبان وحديث ابن عباس أخرجه الشافعي كما ذكر المصنف عن شيخه إبراهيم بن محمد وهو ضعيف ولا يحتج بمثله وقول الحسن صلى بنا لا يصح قال الحسن لم يكن بالبصرة لما كان ابن عباس بها وقيل إن هذا من تدليساته وأن المراد من قوله صلى بنا أي صلى بأهل البصرة والحديثان يدلان على مشروعية التجميع في خسوف القمر أما الأول فلقوله فيه فإذا رأيتموهما كذلك الخ ولكنه لم الجماعة وأما الحديث الثاني فلقول ابن عباس بعد أن صلى بهم جماعة في خسوف القمر إنما صليت كما رأيت النبي صلى الله عليه وآله وسلم يصلي ولكنه يحتمل أن يكون النبي صلى الله عليه وآله وسلم هو صفتها من الاقتصار في كل ركعة على ركوعين ونحو ذلك لا أنها مفعولة في خصوص ذلك الوقت الذي فعلها فيه لما تقدم من اتحاد القصة وأنه صلى الله عليه وآله وسلم لم يصل الكسوف إلا مرة واحدة ثم موت ولده إبراهيم نعم أخرج الدارقطني من حديث عائشة أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم كان يصلي في كسوف الشمس والقمر أربع ركعات وأخرج أيضا عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم صلى في كسوف القمر ثماني ركعات في أربع سجدات وذكر القمر في الأول مستغرب كما قال الحافظ والثاني في إسناده نظر لأنه من طريق حبيب عن طاوس ولم يسمع منه وقد أخرجه مسلم بدون ذكر القمر وإنما اقتصر المصنف في التبويب على ذكر القمر لأن التجميع في كسوف الشمس معلوم من فعل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما ثبت في الأحاديث وغيرها &lt;br /&gt;الإنصاف للمرداوي ج: 2 ص: 451&lt;br /&gt;وقيل إنه لا يتصور كسوف الشمس إلا في الثامن والعشرين والتاسع والعشرين ولا خسوف القمر إلا في إبداره واختاره الشيخ تقي الدين قال العلماء ورد هذا القول بوقوعه الوقت الذي قالوه فذكر أبو شامة في تاريخه أن القمر خسف ليلة السادس عشر من جمادى الآخرة سنة أربع وخمسين وستمائة وكسفت الشمس في غده والله على كل شيء قدير انتهى وكسفت الشمس يوم مات إبراهيم وهو يوم عاشر من ربيع الأول ذكره القاضي والآمدي والفخر في تلخيصه اتفاقا عن أهل السير قال في الفصول لا يختلف النقل في ذلك نقله الواقدي والزبير بن بكار وأن الفقهاء فرعوا وبنوا على ذلك لو اتفق عيد وكسوف وقال في مجمع البحرين وغيره لا سيما إذا اقتربت الساعة فائدة يستحق العتق في كسوف الشمس نص عليه لأمره عليه أفضل الصلاة والسلام بذلك في الصحيحين قال في المستوعب وغيره يستحب لقادر باب صلاة الاستسقاء &lt;br /&gt;المغني ج: 2 ص: 142&lt;br /&gt;كتاب صلاة الكسوف الكسوف والخسوف شيء واحد وكلاهما قد وردت به الأخبار وجاء القرآن بلفظ الخسوف مسألة قال أبو القاسم وإذا خسفت الشمس أو القمر فزع الناس إلى الصلاة إن أحبوا جماعة وإن أحبوا فرادى صلاة الكسوف ثابتة وعشرون رسول الله صلى الله عليه وسلم على ما سنذكره ولا نعلم بين أهل العلم في مشروعيتها لكسوف الشمس خلافا وأكثر أهل العلم على أنها مشروعة لخسوف القمر فعله ابن عباس وبه قال عطاء والحسن والنخعي والشافعي وإسحاق وقال مالك ليس لكسوف القمر سنة وحكى ابن عبد البر عنه وعن أبي حنيفة أنهما قالا يصلي الناس لخسوف القمر وحدانا ركعتين ركعتين ولا يصلون جماعة لأن في خروجهم إليها مشقة ولنا أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فصلوا متفق عليه فأمر بالصلاة لهما أمرا واحدا وعن ابن عباس أنه صلى بأهل البصرة في خسوف القمر ركعتين وقال إنما صليت لأني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي ولأنه أحد الكسوفين فأشبه كسوف الشمس ويسن فعلها جماعة وفرادى وبهذا قال مالك والشافعي وحكي عن الثوري أنه قال إن صلاها الإمام صلوها معه وإلا فلا تصلوا ولنا قوله عليه الصلاة والسلام فإذا رأيتموها فصلوا ولأنها نافلة فجازت في الانفراد كسائر النوافل وإذا ثبت هذا فإن فعلها في الجماعة أفضل لأن النبي صلى الله عليه وسلم صلاها في جماعة والسنة أن يصليها في المسجد لأن النبي صلى الله عليه وسلم فعلها فيه قالت عائشة خسفت الشمس في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم فخرج إلى المسجد فصف الناس وراءه رواه البخاري ولأن وقت الكسوف يضيق فلو خرج إلى المصلى احتمل التجلي قبل فعلها وتشرع في الحضر والسفر بإذن الإمام وغير إذنه وقال أبو بكر هي كصلاة العيد فيها روايتان ولنا قول النبي صلى الله عليه وسلم فإذا رأيتموها فصلوا ولأنها نافلة أشبهت سائر النوافل وتشرع في حق النساء لأن عائشة وأسماء صلتا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم رواه البخاري ويسن أن ينادي لها الصلاة جامعة لما روي عن عبد الله بن عمر وقال لما كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نودي بالصلاة جامعة متفق عليه ولا يسن لها أذان ولا إقامة لأن النبي صلى الله عليه وسلم صلاها بغير أذان ولا إقامة ولأنها الصلوات الخمس فأشبهت سائر النوافل &lt;br /&gt;حاشية البجيرمي ج: 1 ص: 431&lt;br /&gt;باب في صلاة كسوفي الشمس والقمر وما يطلب فعله لأجلهما مما لا يجوز في غيرهما مع عدم تكرارهما وهي من خصائص هذه الأمة وشرعت صلاة كسوف الشمس في السنة الثانية من الهجرة وصلاة خسوف القمر في جمادي الآخرة من السنة الخامسة على الراجح كما في البرماوي قال بعضهم كان الأولى أن يقول في صلاتي كسوفي الخ قال شيخنا الأولى ما ذكره المصنف فرارا من توالي تثنيتين ولأن التثنية توهم أن لكل من الكسوفين صلاة مستقلة وليس كذلك وكسوف الشمس لا حقيقة له ثم أهل الهيئة فإنها لا تتغير في نفسها وإنما القمر يحول بيننا وبينها وخسوفه له حقيقة فإن ضوأه مكتسب من ضوئها وسببه حيلولة ظل الأرض بينها وبينه بنقطة التقاطع فلا يبقى فيه ضوء البتة كما في شرح م ر قال العلامة أحمد بن العماد في كتابه كشف الأسرار عما خفي عن الأفكار أما ما يقوله المنجمون وأهل الهيئة من أن الشمس إذا صادفت في سيرها القمر حال بيننا وبين ضوئها فباطل لا دليل عليه وذكر أن سبب كسوفها تخويف العباد بحبس ضوئها ليرجعوا إلى الطاعة لأن هذه النعمة إذا حبست لم تنبت زرع ولم يجف ثمر ولم يحصل له نضج وقيل سببه تجلي الله سبحانه وتعالى عليها فإنه ما تجلى لشيء إلا خضع فقد تجلى للجبل فجعله دكا وقيل سببه أن الملائكة تجرها وفي السماء بحر فإذا وقعت فيه حال سيرها استتر ضوءها كما قال الثعالبي ومن خواص الشمس أنها ترطب بدن الإنسان إذا نام فيها وتسخن الماء البارد وتبرد البطيخ الحار وقال الطرطوشي في شرح الرسالة إن مغيب الشمس بابتلاع حوت لها وقيل في عين حمئة بالهمز لقوله تعالى تغرب في عين حمئة أي ذات حما أي طين ويقال قرية حامية بغير همز أي حارة وقيل سبب غروبها أنها ثم وصولها لآخر السماء تطلع من سماء إلى سماء حتى تسجد تحت العرش فتقول يا رب إن قوما يعصونك فيقول الله تعالى ارجعي من حيث جئت فتنزل من سماء إلى سماء&lt;br /&gt;المسند المستخرج على صحيح الإمام مسلم ج: 2 ص: 487&lt;br /&gt;2031 حدثنا سليمان بن أحمد ثنا محمد بن إسحاق بن راهويه ثنا أبي ح وثنا محمد بن حيان ثنا أبو العباس القلانسي ثنا محمد بن مهران الرازي قالا ثنا الوليد بن عبد الرحمن بن نمر أنه سمع ابن شهاب يخبر عن عروة عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم الرجعة في صلاة الكسوف بقراءته وقال الزهري وأخبرني كثير بن العباس عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى أربع ركعات في ركعتين وأربع سجدات لفظ محمد بن مهران رواه مسلم عن محمد بن مهران كسف الشمس ذهاب ضوئها&lt;br /&gt;مجمع الزوائد ج: 2 ص: 206&lt;br /&gt;باب الكسوف عن أبي شريح الخزاعي قال كسفت الشمس في عهد عثمان فصلى بالناس تلك&lt;br /&gt;الصلاة ركعتين وسجد سجدتين في كل ركعة قال ثم انصرف عثمان فدخل داره وجلس عبد الله بن مسعود إلى حجرة عائشة وجلسنا إليه فقال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يأمر بالصلاة ثم كسوف الشمس والقمر فإذا رأيتموه قد أصابهما فافزعوا إلى الصلاة فإنها إن كانت الذي تحذرون كانت وأنتم غفلة وإن لم تكن كنتم قد أصبتم واكتسبتموه رواه أحمد وأبو يعلى والطبراني في الكبير والبزار ورجاله موثقون وعن علي قال كسفت الشمس فصلى علي للناس فقرأ يس ونحوها ثم ركع نحوا من قدر سورة يدعو ويكبر ثم ركع قدر قراءته أيضا ثم قال سمع الله لمن حمده ثم قام أيضا حتى صلى أربع ركعات ثم قال سمع الله لمن حمده ثم سجد ثم قام إلى الركعة الثانية ففعل كفعله في الركعة الأولي ثم جلس يدعو ويرغب حتى انجلت الشمس ثم حدثهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كذلك فعل رواه أحمد ورجاله ثقات وعن محمود بن لبيد قال كسفت الشمس يوم مات إبراهيم بن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا كسفت الشمس لموت إبراهيم ابن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الشمس والقمر آيتان من أيات الله عز وجل ألا وإنهما لا يكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتموهما كذلك فافزعوا إلى المساجد ثم قام فقرأ بعض الذاريات ثم ركع ثم اعتدل ثم سجدا سجدتين ثم قام ففعل كما فعل في الأولي رواه أحمد ورجاله رجال الصحيح وعن ابن عباس قال صليت خلف النبي صلى الله عليه وسلم صلاة الخسوف فلم أسمع منه فيها حرفا قلت له حديث في الصحيح خاليا عن قوله فلم أسمع منه حرفا رواه أحمد وأبو يعلى والطبراني في الأوسط وفيه ابن لهيعة وفيه كلام وعن علي قال انكسفت الشمس فقام علي فركع خمس ركعات وسجد سجدتين ثم قام في الركعة الثانية مثل ذلك ثم قال ما صلاها بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد غيري رواه البزار وقد تقدم حديث على من مسند أحمد ورجاله رجال الصحيح وعن عبد الله بن مسعود قال كسفت الشمس يوم مات إبراهيم فقال النبي صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;إن الشمس والقمر آيتان فذكر نحو الحديث أول الباب رواه البزار والطبراني في الكبير وفيه حبيب بن حسان وهو ضعيف وعن بلال قال كسف الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته ولكنهما آيتان من آيات الله فإذا رأيتم ذلك فصلوا كأحدث صلاة صليتموها رواه البزار والطبراني في الأوسط والكبير وعبد الرحمن بن أبي ليلى لم يدرك بلالا وبقية رجاله ثقات وعن ابن عمر أن الشمس انكسفت لموت عظيم من العظماء فخرج النبي صلى الله عليه وسلم فصلى بالناس فأطال القيام حتى قيل من طول القيام ثم ركع فأطال الركوع حتى قيل لا يرفع من طول الركوع ثم رفع فأطال القيام نحوا من قيامه الأول ثم ركع فأطال الركوع كنحو ركوعه الأول ثم رفع رأسه فسجد ثم فعل في الركعة الآخرة مثل ذلك فكانت أربع ركعات وأربع سجدات ثم أقبل على الناس فقال أيها الناس أن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته ولكنهما آيتان من آيات الله فإذا رأيتموهما فافزعوا إلى الصلاة رواه البزار من طريقين في إحداهما مسلم بن خالد وهو ضعيف وقد وثق وفي الأخري عدي بن الفضل وهو متروك وروى البخاري ومسلم والنسائي منه من رواية قاسم بن محمد عن ابن عمر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الشمس والقمر لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته ولكنهما آية من آيات الله فإذا رأيتموهما فصلوا وعن حذيفة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى ثم كسوف الشمس فقام فكبر ثم قرأ ثم ركع كما قرأتم رفع كما ركع ثم ركع كما قرأ فصنع ذلك أربع ركعات قبل أن يسجد سجدتين ثم قام إلى الثانية فصنع مثل ذلك ولم يقرأ بين الركوع رواه البزار وفيه محمد بن أبي ليلى وفيه كلام وعن سمرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد منكم ولكنهما آيتان من آيات الله يستعتب بهما عبادة لينظر من يخافه ومن يذكره فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله فاذكروه رواه البزار وفيه يوسف بن خالد&lt;br /&gt;السمتى وهو ضعيف وعن ابن عباس قال كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا سحر الشمس فتلا رسول الله صلى الله عليه وسلم اقتربت الساعة وانشق القمر وإن يروا آية يعرضوا ويقولوا سحر مستمر رواه الطبراني في الأوسط وفيه موسى بن زكريا شيخ الطبراني فإن كان هو التستري فقد تكلم فيه الدار قطني وإن كان غيره فلا أعرفه وبقية رجاله رجال الصحيح وعن سمرة بن جندب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول إن الشمس والقمر يخسفان لموت أحد ولا لشي تحدثونه ولكن ذلكم من آيات الله عز وجل يعتبر بها عباده يشكر من يخافه ومن يذكر فإذا رأيتم بعض آيات الله عز وجل فافزعوا إلى ذكر الله فإذ كروه واخشوه وكان صلى لنا يوم خسفت الشمس ثم وعظنا وذكرنا ثم قال ما رأيتم من شيء في الدنيا له لون ولا نبئتم به الجنة ولا في النار إلا قد صور لى في قبل هذا الجدار منذ صليت لكم صلاتي هذه فنظرت إليه مصورا في جدار المسجد رواه الطبراني في الكبير وفيه ضعيف وعن ثعلبة بن عباد العبدي من أهل البصرةقال شهدت يوما خطبة لسمرة بن جندب فذكر في خطبته حديثا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال بينا أنا وغلام من الأنصار نرمى عرضين لنا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إذا كانت الشمس قيد رمحين أو ثلاثة في عين الناظر اسودت حتى اضاءت كأنها مؤمة قال أحدنا لصاحبة انطلق بنا إلى المسجد فوالله ليحدثن شأن هذه الشمس لرسول الله صلى الله عليه وسلم في أمته حدثا قال فدفعنا إلى المسجد فإذا هو يا رز قال ووافقنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حين خرج إلى الناس فاستقدم فقام بنا كأطول ما قام بنا في صلاة قط لا نسمع له صوتا ثم سجد كأطول ما سجد بنا في صلاة قط لا نسمع له صوتا ثم فعل الركعة الثانية مثل ذلك فوافق تجلي الشمس جلوسه في الركعة الثانية قال زهير حسبته فحمد الله عز وجل وأثنى عليه وأشهد أنه عبد الله ورسوله ثم قال أيها الناس أنشدكم بالله إن كنتم تعلمون أني قصرت عن شيء من تبليغ رسالات ربي عز وجل لما أخبر تموني ذاك قال فقام رجال فقالوا نشهد أنك قد&lt;br /&gt;فإن رجالا يزعمون أن كسوف هذه الشمس وكسوف القمر وزوال هذه النجوم عن مطالعها لموت رجال عظماء من أهل الأرض وإنهم قد كذبوا ولكنها آيات من آيات الله عز وجل يعتبر بها عبادة فينظر من يحدث له منهم توبة وإني والله لقد رأيت منذ قمت أصلى ما أنتم لا قوه من أمر دنياكم وآخرتكم وإنه والله لا تقوم الساعة حتى يخرج ثلاثون كذابا آخرهم الأعور الدجال ممسوح العين اليسري كأنها عين أبي يحيا لشيخ حينئذ من الأنصار بينه وبين حجرة عائشة وأنه متى ما يخرج فإنه سوف يزعم أنه الله فمن آمن به وصدقة واتبعه لم ينفعه صالح من عمله سلف ومن كفر به وكذبه لم يعاقب بشيء من عمله وقال حسن بشيء من عمله سلف وإن سيظهر أو قال سوف يظهر على الأرض كلها إلا الحرم وبيت المقدس وأنه يحضر المؤمنون في بيت المقدس فيزلزلوا زلزالا شديدا ثم يهلكه الله تبارك وتعالى حتى أن جذم الحائط أو قال أصل الحائط قال حسن الأشيب وأصل الشجر لتنادي أو قال تقول يا مؤمن أو قال يا مسلم هذا زفر أو قال هذا كافر تعال فاقتله قال ولن يكون ذلك كذلك حتى تروا أمورا يتفاقم شأنها في أنفسكم وتسألون بينكم هل كان نبيكم ذكر لكم منها ذكرا وحتى ينعقد جبال عن مراتبها ثم على أثر ذلك القبض قال ثم شهد خطبة لسمرة ذكر فيها هذا الحديث ما قدم كلمة ولا أخرها عن موضعها قلت في السنن بعضه في الكسوف رواه أحمد والطبراني في الكبير إلا أنه زاد وأنه سيظهر على الأرض كلها إلا الحرم وبيت المقدس وقال أيضا قال الأسود بن قيس وحسبت أنه قال فيصبح فيهم عيسى بن مريم صلى الله عليه وسلم فيهزمه الله وجنوده والباقي بنحوه قال الترمذي فيما رواه منه حديث حسن صحيح وعن عقبة بن عامر قال لما توفي إبراهيم كسفت الشمس فقال الناس كسفت الشمس لموت إبراهيم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى الصلاة رواه الطبراني في الكبير&lt;br /&gt;وسعيد بن أسد بن موسى ذكره ابن حبان في الثقات وبقية رجاله رجال الصحيح وعن ابن عباس قال انكسفت القمر على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فذكر نحو حديث ابن جريج قلت حديثه الذي رواه ابن جريج في كسوف الشمس وهذا في كسوف القمر ولم يتم هذا ولكن أحاله عليه وفي إسناده إبراهيم بن يزيد الخوري وهو متروك وعن موسى بن عبد الرحمن عن أم سفيان أن يهوديه كانت تدخل على عائشة فتحدث عندها فإذا قامت قالت أعاذك الله من عذاب القبر فلما جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم أخبرته بذلك فقال كذبت إنما ذلك لأهل الكتاب فكسفت الشمس فقال أعوذ بالله من عذاب القبر ثم كبر فقام فأطال القيام ثم ركع فأطال الركوع ثم رفع رأسه فقام وأطال القيام ثم ركع فأطال الركوع وهو دون الركوع الأول ثم ركع ركعتين وسجد سجدتين يقول فيهما مثل قيامه ويركع مثل ركوعه رواه الطبراني في الكبير وموسى بن عبد الرحمن هذا التابعي لم أجد من ذكره وبقية رجاله ثقات وعن أبي الدرداء قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كانت ليلة ريح شديدة كان مفزعه إلى المسجد حتى تسكن الريح وإذا حدث في السماء حدث من خسوف شمس أو قمر كان مفزعه إلى الصلاة حتى تنجلي رواه الطبراني في الكبير من رواية زياد بن صخر عن أبي الدرداء ولم أجد من ترجمه وبقية رجاله ثقات والله أعلم&lt;br /&gt;المعجم الكبير ج: 11 ص: 250&lt;br /&gt;11642 حدثنا أحمد بن عمرو البزار ثنا محمد بن يحيى القطعي ثنا محمد بن بكر ثنا بن جريج عن عمرو بن دينار عن عكرمة عن بن عباس قال ثم كسف القمر على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا سحر القمر فنزلت اقتربت الساعة وانشق القمر إلى قوله مستمر&lt;br /&gt;التمهيد لابن عبد البر ج: 22 ص: 246&lt;br /&gt;351 قد مضى معنى الكسوف والخسوف في اللغة فيما تقدم من حديث هشام ومضت معاني صلاة الكسوف في باب زيد بن أسلم وفي هذا الحديث من الفقه أن الشمس إذا كسفت بأقل شيء منها وجبت الصلاة لذلك على سنتها ألا ترى إلى قول أسماء ما للناس فأشارت لها عائشة إلى السماء فلو كان كسوفا بينا ما خفي على أسماء ولا غيرها حتى تحتاج ان يشار إلى السماء وقالت طائفة من أصحابنا وغيرهم 352 إن الشمس لا يصلى لها حتى تسود بالكسوف أو يسود أكثرها لما روى في حديث الكسوف إن الشمس كسف بها وصارت كأنها تنومة أي ذهب ضوؤها واسودت والتنوم نبات أسود وهذا القول ليس بشيء لأن رسول الله ص لم يقل لا يصلى لكسوفها حتى تسود بل صلى 353 لها في كلتا الحالتين وليس في إحداهما ما يدفع الأخرى وليس ما ذكر في الصحة كحديث أسماء وفيه أيضا من الفقه دليل على أن خسوف الشمس يصلي لها في جماعة وهذا المعنى وإن قام دليله من هذا الحديث فقد جاء منصوصا في غيره والحمد لله وهو أمر لا خلاف&lt;br /&gt;باب صلاة الكسوف وذكر عذاب القبر فيها وما عرض للنبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الكسوف عن الجنة والنار يقال : كسفت الشمس والقمر بفتح الكاف وكسفا بضمها وانكسفا وخسفا وخسفا وانخسفا بمعنى . وقيل : كسف الشمس بالكاف , وخسف القمر بالخاء . وحكى القاضي عياض عكسه عن بعض أهل اللغة والمتقدمين , وهو باطل مردود بقول الله تعالى { وخسف القمر } ثم جمهور أهل العلم وغيرهم على أن الخسوف والكسوف يكون لذهاب ضوئهما كله , ويكون لذهاب بعضه . وقال جماعة منهم الإمام الليث بن سعد : الخسوف في الجميع , والكسوف في بعض . وقيل : الخسوف ذهاب لونهما , والكسوف تغيره . واعلم أن صلاة الكسوف رويت على أوجه كثيرة ذكر مسلم منها جملة وأبو داود أخرى , وغيرهما أخرى , وأجمع العلماء على أنها سنة , ومذهب مالك والشافعي وأحمد وجمهور العلماء أنه يسن فعلها جماعة , وقال العراقيون فرادى , وحجة الجمهور الأحاديث الصحيحة في مسلم وغيره , واختلفوا في صفتها فالمشهور في مذهب الشافعي أنها ركعتان في كل ركعة قيامان وقراءتان وركوعان , وأما السجود فسجدتان كغيرهما وسواء تمادى الكسوف أم لا , وبهذا قال مالك والليث وأحمد وأبو ثور وجمهور علماء الحجاز وغيرهم . وقال الكوفيون : هما ركعتان كسائر النوافل عملا بظاهر حديث جابر بن سمرة وأبي بكرة أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى ركعتين , وحجة الجمهور حديث عائشة من رواية عروة وعمرة وحديث جابر وابن عباس وابن عمرو بن العاص أنها ركعتان في كل ركعة ركوعان وسجدتان . قال ابن عبد البر : وهذا أصح ما في هذا الباب . قال : وباقي الروايات المخالفة معللة ضعيفة , وحملوا حديث ابن سمرة بأنه مطلق وهذه الأحاديث تبين المراد به , وذكر مسلم في رواية عن عائشة وعن ابن عباس وعن جابر ركعتين في كل ركعة ثلاث ركعات , ومن رواية ابن عباس وعلي ركعتين في كل ركعة أربع ركعات . قال الحفاظ : الروايات الأول أصح , ورواتها أحفظ وأضبط , وفي رواية لأبي داود من رواية أبي بن كعب ركعتين في كل ركعة خمس ركعات , وقد قال بكل نوع بعض الصحابة , وقال جماعة من أصحابنا الفقهاء المحدثين وجماعة من غيرهم : هذا الاختلاف في الروايات بحسب اختلاف حال الكسوف , ففي بعض الأوقات تأخر انجلاء الكسوف فزاد عدد الركعات , وفي بعضها أسرع الانجلاء فاقتصر , وفي بعضها توسط بين الإسراع والتأخر فتوسط في عدده , واعترض الأولون على هذا بأن تأخر الانجلاء لا يعلم في أول الحال ولا في الركعة الأولى وقد اتفقت الروايات على أن عدد الركوع في الركعتين سواء , وهذا يدل على أنه مقصود في نفسه , منوي من أول الحال . وقال جماعة من العلماء منهم إسحاق بن راهويه وابن جرير وابن المنذر : جرت صلاة الكسوف في أوقات , واختلاف صفاتها محمول على بيان جواز جميع ذلك , فتجوز صلاتها على كل واحد من الأنواع الثابتة , وهذا قوي . والله أعلم . واتفق العلماء على أنه يقرأ الفاتحة في القيام الأول من كل ركعة , واختلفوا في القيام الثاني , فمذهبنا ومذهب مالك وجمهور أصحابه أنه لا تصح الصلاة إلا بقراءتها فيه , وقال محمد بن مسلمة من المالكية : لا يقرأ الفاتحة في القيام الثاني , واتفقوا على أن القيام الثاني والركوع الثاني من الركعة الأولى أقصر من القيام الأول والركوع , وكذا القيام الثاني والركوع الثاني من الركعة الثانية أقصر من الأول منهما من الثانية . واختلفوا في القيام الأول والركوع الأول من الثانية هل هما أقصر من القيام الثاني والركوع الثاني من الركعة الأولى ؟ ويكون هذا معنى قوله في الحديث : ( وهو دون القيام الأول ودون الركوع الأول ) أم يكونان سواء ويكون قوله ( دون القيام والركوع الأول أي أول قيام وأول ركوع . واتفقوا على استحباب إطالة القراءة والركوع فيهما كما جاءت الأحاديث . ولو اقتصر على الفاتحة في كل قيام وأدى طمأنينته في كل ركوع صحت صلاته وفاته الفضيلة . واختلفوا في استحباب إطالة السجود فقال جمهور أصحابنا : لا يطوله بل يقتصر على قدره في سائر الصلوات . وقال المحققون منهم : يستحب إطالته نحو الركوع الذي قبله , وهذا هو المنصوص للشافعي في البويطي , وهو الصحيح للأحاديث الصحيحة الصريحة في ذلك . ويقول في كل رفع من ركوع : سمع الله لمن حمده ثم يقول عقبه : ربنا لك الحمد إلى أخره . والأصح استحباب التعوذ في ابتداء الفاتحة في كل قيام , وقيل : يقتصر عليه في القيام الأول . واختلف العلماء في الخطبة لصلاة الكسوف فقال الشافعي وإسحاق وابن جرير وفقهاء أصحاب الحديث : يستحب بعدها خطبتان , وقال مالك وأبو حنيفة : لا يستحب ذلك . ودليل الشافعي الأحاديث الصحيحة في الصحيحين وغيرهما أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب بعد صلاة الكسوف .syarah muslim&lt;br /&gt;قوله : ( باب الصلاة في كسوف القمر ) أورد فيه حديث أبي بكرة من وجهين مختصرا ومطولا , واعترض عليه بأن المختصر ليس فيه ذكر القمر لا بالتنصيص ولا بالاحتمال , والجواب أنه أراد أن يبين أن المختصر بعض الحديث المطول , وأما المطول فيؤخذ المقصود من قوله " وإذا كان ذلك فصلوا " بعد قوله " أن الشمس والقمر " وقد وقع في بعض طرقه ما هو أصرح من ذلك , فعند ابن حبان من طريق نوح بن قيس عن يونس بن عبيد في هذا الحديث " فإذا رأيتم شيئا من ذلك " وعنده في حديث عبد الله ابن عمرو " فإذا انكسف أحدهما " وقد تقدم حديث أبي مسعود بلفظ " كسوف أيهما انكسف " وفي ذلك رد على من قال لا تندب الجماعة في كسوف القمر , وفرق بوجود المشقة في الليل غالبا دون النهار ووقع عند ابن حبان من وجه آخر أنه صلى الله عليه وسلم صلى في كسوف القمر ولفظه من طريق النضر بن شميل عن أشعث بإسناده في هذا الحديث " صلى في كسوف الشمس والقمر ركعتين مثل صلاتكم " , وأخرجه الدارقطني أيضا , وفي هذا رد على من أطلق كابن رشيد أنه صلى الله عليه وسلم لم يصل فيه , ومنهم من أول قوله " صلى " أي أمر بالصلاة , جمعا بين الروايتين , وقال صاحب الهدى : لم ينقل أنه صلى في كسوف القمر في جماعة , لكن حكى ابن حبان في السيرة له " أن القمر خسف في السنة الخامسة فصلى النبي صلى الله عليه وسلم بأصحابه صلاة الكسوف وكانت أول صلاة كسوف في الإسلام " , وهذا إن ثبت انتفى التأويل المذكور , وقد جزم به مغلطاي في سيرته المختصرة وتبعه شيخنا في نظمها . ( تنبيه ) : حكى ابن التين أنه وقع في رواية الأصيلي في حديث أبي بكرة هذا " انكسف القمر " بدل الشمس , وهذا تغيير لا معنى له , وكأنه عسرت عليه مطابقة الحديث للترجمة فظن أن لفظه مغير فغيره هو إلى ما ظنه صوابا وليس كذلك .syarah al-Bukhari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Gerhana&lt;br /&gt;Kasafa arti asalnya menjadi gelap gulita.&lt;br /&gt;Dalil Shalat Gerhana&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ ح و حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَكَبَّرَ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقَامَ وَلَمْ يَسْجُدْ وَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِيَ أَدْنَى مِنْ الْقِرَاءَةِ الْأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ وَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ أَدْنَى مِنْ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَالَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ هُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَكَانَ يُحَدِّثُ كَثِيرُ بْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ يُحَدِّثُ يَوْمَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ بِمِثْلِ حَدِيثِ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ فَقُلْتُ لِعُرْوَةَ إِنَّ أَخَاكَ يَوْمَ خَسَفَتْ بِالْمَدِينَةِ لَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ مِثْلَ الصُّبْحِ قَالَ أَجَلْ لِأَنَّهُ أَخْطَأَ السُّنَّةَ&lt;br /&gt;Bukhari&lt;br /&gt;قوله : ( فصف الناس ) بالرفع أي اصطفوا , يقال صف القوم إذا صاروا صفا , ويجوز النصب والفاعل محذوف والمراد به النبي صلى الله عليه وسلم . قوله : ( ثم قال في الركعة الآخرة مثل ذلك ) فيه إطلاق القول على الفعل , فقد ذكره من هذا الوجه في الباب الذي يليه بلفظ " ثم فعل " . قوله : ( فأفزعوا ) بفتح الزاي أي التجئوا وتوجهوا , وفيه إشارة إلى المبادرة إلى المأمور به , وأن الالتجاء إلى الله عند المخاوف بالدعاء والاستغفار سبب لمحو ما فرط من العصيان يرجى به زوال المخاوف وأن الذنوب سبب للبلايا والعقوبات العاجلة والآجلة , نسأل الله تعالى رحمته وعفوه وغفرانه . قوله : ( إلى الصلاة ) أي المعهودة الخاصة , وهي التي تقدم فعلها منه صلى الله عليه وسلم قبل الخطبة . ولم يصب من استدل به على مطلق الصلاة . ويستنبط منه أن الجماعة ليست شرطا في صحتها لأن فيه إشعارا بالمبادرة إلى الصلاة والمسارعة إليها , وانتظار الجماعة قد يؤدي إلى فواتها وإلى إخلاء بعض الوقت من الصلاة . قوله : ( وكان يحدث كثير بن عباس ) هو بتقديم الخبر على الاسم , وقد وقع في مسلم من طريق الزبيدي عن الزهري بلفظ " وأخبرني كثير بن العباس " وصرح برفعه , وأخرجه مسلم أيضا والنسائي من طريق عبد الرحمن بن نمر عن الزهري كذلك وساق المتن بلفظ " صلى يوم كسفت الشمس أربع ركعات في ركعتين وأربع سجدات " وطوله الإسماعيلي من هذا الوجه . قوله : ( فقلت لعروة ) هو مقول الزهري أيضا . قوله : ( أن أخاك ) يعني عبد الله بن الزبير , وصرح به المصنف من وجه آخر كما سيأتي في أواخر الكسوف , وللأسماعيلي " فقلت لعروة والله ما فعل ذاك أخوك عبد الله بن الزبير , انخسفت الشمس وهو بالمدينة زمن أراد أن يسير إلى الشام فما صلى إلا مثل الصبح " . قوله : ( قال أجل لأنه أخطأ السنة ) في رواية ابن حبان " فقال أجل , كذلك صنع وأخطأ السنة " واستدال به على أن السنة أن يصلي صلاة الكسوف في كل ركعة ركوعان , وتعقب بأن عروة تابعي وعبد الله صحابي فالأخذ بفعله أولى , وأجيب بأن قول عروة وهو تابعي " السنة كذا " وإن قلنا إنه مرسل على الصحيح لكن قد ذكر عروة مستنده في ذلك وهو خبر عائشة المرفوع , فانتفى عنه احتمال كونه موقوفا أو منقطعا , فيرجح المرفوع على الموقوف , فلذلك حكم على صنيع أخيه بالخطأ , وهو أمر نسبي وإلا فما صنعه عبد الله يتأدى به أصل السنة وإن كان فيه تقصير بالنسبة إلى كمال السنة . ويحتمل أن يكون عبد الله أخطأ السنة عن غير قصد لأنها لم تبلغه , والله أعلم .Fathu&lt;br /&gt;حَدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَأَطَالَ الْقِيَامَ جِدًّا ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ جِدًّا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأَطَالَ الْقِيَامَ جِدًّا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ جِدًّا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ إِنْ مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ * &lt;br /&gt;- حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ فَكَبَّرَ فَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَقَامَ كَمَا هُوَ ثُمَّ قَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً وَهِيَ أَدْنَى مِنْ الْقِرَاءَةِ الْأُولَى ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهِيَ أَدْنَى مِنْ الرَّكْعَةِ الْأُولَى ثُمَّ سَجَدَ سُجُودًا طَوِيلًا ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ سَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ فِي كُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ إِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ &lt;br /&gt;501 حَدِيثُ أَسْمَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ تُصَلِّي فَقُلْتُ مَا شَأْنُ النَّاسِ يُصَلُّونَ فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَقُلْتُ آيَةٌ قَالَتْ نَعَمْ فَأَطَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِيَامَ جِدًّا حَتَّى تَجَلَّانِي الْغَشْيُ فَأَخَذْتُ قِرْبَةً مِنْ مَاءٍ إِلَى جَنْبِي فَجَعَلْتُ أَصُبُّ عَلَى رَأْسِي أَوْ عَلَى وَجْهِي مِنَ الْمَاءِ قَالَتْ فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ رَأَيْتُهُ إِلَّا قَدْ رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ وَإِنَّهُ قَدْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ قَرِيبًا أَوْ مِثْلَ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيُؤْتَى أَحَدُكُمْ فَيُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوِ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَأَطَعْنَا ثَلَاثَ مِرَارٍ فَيُقَالُ لَهُ نَمْ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ إِنَّكَ لَتُؤْمِنُ بِهِ فَنَمْ صَالِحًا وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوِ الْمُرْتَابُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُ *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, ialah terjadinya gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN GERHANA&lt;br /&gt;Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa.1 Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUM SHALAT GERHANA &lt;br /&gt;Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah.2 &lt;br /&gt;Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah.3 Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam  (jika kalian melihat, maka shalatlah -muttafaqun ‘alaih). &lt;br /&gt;Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian biasa saja? Dimanakah rasa takut? &lt;br /&gt;Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah.4 &lt;br /&gt;Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama. &lt;br /&gt;Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu'anhu.5 Dalil mereka:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali. (Muttafqun ‘alaihi). &lt;br /&gt;Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik.6 Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari. &lt;br /&gt;Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan).7 Sebagaimana di dalam hadits disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya. (Muttafaqun ‘alaihi). &lt;br /&gt;Ibnu Qudamah Rahimahullah juga berkata: “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri, namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.8&lt;br /&gt;WAKTU SHALAT GERHANA &lt;br /&gt;Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang. (Muttafaqun ‘alaihi). &lt;br /&gt;KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI? &lt;br /&gt;Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) saat terbit matahari.9 &lt;br /&gt;AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA : &lt;br /&gt;1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi).&lt;br /&gt;2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya. (Muttafaqun ‘alaihi). &lt;br /&gt;3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu'anhuma berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat… (Muttafaqun ‘alaihi). &lt;br /&gt;4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu'anhuma, ia berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri). &lt;br /&gt;5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu'anha berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam , tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri).&lt;br /&gt;TATA CARA SHALAT GERHANA &lt;br /&gt;Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda. &lt;br /&gt;Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu'anhu , ia berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama. (Muttafaqun ‘alaihi). &lt;br /&gt;Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiallahu'anha, ia berkata :&lt;br /&gt;Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam… (Muttafaqun ‘alaihi).&lt;br /&gt;Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam shalat bersama mereka dua raka’at. (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i). &lt;br /&gt;Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad.10 Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata : 11 “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;Ringkasan 
